Peristiwa

Bohong, Amiruddin Jalan Kaki dari Medan hingga Banyuwangi Bukan untuk Temui Ibunya

SURABAYA, FaktualNews.co – Sejak sebulan terakhir, warganet dihebohkan dengan Amiruddin, pria asal Sumatera Utara yang bernadzar jalan kaki menuju Banyuwangi karena sembuh dari sakit untuk bersimpuh di kaki ibunya. Namun akhirnya, kedok Amir terbongkar.

Kedok Amir akhirnya terkuak setelah laman Facebook Alun-Alun Genteng mengunggah video pengakuan Amiruddin dihadapan warga. Selain mengunggah video pengakuan Amir, pemilik akun juga menuliskan sejumlah keterangan dalam video tersebut.

Kalipuro, Sabtu 26 Januari 2019

*Video Pengakuan Amir alias Udin alias Udin Jambek*

Setelah makan siang di RM Setia, Situbondo kemarin siang (26/12), Udin alias Amir dibawa oleh team relawan dgn kawalan Polisi menggunakan mobil menuju arah timur untuk dibawa ke Kantor desa Ketapang Kec. Kalipuro, Banyuwangi.

Sesampai di kantor desa Ketapang Udin alias Amir warga Desa Mangga Dua, Kec. Tanjung Beringin, Kab. Sedang Bedagai, Sumatera Utara ini memberikan klarifikasinya bahwa semua apa yg dia lakukan adalah cerita bohong dan dari hasil menjual cerita bohong (baca nadzar,red.) tsb Udin alias Amir berhasil mengantongi uang hasil sumbangan org yg iba demi mendengar kisah bohongnya itu sejumlah Rp. 50 juta WOWW!!

Dan setelah terbongkar kedok Udin ini apakah masih ada yg bilang AMIR NGGAK SALAH???

Sumber: Reza Fernandez

Pada laman Facebook tersebut, nampak video pengakuan Amiruddin dan alasannya berjalan dari Medan hingga Banyuwangi bukan untuk bersujud di kaki ibunya, melainkan untuk mencari temannya yang bekerja di sana.

Dalam video tersebut, Amir yang mendapatkan simpatik dari berbagai relawan dan netizen hampir diseluruh kota yang disinggahi, mengaku jika ibundanya masih hidup namun tidak berada di Banyuwangi. Melainkan di Sumatera Utara.

“Sebelumnya saya minta maaf. Sebenarnya saya menjalankan nadzar itu hanya untuk berjalan kaki dari Sumatera ke Banyuwangi. Sebenarnya yang saya tuju itu tidak ada,” kata Amir dalam video tersebut.

Selain itu, Amir juga mengakui jika mendapatkan uang banyak dari viralnya perjalanannya menuju ke Banyuwangi. Awalnya ia mengaku mendapatkan uang Rp 25 juta dari warga dan relawan yang memberinya di sepanjang perjalanan.

Namun, setelah didesak oleh warga, Amir pun akhirnya buka kartu. Ia mengatakan jika uang yang didapatkan sepanjang perjalanan sekitar Rp 49 juta.

“Kalau saya hitung pemberian dari masyarakat itu total 25 juta. Yang di rekening, yang dimasukan saudara-saudara saya itu Rp 49 juta,” jelasnya.

Menurut Amir, dirinya memang memiliki nadzar untuk berjalan kaki dari Sumatera hingga Banyuwangi. Lantaran ia sudah sembuh dari sakitnya. Namun bukan untuk bersimpuh di kaki ibunya yang berada di Banyuwangi.

“Niat sebenarnya saya dari Sumatera ke Banyuwangi hanya untuk menjalankan nadzar saya saja. Semula saya sakit sama sekali saya tidak mengharapkan seperti ini. Waktu saya kerja itu ada teman saya orang banyuwangi tapi tidak kasih tahu namanya, cuma ngomong rumahnya di belakang Masjid. Iya (untuk mengunjungi teman kerja),” jelasnya.

Pasca kedoknya terbongkar, Amir mengaku ingin kembali ke Sumatera Utara. Anak kedua dari tiga bersaudara ini ingin bertemu dengan ibunya yang berada di Sumatera Utara. Ia pun meminta maaf kepada masyarakat.

“Saya ingin kembali ke Sumatera Utara. Saya mohon maaf yang sebenar-benarnya,” pungkas Amir.

Untuk diketahui, aksi heroik Amiruddin, pria asal Desa Mandailing Kecamatan Sei Rampal Kabupaten Serdang Begadai, Sumatera Utara yang bernadzar untuk jalan kaki menuju Banyuwangi karena sembuh dari sakit mendapatkan simpati dari masyarakat.

Bahkan ada beberapa pejabat dan kepala daerah yang juga bersimpati. Salah satunya Habib Hadi Zainal Abidin, Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin di Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo.

Pria yang juga merupakan Wali Kota Probolinggo terpilih itu secara khusus mengundang pak amir ke pondoknya. Bahkan, habib mempersilahkan pak Amir untuk istirahat di pondoknya.

Amiruddin jalan kaki dari rumahnya, sejak 20 November 2018 lalu. Pria berusia 43 tahun tersebut akhirnya memiliki nadzar jalan kaki dari Sumatera Utara ke Banyuwangi, gara-gara kedua kakinya sempat lumpuh selama 7 bulan.

Karena kondisi yang dialaminya itulah, Amiruddin akhirnya bernadzar, jika kakinya bisa sembuh ia akan jalan kaki dari rumahnya ke Banyuwangi tempat tinggal ibunya untuk mencium kakinya.