FaktualNews.co

Kisah Pelajar SD di Tapal Batas, Meski dalam Keterbatasan Mereka Tetap Semangat Belajar

Nasional, Pendidikan     Dibaca : 1912 kali Penulis:
Kisah Pelajar SD di Tapal Batas, Meski dalam Keterbatasan Mereka Tetap Semangat Belajar
pelajar di tapal batas 2017 instagram.com/anggitpurwoto

pelajar di tapal batas 2017 instagram.com/anggitpurwoto

 

FaktualNews.co – Meski dalam keterbatasan anak-anak ini masih punya mimpi. Keadaan tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap bersekolah. Meski sampai detik ini perhatian masih sangat minim diberikan.

Seragam bocah-bocah ini lusuh. Warnanya sudah menguning. Tak lagi putih seperti dipakai pelajar di kota-kota besar. Coba tengok ke bawah. Celana sudah tak bisa dikancing. Kaki mereka dekil, hanya sandal butut sebagai pelindung. Boro-boro berpikir beli sepatu.

Sekarang lihat yang mereka tenteng. Hanya kantong kresek. Anak-anak ini tak memiliki tas. Alat tulis, buku pun harus berbagi satu sama lain saat belajar.

Mau tahu bagaimana pelajar ini sampai sekolah? Dengan berjalan kaki. Jarak tempuhnya tentu berbeda-beda. Terjauh ada yang sampai 45 menit. Bayangkan anak sekecil itu harus menembus hutan di pedalaman dengan jalan berbukit. Belum lagi medan berlumpur.

Kisah pilu ini diceritakan oleh seorang guru. Namanya Anggit Purwoto. Sudah tujuh bulan Anggit mengabdi dari satu tahun masa tugas. Dia ikut program Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM3T) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

SDN 04 terletak di Desa Sungkung, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Berbatasan dengan Malaysia. Butuh waktu kurang lebih dua hari dari Bengkayang ke desa dengan jalur darat. Jika cuaca buruk tentu sampainya lebih lama lagi.

pelajar di tapal batas 2017 instagram.com/anggitpurwoto

“Saya sampaikan ke anak-anak untuk fokus belajar jangan pedulikan kondisi. Tetap semangat menatap masa depan. Mereka punya mimpi,” kata Anggit dikutip dari merdeka.com, Minggu (2/4/2017).

Di desa itu ada 4 SD, 1 SMP dan 1 SMA. Semuanya berada dalam satu kompleks. Jaraknya tidak terlalu jauh. Untuk SD jam masuk sekolah pukul 07.00 WIB sampai 11.00 WIB. Kadang banyak siswa sampai di sekolah sudah kelelahan.

Anggit sendiri sebenarnya ditugaskan mengajar di SMA bersama dua rekannya. Dua lainnya di SMP. Tak ada guru tetap di sana. Sering kali kelas kosong. Biasanya, kata Anggit, kebanyakan guru mengajar selama dua minggu dalam sebulan. Sisanya libur. Kondisinya ini tak dipersoalkan karena rata-rata guru dari kota dan sudah berkeluarga.

“Makanya saya berinisiatif, sukarela mengajar di SD,” kata jebolan Universitas Muhammadiyah Purwokerto itu. Pria 23 tahun ini mengajar IPA, menulis, baca, hitung dan bernyanyi.

Menurut Anggit, tak hanya siswa, kondisi bangunan sekolah juga memprihatinkan. Namun yang paling dibutuhkan adalah seragam layak dan alat tulis. Total ada 135 pelajar, 59 laki dan 66 perempuan.

“Kondisinya sangat membutuhkan. Ketika pelajaran tidak punya pensil karena kebutuhan pokok mahal,” ungkapnya.

Waktu belajar siswa juga terbatas. Ketika langit gelap sudah tak ada lagi penerangan. Listrik belum masuk. Panel surya menjadi solusi. Tapi tidak bisa menjangkau seluruh kebutuhan.

"Pak Jokowi Minta Tas" Dengan suara lirihnya, mereka berkata "Pak Jokowi Minta Tas" Tidakah kalian merasa kasihan…masih adakah hati nurani kalian… Mereka hanya minta tas, untuk membawa buku,buku yang mungkin bertuliskan mimpi-mimpi kecil mereka, agar mimpi yg mereka tuliskan tidak hancur , hancur terkena lumpur atau koyak kena hujan…. Tidakkah kalian iba….ilmu yg kau dapat di bangku perkuliahan adalah hak mereka!!!!..gaji yg kau dapat adalah hak mereka… Tidakkah kalian iba, melihat baju kotor mereka…berjam-jam jalan melewati jalan lumpur… Tidakkah kalian iba ketika perjuangan mereka, mimpi mereka terhapus sia-sia oleh kejamnya negeri perbatasan… Dengarlah suara lirih mereka Pak….. #jokowi #jokowipresiden #pendidikan #tapalbatas #jokowidodo #sm3tinspirasiindonesia #sm3t #presidenindonesia

A post shared by Anggit Purwoto (@anggitpurwoto) on

Dia berharap pemerintah daerah sampai pusat tergerak. Anak-anak ini adalah generasi penerus bangsa. Mereka punya hak untuk memperoleh pendidikan layak.

“Perhatikan pendidikan di pedalaman. Ibaratnya ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ benar ada. Tidak hanya di satu pulau saja,” harap Anggit. (*)

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
S. Ipul
Sumber
Merdeka.com

YUK BACA

Loading...