FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Bertemu Petani Salak Jombang, Mbak Estu Dorong Pemdes Jadikan Jatirejo Desa Wisata

Birokrasi     Dibaca : 118 kali Jurnalis:
Bertemu Petani Salak Jombang, Mbak Estu Dorong Pemdes Jadikan Jatirejo Desa Wisata
FaktualNews.co/Rony Suhartomo/
Anggota Komisi V DPR RI Sadarestuwati (kiri) bersama ibu-ibu PKK Desa Jatirejo mengolah dodol salak khas Jombang

JOMBANG, FaktualNews.co – Desa Jatirejo, Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur menjadi penghasil salak terbesar di Jombang. Kebun warga setempat sebagian besar ditanami salak. Penanaman buah ini dilakukan secara organik.

Sayangnya, saat panen raya tiba harga salak di kampung ini anjlok. Seperti saat ini, salak organik hanya dihargai Rp 5 ribu perkilogramnya.

Kondisi inilah yang dimanfaatkan ibu-ibu PKK untuk membuat aneka makanan berbahan buah salak sehingga bisa menambah nilai ekonomis salak. Salah satunya dengan membuat dodol salak.

“Kami manfaatkan salak yang tidak terjual supaya tak terbuang sia-sia,” kata anggota PKK Desa Jatirejo Lutfiyati (35) kepada Wartawan, Rabu (8/8/2018).

Berbekal pelatihan yang didapatkan bersama ibu-ibu PKK lainnya di Desa Jatirejo, dia mengolah salak organik menjadi dodol. Agar cita rasanya semakin legit, mereka menggunakan campuran tepung ketan.

Proses pembuatan dodol salak oleh ibu-ibu PKK Desa Jatirejo tak jauh beda dengan pembuatan dodol di tempat lain. Mula-mula salak yang sudah dikupas dan dibuang bijinya, digiling dengan mesin. Gilingan buah salak lalu dicampur dengan bahan lain. Salah satunya tepung ketan.

Untuk membuat adonan dodol salak, mereka menggunakan mesin yang tergolong canggih. Dengan mesin ini, mereka tak perlu repot-repot mengaduk adonan. Terlebih lagi mesin ini dilengkapi tungku pemasak. Sehingga tinggal menunggu sekitar 4 jam, adonan sudah menjadi kenyal.

Setelah dingin, dodol salak di loyang dipotong menjadi ukuran standar dodol pada umumnya. Baru kemudian dikemas dengan logo Jenang Salak Asli Jombang.

“Kelebihan jenang (dodol) salak di sini menggunakan bahan salak organik. Sehingga tanpa ada bahan kimianya,” terang Lutfiyati.

Harga dodol salak buatan ibu-ibu PKK Jatirejo tergolong ramah di kantong. Setiap kilogramnya, dodol salak ini hanya Rp 65 ribu.

“Selama ini kami masih sebatas melayani pesanan,” tandas Lutfiyati.

Sementara itu, anggota Komisi V DPR RI Sadarestuwati dalam kunjungannya ke Desa Jatirejo mendorong pihak desa untuk menjadikan kebun salak ini sebagai desa wisata.

“Setiap desa memiliki desa wisata untuk menopang perekonomian desanya. Seperti Desa Jatirejo yang memiliki lahan kebun salak sekitar 10 hektar seharusnya bisa menjadikan salak sebagai sumber pemasukan desa,” tuturnya.

Disela sela kunjungannya politisi PDIP ini juga menyempatkan diri ikut mengawinkan bunga salak jantan ke bunga salak betina yang siap dikawinkan. Sebelum mengunjungi sentra kebun salak ini, Mbak Estu melihat usaha olahan jenang salak yang diproduksi oleh kelompok ibu di desa ini.

“Ini merupakan kreatifitas yang mampu mendongkrak ekonomi warga. Jadi sudah semestinya kita banckup untuk kedepannya,” tandasnya.

Editor
Z Arivin