FaktualNews.co

Mendikbud Tinjau UN Kejar Paket C di Lapas Lowokwaru Malang

Pendidikan     Dibaca : 1426 kali Penulis:
Mendikbud Tinjau UN Kejar Paket C di Lapas Lowokwaru Malang
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi.FaktualNews/Internet.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi.FaktualNews/Internet.

MALANG, FaktualNews.co – Kendati berada di bali jeruji penjara namun tak menyurutkan mereka menyelesaikan pendidikannya. Sebanyak, enam warga mengikuti ujian nasional (UN) paket C di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Lowokwaru Kota Malang.

Hal itu disampaikan Zubaidah, Kadindik Kota Malang saat menerima kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy di SMPN 5 Kota Malang. Kedatangan Muhadjir ini untuk melihat kegiatan UNBK paket C, Minggu (16/4/2017).

Ucapan KFM
iklan Walikota Pasuruan
iklan RSUD Mojokerto
iklan satlantas jember
iklan-hari-kartini-jember
iklan Ucapan Jember HIPMI
iklan Ucapan Jember BPJS
iklan Ucapan Jember Demokrat
iklan Ucapan Jember

“Untuk itu, soalnya dikirim ke Lapas. Sebenarnya Dindik Kota Malang sudah berusaha jemput bola. Namun mungkin yang dipikirkan masalah keamanan,” kata Prof Dr Muhadjir Effendy.

BACA JUGA

[box type=”shadow” ]

[/box]

Sementara itu jumlah warga belajar yang mengikuti paket C ada 626 orang. Dari jumlah tersebut, tidak sepenuhnya hadir dan mengikuti proses akhir kegiatan belajar mengajar bagi mereka yang tak mampu menyelesaikan sesuai dengan waktu yang ditentukan.

“Namun ada juga yang tidak hadir,” tambah Suyitno, Kabid Paud dan Pendidikan Informal Dindik Kota Malang. Dari PKBM Kartini yang melaksanakan UNBK di SMPN 5 ada 20 orang yang tak hadir sejak hari pertama UNBK pada Sabtu (15/4/2017).

“Kalau hari pertama tidak masuk biasanya tidak akan hadir terus. Kendala tiap pelaksanaan ujian yang dihadapi PKBM adalah ketidakhadiran peserta,” tambahnya.

Dari 20 orang itu, 10 orang sudah didatangi di rumahnya. Namun ternyata sudah ada yang keluar pulau seperti Bali dan Batam. Sedang 10 orang lainnya sulit terdeteksi dan tidak bisa dihubungi.

“Sebagai penyelenggara, biasanya menjelang unas, kami door to door untuk bisa mengetahui apakah bisa ikut ujian atau tidak,” ungkap Ketua PKBM Kartini Puswinaryatini.

Jika misalkan kendalanya karena ujian karena harus mengenakan baju hitam putih, maka PKBM meminjamkan baju seragam inventaris. Namun kadang kendalanya soal jam bekerja karena terkena jadwal shift. Misalkan yang bekerja sebagai satpam.(tribunnews/ivi)

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Z Arivin
Tags

YUK BACA

Loading...