FaktualNews.co

Pertahankan Proper Emas, PHE WMO Bersama Masyarakat Gelar Operasi Semut di Pantai Labuhan

Ekonomi     Dibaca : 668 kali Penulis:
Pertahankan Proper Emas, PHE WMO Bersama Masyarakat Gelar Operasi Semut di Pantai Labuhan
FaktualNews.co/Ilustrasi/
Hutan magrove di pantai Labuhan, Kecamatan Sepulu, Bangkalan.

BANGKALAN, FaktualNews.co – Berbagai upaya dilakukan Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) bersama masyarakat untuk mempertahankan penghargaan Proper Emas yang diraih di tahun 2016 lalu.

Salah satu upaya guna mempertahankan penghargaan bergensi itu yakni, melakukan operasi semut oleh manajemen PHE WMO dan warga sekitar yang dilanjutkan dengan sosialisasi dan penyuluhan konservasi hutan mangrove yang ada di Taman Pendidikan Mangrove, Kecamatan Sepuluh, Bangkalan, Madura, Selasa (24/10/2017).

Karena, keberadaan hutan mangrove bukan sekadar menjadi penahan abrasi pantai, penahan gelombang tsunami, dan intrusi air laut, tetapi juga memiliki fungsi ekologi. Yakni, sebagai tempat mencari makan, tempat beranak pinak dan pengasuhan binatang dan pertukaran nutrisi.

“Secara keseluruhan, pengelolaan area konservasi mangrove di Labuhan ini sudah sangat bagus. Tapi, kegiatan kampanye agar kita semua tetap menjaga kelestarian hutan mangrove ini perlu terus digalakkan. Salah satunya, mengingatkan bahaya sampah pagi pohon mangrove,” kata General Manager PHE WMO Kuncoro Kukuh, melalui rilis yang diterima FaktualNews.co pada Selasa (24/10/2017).

Menurutnya, kegiatan yang diberi nama Operasi Semut ini, dimaksudkan untuk mengingatkan kembali arti penting melestarikan area konservasi mangrove.

“Lebih dari itu, juga sudah terbukti, pelestarian hutan mangrove telah menunjang perekonomian masyarakat di area ini. Karena itu, pada tahun 2017, PHE WMO memperluas wilayah binaan di sekitar TPM Labuhan. Ini penting agar manfaat ekologi dan ekonomi bisa dinikmati secara lebih luas,” tegas dia.

Setelah melakukan operasi semut yakni pembersihan sampah-sampah yang ada di pinggir pantai atau tersangkut di pohon bakau. Masing-masing kelompok berlomba mengumpulkan sampah sebanyak-banyaknya.

Pelatihan penanaman magrove

Para pelajar dan warga mengikuti kegiatan sosialisasi dan penyuluhan konservasi hutan mangrove juga diajari cara penanaman mangrove, termasuk menanam mangrove dengan menggunakan botol bekas.

Kegiatan menanam mangrove di dalam botol itu merupakan pengembangan kegiatan Mangrove in Office (MIO) yang dilakukan karyawan PHE WMO. Selain untuk menumbuhkan
rasa cinta pada mangrove, MIO merupakan apresiasi karyawan PHE WMO pada Kelompok Tani Mangrove Cemara Sejahtera yang mendukung program PHE WMO mengembangkan Taman Pendidikan Mangrove sejak 2013 lalu.

“Pembuatan MIO ini telah dipatenkan, semoga bisa memberi nilai tambah bagi masyarakat,” jelas Kukuh.

Hutan bakau yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi di bawah pengawasan Badan Pengelola Hutan Mangrorve (BPHM) Wilayah I Bali itu kini menjadi salah satu destinasi wisaya di pesisir utara pulau Madura.

Pada hari Sabtu dan Minggu ratusan pengunjung dari berbagai daerah, berdatangan menikmati kesejukan hutan mangrove seluas 3,5 hektare. Ada 17 jenis mangrove di area ini, antara lain, Sonneratia Alba (Prapat), Rizhophora Stylosa, Stenggi, Rhizopora Apiculata, Sonneratia Alba, Rhizophora Mucronata, Ceriops Tagal, dan Avicenna Marina.

Di lokasi ini pengunjung juga bisa meniokmati kicauan burung Rhipidura Javanica, Passer Montanus, Gerigone Sulphurea, dan Prinia SP. Hutan mangrove yang terjaga ini juga dihuni burung migran seperti Gajahan Pengala (Whimbrel Numenius/Phaeopus), Cerek (Plover, Charadrius SP), dan Trinil Kaki Merah (Common Redshank/Tringa Totanus).

Seiring dengan perkembangan ekosistem, kini hutan mangrove ini juga mulai didatangi gerombolan kera dari Desa Lembung Pesisir, Kecamatan Sepulu. Menurut pengamat mangrove, Agus Satriyono, kehadiran satwa liar seperti kera, elang, dan aneka burung migran di kawasan mangrove menjadi indikasi keberhasilan sebuah upaya konservasi lahan pesisir.

“Ini bukti keberhasilan PHE WMO mengembangkan kawasan pesisihan di Labuhan menjadi kawasan konservasi, sekaligus menjadi bukti adanya dukungan luas dari masuarakat yang tergabung dalam kelompok tani,” ungkap alumnus Fakultas MIPA Jurusan Biologi ITS Surabaya itu.

Lokasi TMP yang setiap hari dibuka untuk umum mulai 07.00 hingga 17.00. kini juga menjadi lokasi penelitian. Sejak 2015, tercatat sebanyak 13 kampus di Pulau Jawa melakukan penelitian.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Saiful Arief
Tags
KOMENTAR

YUK BACA

Loading...