Iklan Bank Jatim FaktualNews
FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Anak Cucu Pendiri NU dan Para Kiai Gelar Pertemuan Tertutup di Tebuireng, Jombang

Nasional     Dibaca : 235 kali Jurnalis:
Anak Cucu Pendiri NU dan Para Kiai Gelar Pertemuan Tertutup di Tebuireng, Jombang
FaktualNews.co/Rony Suhartomo/
Rapat tertutup anak cucu pendiri NU dan para kiai di Ponpes Tebuireng, Jombang

JOMBANG, FaktualNews.co – Dzurriyah pendiri organisasi islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) dan para kiai melakukan pertemuan tertutup di Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Rabu (24/10/2018).

Pertemuan bertajuk ‘Halaqah Ulama Nahdliyin’ tersebut guna membahas kondisi NU yang dianggap tengah dipolitisasi oleh sejumlah pihak dalam momentum pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Pantauan di lokasi, puluhan kiai dari berbagai daerah hadir dalam pertemuan tersebut, sekira pukul 10.00 WIB. Informasi yang didapat, sebanyak 36 kiai dan dzurriyah pendiri NU, yakni KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah datang dan mengikuti pertemuan di Dalem Kasepuhan Ponpes Tebuireng.

Selama hampir 5 jam, para kiai dan dzurriyah pendiri NU ini melakukan pertemuan tertutup. Dalam pertemuan tersebut, para kiai membahas kondisi NU yang saat ini dianggap sudah larut dalam kancah politik praktis.

“Kesimpulan dari diskusi dzurriyah muassis NU dan para kiai, tetap meminta NU berdiri tegak dalam khitoh 1926, sebagaimana sudah diputuskan dalam Muktamar 26 di Semarang tahun 1978 kemudian di pertegas di Muktamar 27 di Situbondo 1984,” kata juru bicara Halaqah Ulama Nahdliyin, Choirul Anam.

Selain itu, dalam ‘Halaqah Ulama Nahdliyin’ tersebut, kembali ditegaskan bahwa NU tidak berpolitik praktis. Sehingga NU tidak memiliki ikatan apapun dengan partai politik tertentu maupuan dalam perebutan kekuasaan.

“Kedua, NU tidak ada urusan dengan politik praktis, politik kepartaian maupun perebutan kekuasaan. Ketiga, warga NU bebas menentukan pilihan tetapi tetap berpegang teguh pada 9 pedoman politik warga NU yang dikeluarkan di Muktamar 28 di Krapyak tahun 1989,” imbuhnya.

Menurutnya, ‘Halaqah Ulama Nahdliyin’ yang digelar di Ponpes Tebuireng ini tidak akan berhenti di tiga kesimpulan tersebut. Namun, para kiai dan anak cucu pendiri NU ini juga akan menggelar pertemuan lanjutan guna menjaga marwah NU agar tidak terseret dalam pusaran politik praktis.

“Ini akan ada pertemuan lagi menyusul, di kediamannya KH Hasib Wahab,” pungkas pria yang juga cucu Wakil Rais Akbar NU 1926 KH Ahmad Dahlan Ahyad.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah dzurriyah pendiri NU yang hadir diantaranya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah yang merupakan cucu KH Hasyim Asy’ari, KH Hasib Abdul Wahab yang notabene putra KH Abdul Wahab Chasbullah.

Selain itu, nama-nama kiai lainnya yakni Kiai Najih Maimun Zubair putra dari KH Maiumun Zubair, Gus Irfan Yusuf Tebuireng, Kiai Muzamil dari Jogjakarta, Kiai Ahfas Hamid Baidowi dan kiai dari Pasuruan. “Hadir pula Profesor Zahro yang juga Rektor Unipdu serta Profesor Aminudin Kasdi,” terang KH Agus Sholahul Am Wahib Wahab.

Editor
Z Arivin