FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Menilik Mundurnya ExxonMobil dari Blok Gunting dan Eksplorasi Migas Lapindo di Jombang

Nasional     Dibaca : 304 kali Jurnalis:
Menilik Mundurnya ExxonMobil dari Blok Gunting dan Eksplorasi Migas Lapindo di Jombang
Ilustrasi eksplorasi migas.

JOMBANG, FaktualNews.co – Awal Maret 2010 perusahaan minyak multinasional asal Amerika Serikat (AS), ExxonMobil mulai mencari ladang minyak baru di Kabupaten Jombang, Jawa Timur dengan melakukan survei seismik yang dikerjakan PT. Sari Pari Geosains.

Proyek yang sama juga dilakukan di beberapa daerah lainnya. Di antaranya, Kabupaten Mojokerto, Kediri, dan Nganjuk. Di Pasuruan, bahkan Exxon sudah melakukan uji seismik tahap dua.

Dari sejumlah wilayah yang dilirik itu, 90 lokasi berada di Kabupaten Jombang. Teknologi survei seismik yang menggunakan bahan peledak itu diklaim ramah lingkungan.

Bupati Jombang yang saat itu dijabat Suyanto mengatakan, berdasarkan pengamatannya, teknologi yang digunakan nyaris tak membawa dampak terhadap tanah warga. Seperti dilansir dari Okezone.com.

Nyatannya pada awal Mei 2010, banyak warga di Kabupaten Jombang, yang memprotes servei seismik ExxonMobil dengan bahan peledak tersebut. Meski survei seismik dilakukan diatas tanah warga dengan sistem menyewa lahan selama delapan bulan. Harga sewa lahan antara Rp 1000 hingga 2000 per meter. Luas lahan tidak bisa ditentukan karena survey dilakukan dengan berpindah-pindah. (Tempo.co)

Belasan rumah warga di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur retak akibat aktivitas survei seismik yang dilakukan PT Sari Pari Geosains, perusahaan rekanan survei yang ditunjuk perusahaan minyak dunia, ExxonMobil.

”Ada sekitar 16 rumah yang dindingnya retak-retak, rumah saya juga retak akibat ledakan seismik yang dilakukan ExxonMobil,” kata Ketua RT 12/RW 5 Desa Sumbermulyo, Ngadianto, seperti dilansir dari Tempo.co, Minggu (16/5/2010).

Banyaknya rumah yang retak itu akibat ledakan dinamit yang dilakukan petugas survei di sekitar pemukiman warga. Getaran akibat ledakan terasa sangat keras. Bahkan, getaranya mampu mengguncang rumah milik Ngadiono yang berjarak beberapa meter dari pusat ledakan.

Tuai penolakan

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur mendesak PT Sari Pari Geosains rekanan ExxonMobil menghentikan survei seismik menggunakan dinamit untuk mencari sumber minyak baru di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

”Karena peledakan dinamit bisa membuat fungsi ekologi lingkungan terancam,” kata Muhammad Masrur, Ketua Dewan Daerah Walhi Jawa Timur, Senin (17/5/2010).

Selain itu, kata dia, dampak getaran ledakan juga mengancam pemukiman penduduk. Apalagi, banyak warga yang mengeluh rumahnya retak-retak akibat aktivitas survei seismik menggunakan dinamit tersebut.

Sejak beberapa bulan lalu ExxonMobil melakukan survei seismik. Panjang lintasan penelitian mencapai 397 kilometer. Di sepanjang lintasan akan dilakukan pengeboran dangkal sebanyak 10 ribu titik. Untuk membuka setiap titik pengeboran digunakan satu kilogram dinamit.

Karena, banyaknya penolakan dari warga. Akhirnya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jombang, melakukan audiensi dengan pihak Exxon Mobil dan pemerintah kabupaten setempat 19 Mei 2010.

Dalam pertemuan itu, anggota DPRD mempertanyakan proses dan prosedur survei untuk mencari lokasi tambang minyak tersebut. (Tempo)

ExxonMobil mundur dari blok Gunting

ExxonMobil Oil Indonesia berencana mundur dari pengelolaan blok Gunting yang berada di Jawa Timur. Perusahaan minyak asal Amerika Serikat (AS) itu mundur karena kegiatan survei seismik yang dilakukannya tidak kunjung mendapat dukungan dari warga setempat.

Padahal proses pengelolaan Blok Gunting bakal berlangsung selama 30 tahun. Ini mengacu kepada naskah Kontrak Kerja Sama (KKS) antara Departemen ESDM dengan Exxon Mobil Indonesia pada 13 November 2008. Blok Gunting seluas 1.645 km2 berada di wilayah Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Pasuruan hingga Probolinggo.

