FaktualNews.co

Musim Hujan, Masyarakat di Mojokerto Mulai Cemas

Peristiwa     Dibaca : 413 kali Penulis:
Musim Hujan, Masyarakat di Mojokerto Mulai Cemas
FaktualNews.co/Amanullah/
Normalisasi sungai Sadar Mojokerto.

MOJOKERTO, FaktualNews.co – Memasuki musim penghujan, masyarakat yang berada di bantaran aliran sungai sadar yang berada di Kabupaten Mojokerto, mulai dilanda rasa cemas dan ketakutan.

Sebab, mendekati musim penghujan, proyek normalisasi sungai sadar yang dikerjakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas menyerap APBN Rp 350 miliar belum rampung terpantau banyak material normalisasi berserakan di tengah suangi.

Bahkan sampai saat ini, normalisasi sungai Sadar yang direncanakan akan berjalan dalam dua tahap sampai 2019. Tahap 1 dikerjakan tahun ini dengan anggaran Rp 220 miliar, sisanya Rp 130 miliar akan digunakan pada tahap dua ini, sudah terdapat beberapa rumah yang di bongkar karena berada di lahan tanah milik negara.

Seperti yang terpantau di wilayah Dusun Gembongan, Desa Jotangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto sudah terdapat 8 rumah yang sudah di bongkar. Dan di sepanjang aliran sungai sadar yang kerap meluap saat hujan deras, terlihat para pekerja sedang melangsungkan normalisasi. Baik melakukan pengerukan ataupun pelebaran.

Salam, 54, salah satu warga Dusun Gembongan, Desa Jotangan, Kecamatan Mojosari mengatakan, hampir satu bulan lebih bagian belakang atau dapur rumahnya di bongkar bersama tujuh rumah lainya yang dianggap berada diatas tanah milik negara.

Hal yang sama juga dikatakan Suwarniati, 48, dirinya mengatakan sekitar tiga meter bagian rumahnya ikut terbongkar itu pun tanpa adanya ganti rugi.

Menurutnya selain rumahnya juga ikut dibongkar, dirinya juga menyesalkan pembongkaran delapan rumah yang terdampak proyek normalisasi tersebut. Selain, dianggap keputusan sepihak, juga tidak ada ganti rugi pada rumah yang terdampak.

Meski, dengan adanya normalisasi sungai sadar yang dinilai bisa menjadi solusi terjadinya banjir, namun sampai saat ini masih menjadi kekhawatiran tersendiri bagi warga. Sebab, selain proyek belum benar benar selesai di tambah banyak material nampak masih berserakan. Rasa kehawatiran bakal menyebabkan banjir lebih parah.

Di lain sisi, tepat dibelakang rumahnya juga sedang dibangun seperti saluran pompa air yang sampai saat ini belum juga rampung. Ditambah saluran air yang bisanya mengalir ke sungai sadar kini sudah tertutup, secara otomatis jika terjadi hujan lebat bakal berdampak lebih para.

Menurutnya, seharusnya normalisasi yang memiliki tujuan dapat mengembalikan fungsi sungai, dan mencegah banjir disetiap musim hujan akibat air sungai meluber ke pemukiman, tidak mengenyampingkan warga setempat.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
S. Ipul