FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Dua Kasus Keracunan Di Jombang Yang Ditangani Polisi, Belum Ada Perkembangan

Kriminal   Dibaca : 321 kali Jurnalis: Saiful Arief
Dua Kasus Keracunan Di Jombang Yang Ditangani Polisi, Belum Ada Perkembangan
salah satu santri korban keracunan asap fogging saat dilarikan ke RSUD Jombang, Senin (21/11). Foto : R Suhartomo/faktualnews
salah satu santri korban keracunan asap fogging saat dilarikan ke RSUD Jombang, Senin (21/11). Foto : R Suhartomo/faktualnews

salah satu santri korban keracunan asap fogging saat dilarikan ke RSUD Jombang, Senin (21/11).
Foto : R Suhartomo/faktualnews

 

JOMBANG, faktualnews.co – Jumlah kasus keracunan di Kabupaten Jombang dalam kurun waktu setahun, hingga Desember ini ada sekitar empat kasus yang ditangani Dinkes Kabupaten Jombang dan pihak Kepolisian.

“Ada dua kasus keracunan yang masuk penanganan di Polres Jombang. Ke duanya terjadi di lingkungan pondok pesantren,” ujar Kepala Dinkes Jombang, dr Heri Wibowo kepada FaktualNews.co di Jombang, Jumat (16/12/2016).

’’Fogging di Tambakrejo dan makanan di Desa Cukir. Perkembangannya sampai sekarang kami belum tahu. Jadi wewenangnya dari kepolisian, perkembangannya seperti apa kita mengikuti dari sana,’’ ungkapnya.

Empat kasus keracunan itu masing-masing terjadi di Dusun Piyak, Desa Sembung, Kecamatan Perak, hingga 43 korban, Desa Kayen, Bandarkedungmulyo dengan 41 korban dan 43 korban terjadi di Ponpes Mambaul Hikam, Desa Jatirejo, Kecamatan Diwek pada Juni lalu, serta di Ponpes Al-Ikhlas Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang bulan lalu.

“Dengan jenis keracunan yang berbeda, masing-masing tiga makanan yang kita curigai adalah soto ayam dan satu insektisida dugaan racun fogging,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Jombang, dr Heri Wibowo.

Dari uji lab empat kasus tersebut ternyata belum seluruhnya diketahui. Masih ada sisa dua kasus, masing-masing di Desa Sembung, Kecamatan Perak, dan Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang. Dua kasus lainnya sudah diketahui.

’’Hasil sampel yang kita kirim ternyata ke duanya negatif, memang tidak ditemukan. Sebenarnya ada banyak masalah, misalnya sampel yang kita ambil ternyata kurang pas dan lainnya. Sehingga susah untuk dijadikan pembuktian,’’ tegasnya.

Untuk meminimalisir agar kejadian serupa tahun depan tidak terulang, pihaknya sudah mengambil langkah. Di antarnya menggelar sosialisasi ke masyarakat baik pelatihan hingga pendampingan. Termasuk memperketat SOP (Standart Operating Prosedure, Red) untuk fogging.

’’Kalau makanan kursus penjamainan makanan, dan pembuat P-IRT, seperti kampung pecel di Desa Sumbermulyo. Sudah kita lakukan sosialisasi dan pendampingan, sekaligus sampai memiliki sertifikat. Begitu juga di Ponpes Tebuireng, dapur pondok sudah dilakukan pelatihan, dan pendampingan,’’ pungkas Heri. (On/Rep)

Editor
Saiful Arief