FaktualNews.co

Hari Jadi Kabupaten Trenggalek

Garuda Kencana Keraton Solo Siap ‘Membawa’ Bupati Emil

Gaya Hidup     Dibaca : 1678 kali Penulis:
Garuda Kencana Keraton Solo Siap ‘Membawa’ Bupati Emil
FaktualNews.co/Jaohar Satya Wibawa/
Empu Agus mengitari Kereta Kyai Garuda Kencana sembari menyalakan dupa.

TRENGGALEK, FaktualNews.co – Kirab pusaka Trenggalek pada Hari Jadi yang ke-823 Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, akan sangat kental dengan Budaya Jawa.

Kereta Kyai Garuda Kencana dari Keraton Solo yang pernah mengarak Presiden RI Joko Widodo akan mengiringi jalannya kirab pada hari Kamis (31/8/2017) ini.

Kereta kencana yang khusus didatangkan dari Solo itu akan dinaiki oleh Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak, beserta istri.

Untuk menuju kirab, Kyai Garuda Kencana melalui prosesi penjamasan yang digelar di depan Pendhapa Trenggalek. Prosesi penjamasan yang berlangsung sejak pukul 23.30 WIB terkesan sangat sakral.

Para empu melangsungkan penjamasan dengan ritual yang syarat dengan budaya Jawa, Rabu, 30 Agustus 2017. Jamasan Kyai Garuda Kencana diawali dengan doa oleh para empu dengan membakar dupa sebagai wewangian.

Dupa yang sebelumnya dipergunakan untuk berdoa dibawa mengelilingi kereta sebanyak tujuh kali. Dalam proses mengelilingi, sang empu mengharuskan diri menempatkan kereta di sebelah kanannya.

Selepas prosesi doa, sang empu baru melakukan prosesi penjamasan. Penjamasan dilakukan dengan menggunakan air yang ditambah dengan bunga melati.

Penjamasan difokuskan pada roda dan pijakan kereta. Selanjutnya, Kereta Kyai Garuda Kencana diberikan hiasan dengan aneka bunga.

hari jadi trenggalek

Empu agus melaksanakan jamasan kyai garuda kencana

Empu Agus mengungkapkan, prosesi jamasan Kyai Garuda Kencana mengandung banyak doa yang terkandung di dalamnya. Semua dilakukan dengan perhitungan dan tata urutan yang cermat.

“Garuda Kencana ini memiliki simbolisasi doa agar dalam kepemimpinan yang mengendarai selalu diberikan keselamatan. Serta tidak lupa untuk minta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa seperti prosesi mengitari kereta sebanyak tujuh kali,” terangnya.

“Kalau dalam bahasa Jawa tujuh adalah pitu yang memiliki kepanjangan dari pitulungan atau pertolongan,” tambah Empu Agus, menjelaskan.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Muhammad Syafi'i