Hiburan

Rayakan 1 Suro, Pemuda Desa Gedeg, Mojokerto Pentas Teatrikal

MOJOKERTO,FaktualNews.co- Berbagai tradisi dalam memperingati tahun baru hijriah dilakukan. Bagi masyarakat Jawa identik dengan peringatan malam 1 Suro. Biasanya, bagi orang Jawa merayakan 1 Suro, yang bertepatan dengan 1 Muharam (tahun baru Islam) itu dirayakannya dengan prosesi adat yang sakral.

Namun tradisi dalam perayaan 1 Suro, yang nota bene tahun baru Islam itu, tidak berlaku bagi warga Dusun Batan Krajan, RT/01 RW/04, Desa Batankrajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Dalam merayakan 1 Suro, tahun baru Islam, yang kali ini bertepatan dengan tanggal 10 September ini, puluhan pemuda pemudi Dusun Bantan Krajan, memilih berkumpul di tanah lapang setempat. Ya, mereka mementaskan sebuah Teatrikal Realistis. Selain untuk menghibur warga, acara tersebut juga mengenalkan seni teatrikal di kalangan anak-anak juga Warga Desa.

Pantauan di lokasi, puluhan pemuda yang datang dari beberapa komunitas teater pelajar. Diantaranya Teater Samudra Illahi dari MAN Sooko Mojokerto, Teater Satya Wikusama dari SMAN 1 Gedeg, Mojokerto juga dari Karangtaruna Batan Krajan, Komunitas Persada serta Gusdurian Mojokerto.

Mereka memerankan sebuah pementasan teatrikal berjudul Dukun. Pagelaran teatrikal ini, dimulai saat ratusan warga sudah mengelilingi lapangan bola Volley yang sudah di set menjadi layaknya perkampungan.

Tak jarang, di tengah tengah pementasan yang diperankan sebanyak 70 pemuda pemudi ini, mengundang tawa, saat salah seorang aktor dengan berpakaian tak karuan yang berperan sebagai orang gila. Saat itu, keluar dan berteriak hingga melakukan hal selayaknya orang gila pada umumnya.

Meski demikian, pagelaran teater garapan dari sutradarayang juga penulis naskah asal Mojokerto, yakni Kukun Trioga ini mengandung makna yang begitu dalam.

Dalam naskah berjudul “Dukun” yang diperankan 60 aktor dan 10 pemusik ini menceritakan sebuah kisah pada tahun 1800 yang lalu. Ketika itu, di sebuah Desa Sido Rukun terdapat sesosok dukun bernama Mbah Joyo yang menjadi panutan serta dianggap orang sakti karena mampu menyembuhkan semua penyakit.

Karna pada saat itu warga Desa Sido Rukun belum mengenal baik tentang agama Islam, datanglah seorang Samsul yang berperan sebagai seorang Kiai yang mengajarkan agama Islam.

Dengan inti dari Prolog di atas, Kukun Trioga penulis naskah tersebut, saat ditemui usai pementasan menuturkan, dirinya bersama 60 aktor juga 10 pemusik, yang terlibat dalam pementasan teater tersebut. ” Dalam teater alam membutuhkan waktu hanya dua minggu untuk menyiapkan acara ini semua, ” kata Kukun Trioga.

Persiapan yang dilakukan, menurutnya adalah mulai dari setting lokasi yang out dor, yakni memanfaatkan lapangan sebagai Panggung. Selain itu, juga menyiapkan para aktor maupun pemusik untuk menjadikan pementasan.

Kukun berharap, dalam acara yang dikemas secara sederhana ini, selain mengenalkan seni teater, dirinya juga ini mengenalkan pada malam satu suro yang kerap kali warga Desa Batan Krajan mengartikan malam satu Suro sebagai malam yang sakral. “Melalu pementasan ini warga mengerti malam satu Suro bukan hanya malam yang sakral, melainkan malam pergantian tahun baru hijriah Islam, “ujarnya.

Sementara itu, Fransiska Kurnia Wati penikmat seni Jawa Timur menambahkan, dirinya sangat mengapresiasi setinggi tingginya dengan pementasan berjudul Dukun karya Kukun Trioga.

“Karna, dengan “teater publik” sebutan dari Kukun, kami mampu Mensosialisasikan dan mengenalkan teater kepada masyarakat luas. Apalagi ditambah cerita yang dibawakan dengan cara yang luar bisa ini, juga sangat mengena dan tersampaikan di semua kalangan dari mulai anak anak hingga orang tua,”ujar Fransiska Kurnia Wati, usai acara.

Hanya saja, imbuh Fransiska, dalam pementasan yang sangat spektakuler dan merupakan gagasan baru untuk mengenalkan teater ke masyarakat umum, ada beberapa catatan yang perlu di benahl Diantaranya seperti etika audiens saat melihat teater maupun menjadi penikmat teater. Meski dalam pementasan ini, semua pesan sangat tersampaikan dan sangat menghibur.