FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Alasan Wanita Gugat Cerai Suami, Berikut Dampak Psikologis yang Akan Dialami

Gaya Hidup     Dibaca : 188 kali Jurnalis:
Alasan Wanita Gugat Cerai Suami, Berikut Dampak Psikologis yang Akan Dialami
Ilustrasi perceraian

FaktualNews.co – Sebagian orang akan menilai gugatan istri diajukan berdasarkan kemarahan dan kondisi yang bisa jadi dapat dikompromikan antara suami istri, dibantu pihak ketika jika diperlukan.

Begitu juga dengan kabar gugatan cerai Gisella Anastasia terhadap suaminya Gading Marten yang didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, mengejutkan publik. Lantaran pernikahan yang telah dibina selama lima tahun dan memiliki seorang anak ini jauh dari terpaan gosip miring.

Namun, Gisel menggugat cerai Gading dengan nomor perkara (908/Pdt.G/2018/PN JKT/SEL), menjadi bukti keretakan rumah tangga Gisel dan Gading.

Mengutip laman Psichology Today dari MSN,com. Berdasarkan survei terhadap 2.262 pasangan yang sudah berpisah, hampir 70 persen perempuan yang mengajukan cerai.

Riset yang dilakukan oleh American Sociological Association ini memaparkan perempuan yang sudah menikah merasa kualitas hubungan mereka dengan suami kian berkurang.

“Para istri merasa kehidupan pernikahan yang mereka jalani sebagai bentuk penindasan dan membuat tidak nyaman,” kata peneliti Michael Rosenfeld.

Bagi sebagian perempuan, dia melanjutkan, pernikahan bukan lembaga yang mampu mengakui apalagi mewujudkan harapan para perempuan untuk kesetaraan.

Contoh, istri masih menggunakan nama belakang suami dan terkadang mereka dipaksa untuk melakukan itu. Belum lagi urusan rumah tangga, misalnya mengatur makan sehari-hari, beberes rumah, pengasuhan anak, dan sebagainya, di mana para suami kerap membebankan semua persoalan itu kepada istri, meski dia seorang wanita kerier.

Dengan begitu, Michael Rosenfeld mengatakan, anggapan kalau perempuan yang menggugat cerai karena alasan emosional tidak berdasar.

Psikolog yang juga konsultan pernikahan, Douglas LaBier mengatakan perempuan bisa lebih detail dan konkret dalam menjabarakan apa saja yang membuat dia tidak nyaman dalam membangun rumah tangga.

“Ketika melakukan konseling sebelum berujung pada perceraian, istri lebih terbuka tentang konflik rumah tangga yang mereka alami,” ucap Douglas LaBier.

Sebaliknya, suami cenderung mengeluhkan ketidakpuasan istri, namun sebagian besar merasa semua itu wajar dan akan berlalu dengan sendirinya. Padahal setiap masalah dalam pernikahan, Douglas LaBier menambahkan, harus menemukan solusi yang adil bagi suami maupun istri dan tak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Berikut adalah 4 dampak psikologis yang dialami istri saat menggugat cerai suami seperti disarikan dari Livestrong.com.

1. Alami Depresi

Depresi adalah akibat umum yang terjadi karena perceraian.

Wanita seringkali membuat imajinasi sebelum menikah yang ternyata berbeda dengan kenyataan.

Perceraian menjadi gerbang yang membawa wanita ke dalam masa 3 tahun depresi.

2. Rasa Bersalah

Emosi paling dasar dari wanita yang lakukan gugatan cerai adalah merasa bersalah.

Ini disebabkan oleh perasaan bersalah tidak dapat mempertahankan ikatan pernikahan.

Trauma emosional dan dampak psikologis anak-anak juga sebabkan wanita merasa bersalah.

3. Kecemasan

Membayangkan kehidupan pasca perceraian memiliki ketakutan tersendiri bagi para wanita.

Kendati menggugat cerai suami, istri tetap saja akan merasa kehilangan rasa aman.

Rasa aman ini menyangkut psikologis, fisik maupun secara finansial.

4. Efek Positif

Mengejutkan, ternyata ada efek positif dari istri yang gugat cerai suami.

Terutama karena perasaan lega setelah kehilangan tekanan dalam kehidupan pernikahan.

Para wanita yang bercerai dapat menemukan peluang karir baru, jejaring sosial dan meningkatkan harga dirinya.

Tidak sedikit yang setuju bahwa perceraian adalah akhir yang menyedihkan dari sebuah pernikahan.

Namun demikian, mempertahankan kehidupan rumah tangga tanpa kebahagiaan tidak lebih indah dari perceraian.

Editor
Saiful Arief

YUK BACA

Loading...