FaktualNews.co

Ada Kartu Tani, Petani di Sumenep Masih Kesulitan Pupuk

Ekonomi     Dibaca : 693 kali Jurnalis:
Ada Kartu Tani, Petani di Sumenep Masih Kesulitan Pupuk
FaktualNews.co/Ilustrasi/Istimewa/

SUMENEP, FaktualNews.co – Keberadaan kartu tani di Sumenep, Madura, Jawa Timur, ternyata belum memberikan manfaat maksimal kepada petani. Terbukti, ada sejumlah petani yang malah mengaku kesulitan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi.

Sahran, salah satu petani kepada media ini mengatakan, sejak diberlakukan kartu tani, dirinya mengaku kesulitan mendapatkan pupuk. Sebab, kuota yang diberikan tidak sesuai dengan luas lahan yang dimiliki.

“Jatah kami tidak sesuai dengan kuota lahan yang kami miliki. Kurangnya kita dapat dari mana, tentu kami kebingungan,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, untuk mendapatkan pupuk dari kios lain tentu saja tidak bisa dengan adanya kartu tani ini. “Tidak bisa beli di kios lain. Kalau dulu sebelum ada kartu, kami masih bisa beli pupuk di mana saja. Ini jelas membuat petani resah dan bingung,” ungkapnya.

Kabid Sarpras Dispertahorbun Sumenep, Arif Firmanto menjelaskan, masalah pupuk ini bukan soal kartu tani. Jatah untuk provinsi berkurang sehingga kabupaten juga berkurang.

“Saat ini kami ada pengurangan 1518 ton untuk ZA, 471 ton untuk pupuk SP 36, otomatis kecamatan juga berkurang,” ujarnya.

Sebenarnya, sambung dia, pihaknya sudah mengajukan sesuai dengan luas lahan petani yang tergabung di kelompok. Namun, realisasinya tidak sama dengan usulan karena berkaitan dengan anggaran. “Ini berkaitan dengan anggaran,” ujarnya.

Menurut Arif Firmato, soal pupuk juga sudah disediakan non subsidi. Pupuk non-subsidi itu tidak wajib dijual di kios sesuai dengan kemampuan, melainkan yang ada di Distributor. “Ada kok pupuk non-subsidi di Distributor. Silahkan beli Distributor,” ujarnya dengan nada tinggi.

Dia mengungkapkan, sekarang membeli pupuk sesuai dengan kuota yang ditentukan. Kalau dulu dibilang bebas, nah itu yang salah. “Begini saja, ikut rapat nanti kan ini masalah yang harus disampaikan,” pungkasnya.

Editor
Muhammad Syafi'i

YUK BACA

Loading...