Iklan Bank Jatim FaktualNews
FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Dengan Menyulam, Ibu-ibu di Pasuruan Bantu Ekonomi Keluarga

Ekonomi     Dibaca : 69 kali Jurnalis:
Dengan Menyulam, Ibu-ibu di Pasuruan Bantu Ekonomi Keluarga
FaktualNews.co/Abdul Aziz/
Hasil penyulaman yang dilakukan para ibu-ibu untuk membantu perekonomian keluarga.

PASURUAN, FaktualNews.co – Kawasan Desa Sidogiri, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, selain dikenal sebagai Kawasan Pondok Pesantren (Ponpes), ternyata juga menyimpan geliat perekonomian yang dinamis. Sebagian ibu-ibu memanfaatkan waktunya untuk berinovasi lakukan penyulaman untuk tambahan ekonomi.

Seperti di Dusun Wangkal, salah satu Dusun di Desa Sidogori. Setiap hari, terlihat kesibukan ibu-ibu rumah tangga yang menyulam jilbab atau kerudung dengan motif berwarna-warni, sesuai dengan permintaan pasar. Jumlahnya pun bukan lagi puluhan, tapi ratusan ibu-ibu yang menjadikan ‘Sulam’ sebagai penghasilan tambahan setiap hari.

Luluk Romziah (40), yang mempekerjakan ratusan ibu-ibu yang tak lain para tetangga di sekitar tempat tinggalnya. Sudah 12 tahun lamanya, ia bergelut dengan dunia menyulam. “Awalnya saya ikut bikin sulam, akhirnya membuat usaha sendiri, agar mandiri, tambahan penghasilan keluarga,” ujar Luluk, saat ditemui di rumahnya, Minggu (28/10/2018).

Dengan memberanikan diri memulai usahanya kecil-kecilan. Untuk mendapatkan motif sulam beragam, dirinya belajar ke Kota Bangil yang terkenal akan bordir dan sulam. Saat dirinya berniat membeli kerudung di salah satu toko, pemilik toko tertarik dengan motif sulam yang ada pada kerudung paris yang dikenakan Luluk.

Saking tertariknya, Luluk langsung ditawari order sulam dengan jumlah yang cukup banyak. “Saya masih ingat, order pertama saya adalah membuat sulam sebanyak 5 kodi. Kalau satu kodi jumlahnya mengapai 20 jilbab, berarti saya dapat order 100 jilbab yang harus saya sulam. Tentunya kesempatan itu gak tak sia-siakan,” tandasnya.

Untuk satu jilbab paris, Luluk mematok harga Rp 25 ribu hingga Rp 45 ribu kepada pemesan atau dijual ke pengepul. Sekarang, jumlah pesanan jilbab sulam yang datang kepadanya sudah mencapai lebih dari 500 jilbab selama sebulan. Daerah pengirimannya hingga ke Malang, Surabaya, Probolinggo hingga Jakarta.

Sebenarnya, Luluk sangat antusias untuk menerima semua pesanan, akan tetapi menyulam tidak sama dengan menjahit, lantaran semuanya dilakukan dengan tangan alias handmade. “Menyulam itu harus sabar dan ulet, karena ibu-ibu di sini menyulam sambil mengasuh anak. Sehari hanya dua sulaman saja,” ungkap Luluk sembari lihatkan hasil sulaman .

Sulaman milik Luluk bervariasi sesuai pesanan, mulai dari motif bunga tulip, mawar, sedap malam, hingga motiv hewan ubur-ubur. Cara menyulam nya pun berbeda. Ada yang dinamakan sulam bayang (menyulam dari depan tapi hasilnya terlihat di belakang), dan ada juga Sulam Bulion (menyulam dari depan hasilnya juga di depan).

Seluruhnya tergantung dari order yang diterimanya. Bahkan dalam satu bulan, dirinya bisa meraup keuntungan bersih antara Rp 3 juta-Rp 5 juta. Keuntungan tersebut selain ditabung, juga untuk membeli kerudung, benang sulam dan keperluan lainnya. “Alhamdulillah bisa buat menyekolahkan anak dan memberdayakan ibu-ibu sekitar kampung sini,” pungkasnya.

Editor
Saiful Arief
Tags