Iklan Bank Jatim FaktualNews
FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Bupati Jember Tuding Unjuk Rasa GMNI Disusupi Kepentingan

Birokrasi     Dibaca : 137 kali Jurnalis:
Bupati Jember Tuding Unjuk Rasa GMNI Disusupi Kepentingan
FaktualNews.co/Muhammad Hatta/
Kericuhan di halaman gedung DPRD Jember, mahasiswa GMNI dengan pihak kepolisian

JEMBER, FaktualNews.co – Bupati Jember, Faida menuding aksi unjuk rasa aktifis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) beberapa waktu lalu, ditunggangi oleh kepentingan tertentu dari luar organisasi.

Dalam aksi menuntut transparansi anggaran pengentasan buta aksara, berujung dengan adanya kericuhan di gedung DPRD Jember, dan juga di Kantor Pemkab Jember, dengan adanya aksi bakar kertas yang dilakukan oleh demonstran.

“Saya apresiasi mahasiswa mau bergerak berbuat, dan saya mengecam pihak-pihak yang menunggangi idealisme mahasiswa untuk kepentingan-kepentingan lainnya,” kata Faida, Jumat (14/9/2018).

Alasan bupati wanita pertama di Kabupaten Jember itu, menilai ada kepentingan yang menunggangi, karena dirinya mengaku mendapatkan informasi.

“Saya pikir itu bukan murni mahasiswa, karena saya tahu mahasiswa GMNI. Mereka anak-anak idealis yang perlu dibina supaya niatan baik dan idealismenya tidak ditunggangi dengan hal-hal yang anarkis,” kata Faida.

“Saya mendapat laporan bahwa kegiatan itu disusupi kepentingan-kepentingan di luar organisasi GMNI. Oleh karenanya saya berharap ini tidak terjadi lagi, karena berisiko anarkis, kebakaran, merusak aset pemerintah, dan itu melanggar aturan, bisa dipidanakan.”

Faida pun juga mengakui, bahwa masih banyak warga Jember yang buta aksara. “Itu tidak perlu ditutupi karena memang pernah dideklarasikan bahwa Jember bebas buta aksara. Saya kira memang belum. Sampai sekarang memang tersisa ratusan ribu orang (penyandang buta aksara),” katanya.

Terkait penuntasan soal buta aksara tersebut, dirinya pun memerintahkan untuk melakukan gropyokan bersama-sama. Tak ada pembatasan warga yang dilayani dalam jumlah minimal keanggotaan kelompok belajar.

“Kalau dulu satu kelompok terdiri dari sepuluh orang. Sekarang satu orang pun dilayani. Kalau dulu mahasiswa bisa menjadi pengusul, sekarang dia bisa jadi eksekutor, bisa jadi tim pengajar,” pungkasnya.

Editor
Saiful Arief