FaktualNews.co

Sisi Lain Situs Watu Ombo Mojokerto

Dijaga Prajurit Bhayangkara, Jadi Tempat Semedi Ratu Majapahit

Wisata     Dibaca : 2268 kali Jurnalis:
Dijaga Prajurit Bhayangkara, Jadi Tempat Semedi Ratu Majapahit
FaktualNews.co/Istimewa/
Altar di tempat utama Situs Watu Ombo di Desa Kliterejo, Mojokerto, yang kerap digunana semedi Ratu Majapahit.

MOJOKERTO, FaktualNews.co – Petilasan Watu Ombo merupakan salah satu situs kuno peninggalan kerajaan Majapahit. Konon kabarnya, situs yang terletak di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, ini juga dijaga makhluk kasab mata.

Menurut cerita, tempat ini, sejumlah pembesar kerajaan yang berhasil menyatukan Nuswantara ini kerap digunakan untuk semedi berbagai tokoh kerajaan majapahit, guna meminta petunjuk dari yang Esa. Salah satunya yakni Ratu Majapahit, Tribuana Tungga Dewi.

“Tribuana Tungga Dewi itu merupakan ratu ketiga Majapahit. Putri dari permaisuri Gayatri istri Raden Wijaya dan ibu dari prabu Hayam Wuruk,” Muhammad Zainuri, (46) juru kunci petilasan Watun Ombo, saat berbincang dengan FaktualNews.co, beberapa waktu lalu.

Selain Tribuana Tungga Dewi, ada pula beberapa pembesar kerajaan yang juga melakukan semedi di tempat ini. Antara lain, Resi Maudara yang merupakan ayah dari Damar Wulan, dan Sabdo Palon Noyo Genggong yang notabene abdi dari Damar Wulan.

Zainuri sendiri, mengaku merupakan generasi ketiga yang menjadi juru kunci di petilasan Watu Ombo ini. Menurut sepengetahuannya, kakeknya yakni almarhum Naserum yang menjadi juru kunci pertama. Kemudian dilanjutkan oleh bapaknya yang bernama Jali.

“Saya sudah 26 tahun menjadi juru kunci disini. Melanjutkan apa yang dilakukan bapak dan kakek saya sebagai kuncen di petilasan Watu Ombo ini,” imbuhnya.

Menurut penuturan Zainuri, kebenaran cerita yang diterima dari leluhurnya secara turun-temurun, menjadi juru kunci itu diamininya setelah Zainuri mendapatkan petunjuk melalui sebuah mimpi. Yakni, tepat setelah orang tuanya meninggal dunia.

“Saat itu tepat 40 harinya bapak. Saya tidur di Tribuana ini dan mimpi ada beliau dan dayangnya 4 pakaiannya kuning dan menggunakan mahkota. Saya diberi bokor (tempat air siraman) agak besar, terbuat dari emas. Saya diminta merawat. Kejadiannya tahun 1998,” imbuhnya.

Dijaga Prajurit Bhayangkara, Tempat Semedi Ratu Majapahit

Petilasan Sabdo Palon di kompleks Situs Watu Ombo, di Desa Kliterejo, Mojokerto.

Selama menjadi juru kunci di petilasan Watu Ombo yang merupakan lokasi semedi puteri Tribuana Tungga Dewi, ratu ketiga kerajaan majapahit itu, berbagai hal gaib pernah dialami Muhammad Zainuri. Mulai dari penampakan makhluk penghuni dunia lain, hingga hadirnya sosok pria bertubuh tinggi besar di lokasi petilasan itu.

“Waktu itu jam 2 malam, saya sendirian di pendapa ini. Tiba-tiba ada orang tinggi besar di pohon itu. Tepat di sampingnya petilasan Sabdo Palon dan Noyo Genggong ini. Saya tidak bisa melihat wajahnya karena samar-samar,” paparnya.

Selain penampakan sosok tinggi besar, sosok lain yang kerap usil adalah penunggu petilasan Sabdo Palon dan Noyo Genggong. Zainuri, sering kali harus mengganti bola lampu yang digunakan untuk penerang ruangan yang di dalamnya terdapat dua payung dan dua tempat semedi itu.

“Ini tidak ada lampunya. Memang rewel, kalau diberi lampu sering mati. Mungkin memang tidak mau diberi lampu. Selain itu juga di tempat Sabdo Palon dan Noyo Genggong ini sering ada sinar putih juga,” terangnya.

Tak hanya itu, sosok manusia tinggi besar dengan mengenakan pakaian layaknya seorang prajurit sakti juga kerap muncul di tempat petilasan tak beratap itu. Sosok tersebut dipercaya merupakan prajurit-prajurit Bhayangkara (kesatuan elite) yang selalu menjadi pengawal dan penjaga keselamatan putri yang melahirkan prabu Hayam Wuruk itu.

“Kalau sosok itu mau datang, biasanya ada suara seperti angin kencang begitu. Tapi tidak ada anginnya. Hanya perasaan suara itu saja. Pohonnya pun tidak ada yang bergerak. Justru cenderung sepi,” terangnya.

Kendati banyak kejadian-kejadian mistis kerap dialaminya, Zainuri mengaku tidak pernah terusik. Selain pulung yang didapatnya dari mimpi, keinginannya untuk merawat tempat peninggalan bersejarah itu menjadi alasannya tetap berada di tempat itu.

“Selama ini saya juga tidak merasa terganggu dengan peristiwa-peristiwa yang saya alami. Justru saya semakin yakin bahwa tempat ini harus selalu dijaga. Terlebih dari tangan manusia yang jahil. Karena benda-benda peninggalan ini tidak ternilai harganya,” jelasnya.

Saat ini, petilasan Watu Ombo masih kerap dikunjungi para wisatawan. Mereka yang datang, mayoritas adalah penganut ajaran hindu dari luar wilayah Kabupaten Mojokerto. Akan tetapi, tidak sedikit juga mereka yang beragama islam datang ke tempat itu.

“Dari luar kota juga ada. Rata-rata dari bali, karena memang ada kesamaan keyakinan. Tujuannya macam-macam. Ada yang berdoa agar segera dapat jodoh, ada yang mencari obat dan ada juga yang untuk pangkat. Tergantung dari niat masing-masing,” pungkasnya.

Editor
Z Arivin

YUK BACA

Loading...