Iklan Bank Jatim FaktualNews
FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Jelang HUT Kemerdekaan, Perajin Bendera di Kota Mojokerto ‘Banjir’ Pesanan

Ekonomi     Dibaca : 888 kali Jurnalis:
Jelang HUT Kemerdekaan, Perajin Bendera di Kota Mojokerto ‘Banjir’ Pesanan
Seorang pengrajin bendera kebajiran order jelang peringatan kemerdekaan.FaktualNews/Khilmi S Jane

MOJOKERTO, FaktualNews.co – Bendera merah putih merupakan aksesoris yang hampir tak pernah ketinggalan saat peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia. Mulai dari bendera yang berukuran kecil hingga besar, akan terpasang di rumah-rumah warga, bahkan tidak jarang di jalanan kampung dan jalan utama akan dihiasi dengan bendera merah putih.

Meningkatnya minat masyarakat untuk membeli bendera merah putih untuk mengiasi rumah mereka saat HUT RI membuat perajin bendera kebanjiran order. Hal tersebut seperti yang dialami perajin bendera di Kota Mojokerto. Sejak empat bulan lalu, perajin ‘banjir’ pesanan.

Suboko, (60) warga Balongsari, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Jawa Timur, ini sudah menekuni bisnis sebagai perajin bendera merah putih sejak tahun 2002 silam. Tidak hanya bendera merah putih dengan model seperti pada umumnya, pihaknya juga menyediakan berbagai model umbul-umbul.

“Sejak akhir April lalu, kami mulai mendapat banyak pesanan. Kami tidak pernah stok barang jadi. Saat ada orang yang pesan ke kami, baru kami buatkan bendera sesuai permintaan para pemesan. Jadi kami hanya stok bahan baku saja berupa kain,” ungkapnya saat ditemui FaktualNews.co, Kamis, (3/8/2017).

Tidak jarang, Suboko sering kali mengerjakan pesanan bendera tersebut hingga lembur. Beruntung, usaha keluarga yang dirintisnya selama 15 tahun ini dijalankan oleh keluarganya sendiri. Suboko mengaku, dalam menjalani usaha tersebut, pihaknya tidak memiliki karyawan. “Tidak ada karyawan, yang bikin bendera keluarga sendiri,” ucapnya.

Laki-laki empat anak ini dalam menjalankan bisnisnya juga dibantu anak dan istrinya. “Saya dibantu anak saya, Yanti, (35) ini anak nomor dua. Kemudian juga dibantu Leo Catur, (33) anak ketiga saya. Mereka membantu saya karena tinggalnya dekat dengan saya. Rumahnya ada di belakang rumah saya,” tuturnya.

Berbagai ukuran umbul-umbul yang berbagai model itu dibuatnya di rumah pribadinya. Ia membuat umbul-umbul yang disebutnya model umbul-umbul karet, umbul-umbul wiru besar dengan logo garuda. Selain itu, ia juga membuat umbul-umbul wiru besar warna merah putih. “Kalau ini dijual per meter,” tambahnya.

Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp 20 ribu, Rp 40 ribu, itu untuk umbul-umbul jadi yang biasa dipasang menggunakan batang bambu atau pipa panjang. Selain itu, umbul-umbul jenis wiru besar ini dijual dengan ukuran sesuai permintaan pemesan. Untuk umbul-umbul wiru besar, Suboko biasanya menjualnya dengan harga mulai dari Rp 150 ribu per meter.

“Kalau model umbul-umbul yang paling banyak diminati oleh pembeli, ya umbul-umbul yang ada motif garudanya. Baik itu umbul-umbul biasa ataupun umbul-umbul wiru besar. Kami punya ciri khas, bendera kami, kalau ada gambar garuda, itu gambarnya besar,” jelasnya.

Selain gambar garuda, pihaknya juga menjual umbul-umbul dengan gambar logo Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto. Tidak hanya umbul-umbul warna merah putih saja yang dilengkapi dengan logo Pemkot Mojokerto, tidak jarang pihaknya juga mendapat pesanan membuat bendera warna oranye kombinasi putih dengan dilengkapi logo Pemkot Mojokerto.

Untuk membuat bendera tersebut, Suboko menggunakan kain jenis peles. Kain jenis ini dianggap lebih tahan lama saat kena hujan dan terik matahari. “Kalau kain ini, biasanya enam bulan itu masih tahan. Itu setiap hari kena panas dan hujan. Kalau bendera lainnya, biasanya dua minggu warnanya sudah pudar,” bebernya.

Masih kata Suboko, untuk memasarkan produknya, ia tidak pernah menggunakan jasa penjualan online. “Hanya dari mulut ke mulut saja pemasarannya. Maka dari itu, hingga sekarang saya sangat menjaga kualitas produk saya,” katanya.

Sebelum menekuni bisnis tersebut, dulunya Suboko hanya seorang penjual baju jadi di Pasar Kliwon, Kota Mojokerto. Suboko mengaku, saat itu pihaknya sempat kolaps hingga akhirnya pergi ke Malang. “Saya baru balik pulang ke Mojokerto ya setelah orang tua meninggal. Mulai saat itu saya mulai merintis usaha ini,” ulasnya.

Saat ini, Suboko mampu meraup untung penuh selama menekuni bisnis perajin bendera. Per bulannya, ratusan juta rupiah ia kantongi dari hasil penjualan bendera yang biasa dijual hingga luar wilayah Mojokerto. “Biasanya ada yang ambil orang Jombang, Malang juga biasanya ambil barang di sini,” tambahnya.

Kata Suboko, prediksinya, pesanan bendera ini akan terus meningkat pada bulan Agustus kali ini. Menurutnya, hingga pada tanggal 14 Agustus mendatang, pesanan bendera yang ia terima masih banyak. “Selain bulan Agustus, kalau waktu hari jadi Kabupaten Mojokerto juga biasanya pesan umbul-umbul di sini,” pungkasnya.

Editor
Z Arivin