FaktualNews.co

Potret Cikal Bakal Desa Wage Sidoarjo dan Makam Keturunan Raja Majapahit

Religi     Dibaca : 7042 kali Penulis:
Potret Cikal Bakal Desa Wage Sidoarjo dan Makam Keturunan Raja Majapahit
Kepala Desa Wage Bambang Heryanto (kanan) dan Juru kunci Seken (kiri).

Peziarah sedang berdoa di makam Mbah Ratu Ayu di Desa Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo, Jawa Timur.FaktualNews/Nanang Ichwan

SIDOARJO, FaktualNews.co – Keberadaan makam Mbah Ratu Ayu berlokasi di Dusun Sritanjung, Desa Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dihormati bagi warga setempat.

Disebut-sebut, keberadaan makam yang sudah ada hampir 1000 tahun itu yang menjadi cikal bakal berdirinya Desa Wage. Bangunan makam berbentuk cungkup berukuran sekitar 5×5 meter hampir setiap hari dipenuhi peziarah. Mayoritas mereka yang datang merupakan kaum hawa.

“Peziarah ada yang dari Jogja sampai nginap disini 2 minggu. Kapan hari dari Jember dan yang banyak wilayah Mojokerto, termasuk warga sini,” kata Samad, keamanan yang menjaga makam tersebut, Senin (15/5/2017).

BACA JUGA

[box type=”shadow” ]

[/box]

Makam yang memiliki halaman lebih luas dan terdapat bangunan mirip pendopo di era kerjaan Majapahit itu juga menyimpan banyak cerita. Menurut Samad, pengalamannya selama menjaga makam ini, banyak kejadian diluar logika yang menimpa para peziarah. Utamanya mereka yang memiliki niat jelek ketika masuk ke makam.

“Pernah ada peziarah linglung mondar mandir didepan pintu gerbang, setelah saya tanyai dia berniat jelek kesini. Banyaklah kejadian aneh kalau orang punya niat jelek, makanya kalo kesini harus niatnya baik, Lillahi Ta’ala,” ungkap pria yang juga Anggota Polresta Sidoarjo itu.

Selain itu, sudah menjadi tadisi puluhan tahun lamanya makam Mbah Ratu Ayu, dijadikan tempat ruwat desa. Tak pelak, acara ruwat desa yang diadakan setahun sekali tepatnya pada bulan Ruwah (bulan jawa red), warga membuat ratusan tumpeng dengan lauk kepiting dan bandeng.

“Itu semua (tumpeng red) merupakan partisipasi masyarakat. Kalau jumlah tumpeng tahun ini mencapai 270,” kata Kepala Desa Wage Bambang Heryanto.

Menurut Bambang, acara ruwatan desa ini selalu di tempatkan di Makam mbah Ratu Ayu karena merupakan Punden di desa setempat. “Tujuannya untuk mendoakan dan mengenang yang babat deso ini,” jelasnya.

Sementara itu, Seken, juru kunci makam mengatakan mbah Ratu Ayu atau yang akrab disapa mbah Waliyuna wafat sekitar tahun 1010 masehi. “Sektar tahun segitu, memang masih simpang siur untuk tahunnya. Namun, beliau ini keturunan kerajaan Majapahit,” ujarnya.

Pria yang kini berusia 62 tahun itu menceritakan, menurut sejarah mbah Ratu Ayu sangatlah penting dan berjasa dalam sejarah babat dan menamakan Desa Wage.

“Saat membabat dulu, beliau membuat perjanjian dengan Desa Legi, Bangah dan Boar. Beliau hanya melempar abu ke langit, maka jatuhnya abu itu perbatasan desa, sampai saat ini, beliau menurut saya termasuk Waliyullah,” pungkasnya.(nang/ivi)

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Z Arivin