FaktualNews.co

Tangis Histeris Iringi Kedatangan Jenazah Bapak dan Anak Korban Longsor Sirtu di Mojokerto

Peristiwa     Dibaca : 1124 kali Penulis:
Tangis Histeris Iringi Kedatangan Jenazah Bapak dan Anak Korban Longsor Sirtu di Mojokerto
FaktualNews.co/Khilmi S Jane/
Jenazah Kodir penambang sirtu yang tewas usai tertimbun longsor saat tiba di rumah duka.

MOJOKERTO, FaktualNews.co – Kodir dan Iswanto bapak dan anak yang tewas tertimpa runtuhan material galian di Dusun Glogok, Desa Sumbertanggul, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Kamis, (14/9/2017) menyisakan duka mendalam bagi keluarga.

Hal tersebut terlihat jelas saat jenazah keduanya datang di rumah duka, jerit tangis histeris terdengar dari dalam rumah duka. Tangisan histeris tak bisa terbendung oleh Rika, istri Kodir. Laki-laki 60 tahun warga asal Dusun Glogok, Desa Sumbertanggul, Kecamatan Mojosari itu tewas saat bekerja mencari pasir di sebuah galian yang ada di desa setempat.

Tangisan ibu dua anak itu makin menjadi, dalam musibah ini, ia tidak hanya kehilangan suami tercintanya untuk selamanya. Ia juga harus kehilangan anak pertamanya, Iswanto, (35). Keduanya tewas akibat tertimpa material galian di lokasi yang sama dengan waktu yang bersamaan.

Perempuan 51 tahun ini tampak histeris dan sesekali berteriak seakan tak percaya bahwa dihadapannya adalah jasad suami yang telah memberinya dua anak. Tak selang beberapa lama, mobil ambulan kembali masuk ke halaman rumah. Kali ini, jenazah putra pertama Kodir yang diturunkan. Jenazah diletakkan tepat disamping ayahnya.

Kedua jenazah korban longsoran material galian itu tidak lain masih satu keluarga. Selama ini, Kodir dikenal sebagai tukang gali pasir di kampungnya. Dalam pekerjaan ini, Kodir selalu mengajak anak pertamanya yang berusia 35 tahun itu.

Selain itu, Kodir saat bekerja juga kerap mengajak keponakannya yang rumahnya tidak jauh dari rumah Kodir. Ya, Wijanarko, keponakan Kodir yang berusia 35 tahun itu juga turut tewas dalam musibah tersebut.

Dimata keluarga, Kodir dikenal sebagai pribadi yang baik dan tidak neko-neko. Bahkan selama ini, bekerja sebagai tukang gali menjadi mata pencahariannya untuk mencukupi dua anak hingga beranjak dewasa. Hal tersebut disampaikan Umi, yang masih kerabat korban. “Orangnya baik, dari dulu memang kerjanya ini cari pasir di sebelah,” kata Umi.

Lanjutnya, sebelum berangkat bekerja bersama anak dan keponakan, Kodir belum menyantap makan pagi. Keluarga pun baru mengetahui kabar tewasnya Kodir berserta lainnya sekitar pukul 06.00 wib. “Kasihan, padahal tadi belum sempat sarapan. Tahu-tahu dapat kabar ada yang meninggal karena longsor pasir,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Pingki, kerabat lainnya. Keluarganya baru mendapatkan kabar bahwa Kodir meninggal karena tertimpa longsor tidak lama setelah mereka berangkat dari rumah. Tidak hanya Kodir dan Wijanarko yang tewas dalam kejadian itu. Namun ada Iswanto yang tidak lain keponakan dari Kodir turut tewas dalam lubang galian C yang diduga ilegal. “Rumahnya (Wijanarko) ada di belakang. Tapi belum tahu, mau dikubur di mana,” katanya.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Z Arivin