Gaya Hidup

Drone Digunakan Cegah Serangan Hiu

Istimewa

Sydney, FaktualNews.co – Penggunaan pesawat ringan maupun drone kini diharapkan mengurangi jumlah serangan hiu mematikan di perairan Australia Barat. Itu setelah peringatan adanya bahaya ikan hiu yang terjadi di daerah tersebut.

Perdebatan mengenai upaya memitigasi serangan hiu telah menimbulkan polarisasi di masyarakat setempat. Bahkan, telah dipolitisir sejak insiden serangan hiu yang menewaskan peselancar remaja berusia 17 tahun, Laeticia Brouwer di dekat Kota Esperance, Australia Barat beberapa waktu lalu.

Pemerintah Federal dari Partai Liberal memanfaatkan isu tersebut dengan menawarkan penerapan kebijakan menangkap dan membunuh ikan hiu. Sementara Pemerintah Partai Buruh di Australia Barat yang baru terpilih menolak membatalkan kebijakan mereka yang anti-penangkapan.

Sementara di kalangan masyarakat sikapnya tetap terbagi menjadi beberapa kelompok. Para perenang yang ketakutan dan peselancar serta penyelam berbeda sikap apakah membunuh lebih banyak ikan hiu merupakan cara terbaik mengurangi risiko.

Peter Sprivulis, seorang dokter yang berbasis di Perth dan profesor kedokteran darurat di University of WA, mengaku turut merasa resah dengan terus bertambahnya serangan hiu pasca rentetan tujuh serangan fatal dalam tiga tahun terakhir sejak 2011 lalu.

Dari analisisnya, Profesor Sprivulis mampu secara cermat memprediksi bahwa Australia Barat akan mengalami dua serangan ikan hiu setiap tahun antara tahun 2014 dan 2018.

Laeticia Brouwer meninggal setelah diserang oleh diduga hiu putih di Kelp Beds.

Supplied: Police

Dan seiring berjalannya waktu sejak laporan penelitiannya dipublikasikan, prediksinya tersebut ironisnya ternyata akurat. Tercatat terjadi 4 serangan fatal dalam dua tahun.

“Ironisnya, prediksi itu benar. Saya benar-benar merasa kalau hal itu merupakan kondisi dari sikap tidak mengacuhkan risiko serangan ikan hiu,” katanya seperti dilansir dari detik.com, Senin (24/4/2017).

Profesor Sprivulis mampu melihat kondisi dan lokasi risiko yang dia yakini bisa memperingatkan orang-orang akan bahaya tersebut.

“Jika Anda melakukan sesuatu di perairan dalam, di dalam air yang bersuhu sejuk, di dekat sumber makanan untuk hiu putih, Anda melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada berenang santai di pantai pada cuaca hangat di Perth pada musim panas,” katanya.

Kesimpulannya ini, dipublikasikan dalam tulisan ilmiah tahun 2014, yang melacak serangan ikan hiu dalam upaya membangun profil risiko berbasis bukti di sepanjang pesisir Australia Barat.

Mengevaluasi risiko serangan ikan hiu

Profesor Sprivulis tidak dapat menentukan kapan dan dimana tepatnya serangan ikan hiu akan terjadi, tapi menurutnya dia dapat secara meyakinkan memprediksi kapan dan dimana serangan ini kemungkinan besar akan terjadi.

Dia mendapati kalau suhu air, kedalaman perairan dan jarak dari pantai merupakan faktor yang penting.

Orang yang berenang di perairan yang dangkal, perairan dengan suhu air yang hangat dan dekat dengan pantai kurang dari 25 meter menghadapi risiko yang lebih kecil berhadapan dengan ikan hiu.

Namun jika anda merupakan seorang penyelam atau peselancar di perairan bersuhu dingin dan berjarak lebih dari 25 meter dari bibir pantai atau di perairan dengan kedalaman lebih dari 5 meter, risiko serangan ikan hiu meningkat secara dramatis.

Risiko ini juga berubah terkait faktor lokasi dan musim, dimana serangan kemungkinan lebih besar terjadi di pesisir selatan dan barat daya Australia Barat di musim dingin dan musim semi bertepatan dengan migrasi berkembangnya populasi ikan paus bungkuk.

“Ada kaitan kuat yang bersifat musiman antara insiden serangan ikan hiu mematikan dari jenis ikan paus putih dengan migrasi ikan paus bungkuk di sepanjang pesisir di Australia Barat selama musim dingin dan musim semi,” katanya.

Profesor Sprivulis mengatakan pencegahan serangan individual mungkin bergantung pada evolusi peralatan peranti pribadi yang sangat efektif untuk mencegah hiu.

Perangkat elektronik dapat dipasangkan di papan selancar sebagai upaya untuk mengusir hiu.

