BERITA POPULER

FAKTUALNEWS.co

Ludruk Karya Budaya : Laboratorium Hidup

Suara Netizen   Dibaca : 675 kali Jurnalis: FAKTUALNEWS.co
Ludruk Karya Budaya : Laboratorium Hidup
Pertunjukan ludruk karya budaya. FaktualNews.co/Jabar/

Jabbar Abdullah

Oleh: Jabbar Abdullah*

Jika diibaratkan buku, maka ludruk adalah buku yang halamannya tak berbatas. Ia telah bermetamorfosa dalam beragam rupa. Mulai dari terlisankan, tertuliskan, hingga tervisualkan. Barangkali, dalam rupa tulisan ini yang (masih) jarang dilakukan. Jika dirunut ke belakang, sangatlah sedikit dokumentasi ludruk yang berupa tulisan.

Barangkali, karena hal inilah yang menjadikan James L. Peacock ‘turun tangan’ untuk menuliskan. Termasuk juga Barbara Hatley yang rela melakukan perjalanan dari Australia menuju Indonesia untuk meriset ludruk dan ketoprak. Serta, Henricus Supriyanto, ‘doktor ludruk’ yang berbulan-bulan nginthili ikut tobongan Ludruk Kopasgat dan kemudian membukukannya.

Baca Juga:  Setetes Air Mata di Ludruk Pertama dan Seribu Senyum di Ludruk Kedua

Dan, semoga bukan yang terakhir, ada (alm) Fahrudin Nasrulloh (pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang), yang menyerahkan dirinya penuh-seluruh untuk melacak dan menuliskan riwayat ludruk Jombang. Seiring dengan berlangsungnya era percepatan, Ludruk Karya Budaya Mojokerto, sekali lagi, telah membuktikan dirinya untuk terus mau dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi kekinian.

Ludruk Karya Budaya, dalam pandangan subyektif saya, telah menjadi ‘tubuh’ yang adaptif dalam segala cuaca dan memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Hal ini tentu tidak serta merta tercipta. Ludruk Karya Budaya juga melakoni proses perjalanan yang panjang dan juga mengalami keterseokan dalam proses bertahan hidup. Proses ini, tidak dilakukan secara instan dan tidak dengan menghalalkan segala cara. Alias, pokoke urip atau sing penting tanggapan.

Baca Juga:  Tiga Pemuda di Malang Ini Rayakan Lebaran di Tahanan, Lima Buron

Pada era kepemimpinan Cak Bantu Karya, sejak berdiri tahun 1969 hingga tahun 1970-an, bisa dikatakan sebagai masa-masa sulit yang harus dihadapi oleh dia dan ludruknya. Cak Bantu Karya melakukan pembacaan terhadap situasi dan kondisi yang berlangsung saat itu. Ia mencari pintu-pintu kemungkinan yang bisa dimasuki agar ludruk yang dipimpinnya tidak mati. Salah satu strategi yang ditempuhnya adalah dengan cara menyebar telik sandi di beberapa titik kota mempromosikan (nama) ludruknya.

Baca Juga:  Tergerus Zaman, Redupnya Kesenian Tradisional Ludruk yang Melegenda

Upaya ini ternyata cukup manjur. Meskipun tidak banyak, paling tidak upaya ini sudah mampu mendatangkan teropan. Kalau pun tidak ada yang nyanthol, maka nama ludruk Karya Budaya minimal sudah nyanthol di telinga orang-orang yang diberi informasi oleh para telik sandinya. Peran para telik sandi saat itu cukup vital dalam kerangka, meminjam istilah Afrizal Malna, “memberi bunyi” pada data.

Halaman
1 2 3 4 5
Editor
Tags
KOMENTAR