FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Ini Penjelasan Pakar Reptil, Mengapa Ular Piton bisa Makan Manusia

Nasional     Dibaca : 1387 kali Jurnalis:
Ini Penjelasan Pakar Reptil, Mengapa Ular Piton bisa Makan Manusia
Ilustrasi

Ilustrasi

 

SURABAYA, FaktualNews.co – Pakar Herpetologi (ilmu yang mempelajari reptil dan amfibi), dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan  Institut Pertanian Bogor (IPB) memberikan penjelasan terkait tewasnya Akbar (25), petani sawit asal Desa Salubiro, Kecamatan Korossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Senin (27/3/2017), akibat ditelan ular Piton.

Pakar Herpetologi dari LIPI Djoko Tjahjono Iskandar mengatakan, korban memang tidak tahu jika ada ular disana, karena sifat ular jenis piton ini adalah diam menunggu dan sergap.

Biasanya kejadiannya terjadi setelah Magrib, waktu-waktu satwa buas mencari mangsa. Teknik berburunya yaitu digigit dan langsung dibelit sehingga korban tidak dapat bernafas dan tulang-tulangnya remuk.

“Nah, setelah meninggal baru ditelan pelan-pelan,” ujar Djoko dikutip dari TribunJatim.com, Rabu (29/3/2017) malam.

Selain itu, mangsa-mangsa yang pergerakannya gesit pun kadangkala gagal meloloskan diri jika sudah terjadi serangan. “Monyet, babi, kijang, dan rusa saja bisa tertangkap dan dimangsa, apalagi manusia yang lamban dan kurang awas dengan keadaan sekitar,” tegas Djoko.

Sementara itu, peneliti Herpetologi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Mirza D Kusrini, mengungkapkan, peluang manusia dimakan piton sebenarnya kecil.

“Piton biasanya memangsa hewan seperti babi hutan dan rusa. Tapi, dalam kondisi tertentu, piton memang bisa memangsa manusia. Ada kasusnya tapi tidak banyak,” terangnya, dikutip dari Kompas.com, Rabu (29/3/2017).

BACA JUGA :

Mirza mengatakan piton sebenarnya merupakan hewan yang oportunis, akan memangsa apapun yang mungkin. Dalam kasus Akbar, Mirza menduga, piton tidak berhasil mendapatkan makanan setelah mencari sehingga akhirnya memangsa manusia.

Piton bisa kekurangan mangsa karena hidup di lingkungan kebun sawit di mana keragaman mangsa kurang melimpah. Mangsa piton di kebun sawit kerap diusir karena dianggap hama. Piton sendiri bisa jadi datang ke kebun sawit karena habitat aslinya sudah berkurang dan menjelma menjadi kebun sawit itu sendiri.

Kekurangan mangsa merupakan sebab umum piton memangsa manusia. Tahun 2013, dua orang bocah di Amerika Serikat dimakan oleh piton yang kelaparan.

Piton yang jadi hewan piaraan itu lapar karena baru saja lepas dari kandangnya. Dia lantas masuk ke apartemen dan akhirnya menemukan dua bocah yang sedang tertidur.

Secara anatomi, ukurannya yang besar membuat piton bisa memakan apa pun. Mirza mengungkapkan, piton bahkan bisa memakan aligator, sapi, dan hewan lain yang ukurannya lebih besar dari manusia.

“Seperti ular lainnya, piton itu tidak memiliki rahang. Jadi dia bisa membuka mulutnya selebar apapun dan mengkontraksikan ototnya untuk mendorong mangsa masuk ke saluran pencernaannya,” kata Mirza.

Sekali mendapatkan mangsa, piton bisa diam hingga sebulan lamanya. Sebabnya, piton membutuhkan waktu yang lama untuk mencerna.

“Maka wajar jika di Sulawesi korban ditemukan masih dalam keadaan utuh. Dalam jangka waktu 2-3 hari, mangsa biasanya masih utuh di dalam perut ular,” jelas Mirza.

Untuk menghindari piton, Mirza menyarankan untuk selalu waspada jika ke lapangan, baik ke sawah, kebun, apalagi hutan. “Jangan pernah pergi sendiri saat di hutan. Pastikan selalu berada dalam rombongan jadi ada yang membantu,” katanya.

Piton biasanya berada di atas pohon. Jadi saat berjalan penting juga untuk melihat ke atas, mewaspadai keberadaan piton. Selain itu, penting untuk tidak mengganggu. “Kalau menemukan piton, lebih baik mundur. Jangan malah diganggu,” ungkap Mirza.

Menurutnya, ular pada umumnya merupakan hewan pemalu. Jika manusia menghindar, maka ular tidak akan mengejar seperti singa. (*)

Editor
Saiful Arief
Sumber
TribunJatim.com, Kompas.com