BERITA POPULER

FAKTUALNEWS.co

Cabai Rawit Kering Banyak Dicari Masyarakat Ngawi

Ekonomi   Dibaca : 289 kali Jurnalis: FAKTUALNEWS.co
Cabai Rawit Kering Banyak Dicari Masyarakat Ngawi
Penjual cabai di pasar besar Ngawi, Jawa Timur, Kamis (16/2/2017). FaktualNews.co/Zaenal/

Penjual cabai di pasar besar Ngawi, Jawa Timur, Kamis (16/2/2017). FaktualNews.co/Zaenal/

 

NGAWI, FaktualNews.co – Pedagang pasar tradisional di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, mengeluhkan tingginya harga cabai rawit sejak dua bulan terakhir. Hal ini berdampak pada pendapatan pedagang menjadi berkurang, karena menurunya daya beli masyarakat yang lebih memilih lombok kering sebagai alternatif.

“Kalau saya mengganti dengan lombok kering, dan saya campur dengan cabai rawit. Memang untuk lombok kering jenis cabai rawit harganya lebih murah dijual dengan harga mulai Rp 60 ribu-80 ribu per kilogramnya,” jelas salah satu warga, Ida kepada FaktualNews.co, Kamis (16/2/2017).

Baca Juga:  Terserang Hama Mentek, Petani Cabai di Bojonegoro Terancam Merugi

Sementara itu, salah satu pedagang sayur di pasar besar Ngawi, Atik menjelaskan, pasca kenaikan harga cabai rata-rata per harinya hanya bisa menjual sekitar 30 kilogram cabai rawit padahal sebelumnya mampu menjual ke konsumen tidak kurang 70 kilogram.

Baca Juga:  Harga Cabai Tidak Masuk Akal KPPU Duga Ada Permainan Kartel

BACA JUGA :

[box type=”shadow” ]

[/box]
“Naiknya harga cabai ini secara otomatis berpengaruh pada pembeli dan sekarang bisa dikatakan penurunan mencapai 50 persen lebih dari waktu sebelumnya. Naiknya harga cabai memang dari pemasok yang ada di Pare Kediri sudah naik,” jelasnya.

Baca Juga:  Pasca Lebaran, Harga Cabai Rawit di Bojonegoro Mengalami Kenaikan Rp 5 Ribu per Kg

Atik menambahkan, kenaikan harga cabai mulai dirasakan sejak perayaan Natal dan Tahun Baru 2017. Harga cabai terus merangkat naik sampai saat ini. “Naiknya rata-rata hampir dua kali lipat,” katanya.

Menurut keterangan sejumlah bandar cabai di Pasar Besar Ngawi yang biasa memasok ke sejumlah pengecer di pasar tersebut, akibat pasokan dari petani berkurang baik lokal Ngawi maupun luar daerah seperti Kediri. (nal/rep)

Editor
Tags
KOMENTAR