FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Terduga Teroris Jember, Dikenal Sebagai Penjual Bakso

Peristiwa     Dibaca : 106 kali Jurnalis:
Terduga Teroris Jember, Dikenal Sebagai Penjual Bakso
FaktualNews.co/Hatta/
Rumah terguda teroris di Jember

JEMBER, FaktualNews.co – Seorang terduga teroris di Jember berinisial AR yang diamankan petugas Densus 88 antiteror, dikenal sebagai penjual bakso keliling.

Dirinya menempati rumah di komplek Perumahan Istana Tegal Besar Cluster Kutai, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, tipe 36 plus, dan dikenal ramah dengan tetangga sekitarnya.

“Sehari-hari jualan bakso, keliling pakai motor,” kata RT setempat Nur Cahyo, Sabtu (4/8/2018).

Bakso yang dijual AR bukan milik sendiri, tetapi ikut orang lain.

“Tidak dibuat di rumah, tapi sudah ada yang bikin, katanya sih orang (Lingkungan) Muktisari. Jadi tinggal jualkan,” terang Nur Cahyo.

Nur Cahyo juga menjelaskan, tidak ada yang mencurigakan dari sosok AR. Dalam kesehariannya, AR pun dikenal ramah ke tetangga sekitar.

“Orangnya baik, tiap bertemu tetangga selalu menyapa. Jadi ya kita kaget ketika rumahnya digerebek karena kasus terorisme,” kata Nur Cahyo.

Diketahui, AR telah menempati rumah di Perumahan Istana Tegal Besar itu, sekitar 8 bulan. Dia tinggal di rumah tipe 36 plus itu bersama istri dan ketiga anaknya.

“Sudah tinggal selama kurang lebih 8 bulan. Nggak ngontrak, (hanya) disuruh nempati saja sama pemilik rumah. Katanya sih ada ikatan saudara dengan si pemilik rumah,” terang Nur Cahyo.

Sementara istri AR, menurut Nur Cahyo, bekerja sebagai tukang pijat. Bahkan banyak warga sekitar yang sering meminta jasa memijatnya.

“Tetapi pelanggannya perempuan saja, ya memijat kalau dipanggil,” katanya.

Terkait asal AR, Nur Cahyo mengaku belum tahu. Pasalnya selama ini, AR belum menyerahkan data ke dirinya. Bahkan yang membuat heran pria yang berprofesi sebagai montir ini, ketiga anak AR semuanya tidak sekolah.

“Dia kan punya anak tiga, yang pertama dan kedua laki-laki, yang terakhir perempuan, berusia sekitar 4 tahun. Nggak ada yang sekolah, utamanya yang laki-laki. Padahal sudah masuk usia sekolah. Bahkan yang pertama seharusnya sudah SMP. Karena tidak sekolah, dua anak laki-lakinya itu hampir tiap pagi nonton TV di pos jaga,” tandasnya. (Hatta)‎

Editor
Z Arivin