Menurut Kepala Dinas Humas dan Hubungan kelembagaan, BP Migas, Elan Biantoro memaparkan, blok Gunting sendiri merupakan blok yang memiliki risiko yang sangat tinggi dan merupakan blok migas yang kurang diminati perusahaan migas saat ditenderkan pada tahun 2007.

Hal ini disebabkan potensi cadangan migas dari blok tersebut masih diketahui. Dari survei seismik menunjukkan kalau blok itu layak dikembangkan, maka perusahaan migas asal Amerika Serikat ini akan melakukan kegiatan pengeboran.

Hal ini diajukan Exxon karena jika mereka telah melakukan pengeboran dan ternyata blok itu tidak ada cadangannya maka uang yang sudah dikeluarkannya tidak akan dikembalikan. Sementara dana yang dibutuhkan untuk mengebor satu sumur di blok itu sekitar US$ 20 juta.

“Tapi kebijakan pemerintah melalui Dirjen Migas disebutkan kalau dalam tiga tahun pertama setelah memenangkan tender, selain melakukan survey maka mereka juga harus mengebor. Tapi mereka tidak mau bor sebelum survey, mereka baru akan mengebor kalau ada prospek di tahun keempat. Makanya saat itu Exxon ditolak,” kata Elan yang ikut terlibat dalam panitia tender tersebut, seperti dilansir dari Detik.com.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang, Yudi Adriyanto, menilai ditolaknya survei seismik ExxonMobil oleh warga, karena tidak adanya sosialisasi.

“Kalau saya menengarai salah masuk Exxonmobil itu, sosialisasinya kurang. Soalnya kalau kita salah dalam sosialisasi kan sulit sekali untuk memperbaiki,” kata dia, kepada FaktualNews.co, Jumat (21/9/2018).

Pada 2013 ExxonMobil Oil Indonesia, perusahaan minyak dan gas (migas) asal Amerika Serikat, akan mengembalikan tiga blok eksplorasi migas ke pemerintah karena proyek itu tidak ekonomis.

Ketiga blok eksplorasi tersebut adalah Blok Gunting di Jawa Timur, Blok Surumana dan Blok Mandar di Selat Makassar.

ExxonMobil telah mengebor sumur eksplorasi di Blok Surumana dan Blok Mandar yang berada di laut dalam tersebut, namun tidak menemukan apapun.

Sementara untuk Blok Gunting, perusahaan migas asal AS itu baru melakukan survei seismik. Tapi, kegiatan eksplorasi tidak dilanjutkan karena adanya penolakan dari masyarakat. (Liputan6)

Potensi migas di Jombang

Menurut Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Jatim, Handoko Teguh Wibowo, mengungkapkan Jombang sebenarnya memiliki potensi minyak dan gas (migas) yang relatif besar. Terutama di Dusun Kedondong, Desa Blimbing, Kecamatan Kesamben.

Salah satu indikasinya, di sekitar wilayah PT Kimia Farma di Watudakon, Kecamatan Kesamben, terdapat indikasi kuat adanya gas. PT Lapindo Brantas sebagai pemilik wilayah kerja juga sudah melakukan beberapa studi cukup mendalam.

Dari data yang dimiliki media ini, diketahui bahwa wilayah Desa Belimbing, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang secara wilayah konsesi Migas terbagi menjadi dua bagian, yakni disebelah utara menjadi hak PT Pertamina Hulu Energi Blok Tuban dan sebagian kecil di selatan menjadi hak PT Lapindo Brantas, sementara sumur metro diduga kuat berada di wilayah Pertamina.

Hingga berita ini ditulis, FaktualNews.co terus berupaya melakukan konfirmasi ke pihak Pertamina Hulu Energi.

Namun, sejak kasus Lumpur Sidoarjo kata Handoko, industri ekstraksi migas cenderung lesu dan kurang bergairah. “Resistensi dan trauma masyarakat terhadap industri migas seringkali dikaitkan dengan kasus semburan lumpur panas tersebut,” ujar Handoko (TribunNews)

Selain trauma dan resistensi, ada juga faktor regulasi, sosial, politik dan lingkungan.

Meski memiliki potensi yang cukup besar minyak dan gas (migas) yang relatif besar. Namun, masyarakat di Dusun Kedondong, Desa Blimbing kekeh melakukan penolakan terhadap rencana eksplorasi Lapindo Brantas.

Masyarakat menuntut Lapindo memberikan jaminan keselamatan eksplorasi minyak dan gas (migas) berupa MoU. Lantaran, warga merasa trauma dengan kesalahan pengeboran yang dilakukan Lapindo di Porong, Sidoarjo.

Hingga berita ini ditulis FaktualNews.co terus berupaya melakukan konfirmasi ke pihak Lapindo Brantas terkait tuntutan jaminan keselamatan eksplorasi migas di Desa setempat, namun belum ada jawaban.  (Elok Fauria/redaksi)

Editor
Saiful Arief

YUK BACA

Loading...