Religi

Haul ke-34 Mbah Ilyas : Kiai Nyentrik, Pejuang Era Kemerdekaan

MOJOKERTO, FaktualNews.co – Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Al Misbar Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kembali menggelar peringatan Haul Mbah Ilyas. Rangkaian acara Haul Ke-34 Mbah Ilyas ini sedianya digelar selama dua hari, yakni 6-7 Desember 2018.

Direncanakan bakal hadir dalam acara rutin setiap tahun tersebut adalah beberapa kiai Jawa Timur (Jatim). Di antaranya KH Imam Hambali asal Surabaya, KH Mujayyid dari Malang, dan Wakil Gubernur (Wagub) Jatim H. Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

”Untuk pengajian umum dalam rangkaian puncak haul akan dihelat pada Kamis Malam Jumat Legi 6 Desember di halaman pesantren. Dimulai pukul 19.30 WIB,” ujar Ketua Panitia Haul Ke-34 Mbah Ilyas, H. Muhammad Syukron Fahmi.

Putra pengasuh PP Salafiyah Al Misbar, KH Chusaini Ilyas, ini menuturkan, rangkaian acara diawali sejak Kamis 6 Desember 2018 usai Salat Subuh. Pukul 05.00-15.00 panitia menghelat khotmil Quran dengan 10 majelis di tempat berbeda. Dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Al-Habsyi bertempat di Makam Mbah Ilyas pada pukul 15.00-17.30 WIB. Sebagai acara pamungkas di hari itu adalah malam pengajian umum.

”Untuk pembicara resmi panitia Insyaallah telah mengundang beberapa kiai. Termasuk KH Imam Hambali dan KH Mujayyid dijadwalkan rawuh (hadir, Red),” imbuh ayah dua anak akrab dengan sapaan Gus Fahmi ini.

Dia juga meluruskan belakangan ini beredar pengumuman melalui media sosial (medsos). Sedianya acara akan dihadiri oleh beberapa nama kiai sepuh sebagai pembicara.

Salah satunya adalah kiai kharismatik KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Bahkan informasi tersebut seolah-olah mewakili kepanitiaan. Padahal, akun tersebut tidak ada kaitannya dengan panitia haul.

”Kami mohon doa restunya agar acara ini berlangsung khidmat, barakah dan manfaat. Dengan tetap menjaga silaturahim dan tidak menyebarluaskan informasi atau kabar di luar tanggungjawab kami (panitia),” tandas Gus Fahmi.

Sementara acara akan dipungkasi dengan Semaan Jantiko Mantab dan Dzikrul Ghofilin pada Jumat 7 Desember 2018. Semaan dibuka sejak bakda Salat Subuh ini rencananya dipimpin langsung Agus Sabuth Panitoprojo, putra Gus Miek. ”Seperti biasa, Dzikrul Ghofilin dimulai sesudah Salat Subuh hingga selesai pada pukul 21.00 WIB,” imbuhnya.

Gus Fahmi menambahkan, dalam Dzikrul Ghofilin ini akan ada pembacaan kiriman doa fatihah yang ditujukan kepada sesepuh, auliya, dan ahli kubur. Ia mengimbau bagi warga Nahdliyin atau masyarakat umum yang ingin berkirim doa untuk orang tua, keluarga dan kerabat yang telah mendahului, diperkenankan mendaftar ke panitia.

”Bisa langsung mendaftarkan nama-nama almarhum-almarhumah kepada panitia. Selambat-lambatnya pada Selasa tanggal 4 Desember,” tandas Gus Fahmi.

Mbah Ilyas merupakan sosok kiai kharismatik asal Mojoranu, Kabupaten Mojokerto. Siapapun ketika itu begitu ingin dekat dengan beliau. Mereka meyakini, Mbah Ilyas memiliki karomah yang luar biasa.

“Mbah Ilyas adalah sosok yang unik dan nyeleneh. Beliau sering meminta sumbangan dan memberikan hasil sumbangan itu pada orang lain. Orang yang dimintai uang atau barang dengan senang hati memberi karena setelah memberi mereka mendapat rejeki yang lebih pada hari itu,” kata Sejarahwan Muda Mojokerto, Ayuhannafik, saat berbincang dengan FaktualNews.co beberapa waktu lalu.

Yuhan menuturkan, Mbah Ilyas memiliki andil yang luar biasa dalam perjuangan memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Pasca keluarnya Resolusi Jihad, gelombang pengiriman pemuda pejuang ke Surabaya dari Mojokerto pada tahun 1945 seperti tak pernah putus. Para pemuda Mojokerto ini bahkan harus antre menanti giliran berperang di medan pertempuran guna mengusir NICA dari Bumi Pertiwi.

Peran Mbah Ilyas cukup vital. Beliau merupakan salah satu Kiai yang menggembleng pasukan Laskar Hizbullah sebelum berangkat ke medan palagan. Banyak pemuda yang siap tempur usai mendapatkan wejangan dari beliau demi mempertahankan NKRI dari tangan penjajah.

“Salah satunya dengan memberikan suwuk kebal. Menurut H Sholeh Hasyim, salah satu pejuang, saat hendak disuwuk, Mbah Ilyas ini meminta satu persatu pejuang tidur tengkurap tanpa mengenakan baju. Jadi dengan tangannya sendiri beliau menuliskan rajah bertinta minyak di punggung para pemuda itu. Minyak yang digunakan itu harum baunya,” terang Yuhan.

Suwuk ampuh Mbah Ilyas ini ternyata begitu kondang. Tidak hanya pemuda pejuang yang berasal dari Hizbullah yang datang ke mereka, melainkan banyak anggota kelompok lain. Seperti halnya, pejuang BPRI Cabang Mojokerto dan juga para prajurit lainnya. Dengan suwuk itulah timbul keyakinan, jika akan mendapatkan keselamatan dalam pertempuran.

“Kontribusi Mbah Ilyas memang luput dari catatan. Namun diakui atau tidak, ilmu suwuk ikut berperan dalam perang kemerdekaan. Jadi sudah sepantasnya kita menghargai apa yang diberikan Mbah Ilyas dan para kiai kepada bangsa ini,” tandas Yuhan.