Pilkada Jombang 2018 Paslon Nomor 1
Pilkada Jombang 2018 Paslon Nomor 2
Pilkada Jombang 2018 Paslon Nomor 3
FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Nyawa Bayi Nyaris Melayang, Pelayanan di RSUD Jombang Dipertanyakan

Peristiwa     Dibaca : 1956 kali Jurnalis:
Nyawa Bayi Nyaris Melayang, Pelayanan di RSUD Jombang Dipertanyakan
FaktualNews.co/Istimewa/
RSUD Jombang, menambah ruangan khusus, menjelang lebaran.

JOMBANG, FaktualNews.co – Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang kembali dikeluhkan pasien. Kali ini datang dari seorang ibu bernama Ulfa warga Dusun Wedani, Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Keluhan tersebut dialaminya saat melahirkan puteri ketiganya. Kejadian tersebut terjadi pada Minggu, 17 September 2017 lalu. Pasien saat itu dirawat diruang anggrek RSUD Jombang.

“Ini pengalaman miris yang saya alami, pelayanan yang diberikan perawat RSUD Jombang sangat ceroboh,” kata Ulfa kepada FaktualNews.co, Rabu (11/10/2017).

Perempuan berusia 36 tahun ini lantas bertutur. Pada mulanya, semua dalam keadaan baik-baik saja. Proses persalinan yang dilakukan dirinya berjalan lancar tanpa ada kendala, hingga anak ketiganya itu lahir.

Sumber masalah itu baru muncul sesaat setelah bayinya lahir. Usai proses persalinan berlangsung perawat serta bidan yang mestinya menjaga Ulfa dan bayinya itu malah keasyikan ngobrol.

“Akibatnya, bayi saya minum air ketuban. Para perawat itu malah asyik ngobrol masalah jajan dan urusan pribadi. Cuek dengan bayi saya. Akhirnya pas bayi minum air ketuban baru mulai fokus,” sesalnya.

Sementara itu, Siswanto (43) suami pasien sangat menyayangkan buruknya pelayanan di rumahsakit pelat merah itu. Padahal, semestinya mereka memberikan pelayanan yang baik dan profesional.

Ia yang berada disamping sang istri heran kenapa bayi yang sudah keluar tidak diangkat langsung. Padahal disana ada tiga perawat perempuan, satu perawat lelaki dan satu bidan. Bahkan air ketuban sang istri sempat mengalir kemana-mana.

“Setelah anak saya diketahui minum air ketuban, kemudian dipindah ke ruang melati untuk mendapat perawatan lanjutan,” paparnya.

Ia mengakui setelah bayinya menelan air ketuban memang sempat disedot oleh bidan. Tetapi banyak yang tidak keluar, sehingga membuat kondisi kesehatan bayi terganggu dan mulai lemas.

“Mestinya, itu (minum air ketuban) tidak terjadi kalau pelayanan yang diberikan baik dan pegawai di RSUD Jombang sigap dalam menangani pasien,” jelasnya.

Selanjutnya, karena bayinya dirawat di ruang intensif maka Siswanto harus bolak-balik pulang kerumah untuk mengajukan Kartu Jombang Sehat (KJS) ke pemerintah desa, Dinas Sosial dan RSUD Jombang.

Mirisnya, saat mengurusi surat keterangan tidak mampu dan meminta keringanan biaya. Siswanto dilempar seperti bola pingpong oleh pihak Dinas Sosial.

“Saya disuruh ngurus surat, karena bayinya dirawat diruang khusus. Tapi namanya orang miskin saya disuruh kesana kemari bolak balik tanpa kejelasan,” terangnya.

Hemat Siswanto, seandainya jika sang anak tidak minum air ketuban maka dalam beberapa hari mungkin sudah bisa pulang. Tidak hanya itu, dia juga tidak harus mondar-mandir tidak jelas dan berhutang sana sini.

“Selama sebelas hari di rumahsakit saya kehabisan uang banyak, pinjam sana sini, gadaikan barang untuk biaya selama di rumahsakit,” pungkasnya.

 

Editor
Saiful Arief