ABC News: Garrett Mundy

Namun dia meyakini orang-orang harus diberikan informasi yang jelas mengenai risiko serangan ikan hiu di daerah-daerah tertentu, sama dengan peringatan bahaya kebakaran lahan bagi publik di selama berlangsungnya hari-hari berisiko tinggi terjadinya kebakaran.

Tidak ada data populasi ikan hiu putih

Seiring dengan meningkatnya perdebatan mengenai mitigasi serangan ikan hiu sepanjang pekan ini, namun retorika politik yang terjadi mencatat adanya kesenjangan data yang besar mengenai data jumlah ikan hiu putih.

Menteri Lingkungan Federal, Josh Frydenburg mengklaim orang buta saja bisa melihat jumlah ikan hiu putih di pesisir Australia Barat telah meningkat.

Namun apapun persepsinya, data keras dalam penelitian yang berhasil dilakukan tidak menyediakan kesimpulan perkiraan populasi ikan hiu putih di perairan di Australia barat atau apakan populasi itu meningkat, menurun atau tetap stabil.

“Apa yang kita ketahui adalah tidak dikenal yang namanya ikan hiu putih Australia barat,” kata Profesor Sprivulis.

“Kita tahu kalau ikan hiu putih bermigrasi dalam jarak yang sangat jauh. Ikan hiu kita muncul di Afrika Selatan, di Australia Selatan dan di luar perairan pesisir Tasmania. Saya memiliki pemikiran kalau kita mungkin berusaha membinasakan apa yang sebenarnya adalah spesies global, ketimbang sebuah isu lokal, sesuatu yang tidak masuk akal,”

Bukan memprioritaskan ikan hiu

Sementara itu peneliti kelautan dari University of Western Australia, Jessica Meeuwig meyakini kalau kira masih tahu sedikit saja mengenai ukuran, lokasi dan perilaku dari ikan hiu putih dan karena hal itu juga kebijakan membinasakan ikan hiu bukan hanya tidak bertanggung jawab, tapi program kebijakan seperti itu juga hanya akan membuang uang saja dalam tindakan yang tidak akan menyelamatkan nyawa.

Menurut Profesor Meeuwig kebijakan drum pembatas yang ditawarkan pemerintahan Barnett tidak berhasil menangkap ikan hiu putih dan tidak mengurangi risiko serangan.

“Kita tidak belajar apapun dari kebijakan ini kecuali kita sangat pandai menangkap ikan hiu macan,” katanya.

“Ini bukan persoalan memprioritaskan ikan hiu dari manusia. Saya tidak tahu dengan kolega saya yang lain yang bersedia mengatakan seperti itu. Tapi ini soal menjadikan investasi yang anda lakukan secara bijaksana, dan metode dengan kekerasan tidak akan membuat orang lebih aman.”

Profesor Meeuwig mengatakan perlu lebih banyak dilakukan penelitian termasuk dimulainya kembali program penandaan ikan hiu agar bisa secara hati-hati menentukan area dan periode waktu dari risiko serangan ikan hiu.

Namun menurutnya tantangan terbesarnya adalah menemukan cara untuk menyediakan pemantauan dan peringatan real-time di lokasi terpencil seperti di barat daya dan pantai selatan Australia Barat.

Kapal selam nirawak bawah laut yang saat ini digunakan untuk melakukan pemetaan dasar laut bisa dilengkapi dengan teknologi deteksi dan peringatan ikan hiu, katanya.

“Anda bisa mendirikan patroli bawah air, misalnya,” katanya.

Dia mengatakan bahwa pesawat nirawak yang diluncurkan di sepanjang pantai regional juga menawarkan cara pemantauan yang berpotensi secara anggaran efektif di daerah terpencil.

“Perairan di sekitar Esperance begitu jernih sehingga Anda tidak akan kesulitan dalam mengidentifikasi ikan hiu dengan latar belakang perairan yang berwarna biru dan putih tersebut,” kata Profesor Meeuwig.

Pesawat tanpa awak ‘mini ripper’ lepas landas untuk berpatroli di mercusuar Ballina pasca serangan hiu yang terjadi baru-baru ini.

ABC North Coast: Samantha Turnbull

Sementara perdebatan mengenai mitigasi hiu berlanjut, Profesor Sprivulis mengikuti saran dari penelitiannya sendiri, menikmati lautan pada hari-hari dan dengan cara-cara yang membuat konfrontasi tidak bersahabat dengan hiu putih paling tidak mungkin terjadi.

“Saya tidak pernah melakukan apapun di perairan yang dalam, bersuhu dingin dan pada waktu-waktu dalam setahun dimana ada banyak mangsa untuk ikan hiu putih,” tegasnya.

“Menurut saya itu bukan kegiatan yang bijaksana untuk dilakukan.” (*/oza)