ucapan idul fitri pemkab jombang
FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Menlu Inggris Desak Aung San Suu Kyi Akhiri Kekerasan Terhadap Muslim Rohingya

Internasional     Dibaca : 763 kali Jurnalis:
Menlu Inggris Desak Aung San Suu Kyi Akhiri Kekerasan Terhadap Muslim Rohingya
FaktualNews.co/Istimewa/
Kondisi pengungsi muslim Rohingya yang memperihatinkan.

SURABAYA, FaktualNews.co – Kekerasan yang menimpa umat muslim etnis minoritas Rohingya di Myanmar terus mendapat sorotan dari dunia internasional. Kali ini giliran Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson yang angkat bicara.

“Aung San Suu Kyi dianggap sebagai salah satu tokoh paling menginspirasi pada masa ini, tetapi perlakuan terhadap Rohingya justru menodai reputasi Myanmar,” kata Boris Johnson, Minggu (3/9/2017).

Dilansir dari Reuters, mantan Wali Kota London itu meminta pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi untuk menunjukkan kualitas luar biasanya guna mengakhiri kekerasan terhadap Muslim Rohingya. Kekerasan tersebut, menurut Johnson, mencoreng reputasi Myanmar dan Suu Kyi sendiri.

“Saya berharap dia bisa menggunakan seluruh kualitas luar biasa yang dimiliki untuk menyatukan negara, untuk menghentikan kekerasan, dan mengakhiri prasangka merundung komunitas muslim dan komunitas lainnya,” imbuhnya.

Sementara itu, menurut data Badan Pengungsi Dunia PBB (UNHCR), sedikitnya 58.600 orang muslim Rohingya sudah melarikan diri ke Bangladesh lewat perbatasan. Melansir dari media Myanmar, New Global Light of Myanmar, sebanyak 2.625 unit rumah milik warga muslim Rohingya dibakar.

Seorang saksi mata berusia 41 tahun mengatakan kepada kelompok pemantau HAM, Fortify Rights, pasukan Myanmar bertindak brutal dalam melakukan operasi militer. Ia mengaku dua keponakannya yang masih anak-anak dieksekusi dengan cara dipenggal.

Konflik di Rakhine State tersebut turut dirasakan oleh umat Buddha. Sedikitnya 4.000 orang diungsikan ke tempat yang lebih aman. Namun, pemerintah Myanmar memberikan perilaku diskriminatif dengan membiarkan etnis minoritas Rohingya tetap berada di Rakhine sehingga menjadi sasaran tindak kekerasan dalam operasi mencari militan ARSA.

Editor
Z Arivin

YUK BACA

Loading...