FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Perjuangan Honorer Jadi PNS di Jombang, Gelar Sarjana Lebih Berat Dibandingkan Gaji

Birokrasi     Dibaca : 579 kali Jurnalis:
Perjuangan Honorer Jadi PNS di Jombang, Gelar Sarjana Lebih Berat Dibandingkan Gaji
FaktualNews.co
Balada tenaga honorer di Kabupaten Jombang.

JOMBANG, FaktualNews.co – Profesionalisme serta pengabdian tenaga honorer terutama guru yang ada di Kabupaten Jombang, Jawa Timur patut diacungi jempol. Meski hal itu tidak sebanding dengan kesejahteraan yang mereka terima berbanding terbalik dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Bertepatan dengan hari pendidikan yang jatuh setiap tanggal 02 Mei, guru honorer masih berkutat dengan persoalan gaji yang jauh dari kata layak.

Padahal, para guru maupun tenaga honorer ini sangat dibutuhkan Pemkab Jombang, khususnya di tingkat sekolah dasar. Lantaran sampai saat ini tenaga pendidik dan kependidikan jumlahnya masih jauh dari cukup.

Tenaga honorer yang kini mengabdi di Kota Santri julukan bagi Kabupaten Jombang, rata-rata sudah belasan tahun mengabdi. Mereka bertahan di tengah penghasilan yang serba minim.

Para guru honorer ini memiliki gaji berkisar antara Rp 250 ribu sampai dengan Rp 500 ribu.

Bahkan slip gaji guru honorer mata pelajaran Fiqih sempat menghebohkan warganet. Slip itu milik seorang guru yang telah memiliki gelar sarkana pendidikan agama Islam atau S.Pd.I.

Guru itu mengajar ilmu Fiqih kepada murid-muridnya. Ia mengajar enam jam per minggu.

Rincian gaji yang didapatkan guru ini diantaranya gaji pokok Rp 6.000. Lalu Tunjangan transport Rp 18.000. Ditambah tunjangan jabatan Rp 6.000.

Ternyata guru ini juga menjabat sebagai wali kelas. Atas tugasnya itu dia diberikan tunjangan wali kelas sebesar Rp 5.000.

Total sebulan guru ini mendapatkan upah yakni Rp 35.000.

gaji guru honorer

Slip gaji guru honorer yang diunggah di media sosial.

Bayangkan saja gaji guru honorer di Kabupaten Jombang, jika digunakan untuk kebutuhan hidup selama sebulan tidak akan cukup.

Salah satunya guru honorer SD di wilayah Plandaan, Cipto (30). Ia mengabdi hampir 10 tahun lamanya sebagai guru honorer.

Saat awal mengajar, dirinya hanya mendapatkan bayaran Rp100 ribu per bulan. Honor tersebut ia dapatkan dengan beban mengajar selama enam hari dalam sepekan. Kemudian naik menjadi Rp250 ribu dan itu tentu tak sebanding dengan pengorbanannya. Bahkan untuk transportasi saja, tidak mencukupi.

Bagi pegawai swasta bisa berpindah-pindah perusahaan demi mendapat kesejahteraan yang lebih baik. Tapi, hal seperti ini tidak berlaku di dunia pendidikan. Pilihannya hanya menjalani apa yang sudah menjadi kewajiban, meski hak yang didapat sama sekali tidak memberikan kesejahteraan.

“Sabar saja, siapa tahu nanti bisa diangkat menjadi PNS. Banyak temen-temen guru honorer lain yang gajinya juga tidak seberapa, ada yang dibayar di bawah saya,” tutur Cipto, Rabu (2/5/2018).

Tentu saja, pendapatan itu sangat tidak layak. Jangankan dibandingkan dengan gaji buruh yang menggunakan standar Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK). Bila dibandingkan dengan argo taksi saja, gaji guru tidak ada apa-apanya. Gaji guru honorer per jam itu, sama dengan argo taksi yang berjalan sejauh dua kilometer dengan waktu tempuh rata-rata 10 menit.

Terpisah, Koordinator Forum Honorer Kategori 2 (FHK2) Kabupaten Jombang, Ipung Kurniawan, menuturkan gaji guru honorer tingkat SD memang lebih ironis dibandingkan dengan gaji guru honorer SMP maupun SMA.

“Kalau guru honorer SD sebulan rata-rata Rp 250 ribu, untuk guru honorer SMP kalau tidak salah Rp 500 ribu per bulan. Sedangkan guru honorer SMA dihitung per jam. Per jamnya Rp 30 ribu, sehari biasanya ngajar 3 jam lebih,” jelas pria yang juga guru honorer SMA di Plandaan ini kepada FaktualNews.co, Rabu (2/5/2018).

Dia sendiri mengabdi menjadi guru honorer sejak tahun 2002 dan hingga saat ini masih belum diangkat menjadi PNS. “Saya pengabdian jadi guru honorer sejak 2002 lalu,” tutur Ipung.

Ia mengeluhkan kesenjangan tugas dan jabatan antara guru honorer dan PNS bersertifikasi. Fenomena yang ada saat ini, rata-rata untuk pembagian tugas belajar dan mengajar disamaratakan. Kadang guru honorer justru kebagian porsi lebih berat.

Bahkan ada guru honorer merangkap tugas. Padahal, kesejahteraan PNS bersertifikasi dengan guru honorer ibarat bumi dan langit.

“Guru honorer di dunia pendidikan Kabupaten Jombang ini ibarat jantungnya sekolah. Kalau tidak ada guru honorer saya rasa guru PNS akan kalang kabut,” tegas dia.

Editor
Saiful Arief