FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Pasutri Perajin Darbuka Asal Pasuruan, Marketing Lewat Komunitas, Ekspor Hingga Malaysia

Ekonomi     Dibaca : 420 kali Jurnalis:
Pasutri Perajin Darbuka Asal Pasuruan, Marketing Lewat Komunitas, Ekspor Hingga Malaysia
FaktualNews.co/Aziz/
Achmad Najich dan Tutik Mudzakiroh menunjukkan hasil alat musik darbuka buatannya.

PASURUAN, FaktualNews.co – Kepopuleran alat musik Darbuka rupanya menaikkan bisnis pembuatan Darbuka milik pasutri Achmad Najich dan Tutik Mudzakiroh asal Winongan Lor, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan. Hasil usaha yang mereka geluti mayoritas dikirim ke seluruh Indonesia bahkan ekspor hingga ke negeri Jiran Malaysia.

Rumah milik pasangan Achmad Najich (30) dan Tutik Mudzakiroh (26) memang tak jauh dari Pasar Winongan. Dengan teras yang cukup luas, juga nampak puluhan Darbuka yang siap kirim. Alat musik yang dipukul dan berbentuk jam pasir ini kian menarik lantaran desain warna luar yang beragam dan futuristik.

Aktivitas produksi memang sedang libur. Namun tumpukan Darbuka siap dikirimkan ke reseller mereka. Achmad Najich mengatakan menjelang Maulud lalu permintaan terus tinggi.

“Sampai berapapun produksi kami diminta semua karena ramainya permintaan alat musik darbuka menjelang Maulud Nabi,” ungkapnya, Minggu (10/2/2019).

Najich mengatakan bahwa memulai bisnis pembuatan Darbuka lantaran tidak sengaja. Dulu sejak SMP dirinya memang ikut kelompok AL Banjari hingga sekarang. Awalnya banyak yang minta diajarin dan akhirnya lama-lama pesan alat musiknya juga. Salah satu alat musik yang banyak dipesan adalah Darbuka lantaran di Pasuruan memang belum ada penjualnya.

“Dulu saya pesan ke kawasan Kudus, Jawa Tengah, bahkan sebulan bisa 4-5 buah saja. Karena dirasa cukup lama, akhirnya saya punya inisiatif untuk membuat alat untuk tabuh Al Banjari ini. Akhirnya baru kepikiran kenapa gak produksi sendiri. Akhirnya saya niat untuk membuatnya meski secara otodidak,” paparnya.

Najich mengatakan memiliki ide saat baru menikah dengan istrinya, Tutik Mudzakiroh sejak tahun 2012 lalu. Sebagai pedagang toko peracangan awalnya, Najich mengaku antusias mencoba mencari cara membuat alat musik Darbuka.

“Awalnya saya pesan ke perajin logam di Mayangan, Kota Pasuruan untuk membuat bentuk awalnya yang dari aluminium. Tapi lambat laun ternyata produksi gak nututi karena permintaan makin tinggi,” jelasnya.

Akhirnya tahun 2013, Najich pun mencari karyawan yang punya basic perajin logam. Sehingga semua produksi dari pengecoran, bubutan atau penghalusan bentuk, finishing atau painting dilakukan di rumah mereka. Termasuk karena Najich juga punya basic pemain Al Banjari sehingga bisa menjadi tester terakhir terkait kualias Darbuka sebelum dikirim ke reseller.

Dikatakan alat musim Darbuka sendiri memang sudah lama ada dan masuk di Indonesia. Biasanya dipakai untuk kelompok Al Banjari sampai musik band. “Namun justru makin populer 3 tahun terakhir ini sejak dipopulerkan oleh Ahbabul Musthofa, Grup Al Banjari dari Solo,”terang dia.

Semenjak itu, permintaan Darbuka memang makin tinggi. Tak hanya kelompok Al Banjari yang membeli, tapi juga perseorangan yang suka dengan musik pukul ini pun banyak yang memesan. Bahkan Tutik Mudzakiroh punya inisiatif berjualan lewat di Facebook pribadinya.

Termasuk berkampanye untuk mengenalkan alat musik Darbuka untuk anak mereka.“Dan ternyata responnya juga bagus, karena daripada bermain gadget, orang tua lebih suka membelikan darbuka untuk belajar alat musik anaknya,” terang Najich.

Saat ini mereka sudah memiliki 4 karyawan. Dalam sehari bisa menyelesaikan 15-20 Darbuka. Untuk ukuran ada 3 jenis, yaitu 8,5 inchi, 8 tiga perempat inchi dan 9 inchi dengan berat 4-5 kilogram. Untuk harga bervariatif mulai dari Rp 750 ribu sampai Rp 2 jutaan.

Untuk memaksimalkan penjualan, Najich mengatakan memaksimalkan reseller. Selain banyak menggunakan teman komunitas Al Banjari di Pasuruan dan kota lain, juga ada yang di toko. Tercatat penjualan mereka sudah ke semua kota di Indonesia termasuk sampai ke negeri Jiran Malaysia.

“Saat menjelang Maulud Nabi lalu sampai kita tidak punya stok, bahkan meminta semua stok kosong, karena permintaan tinggi sampai lipat 3 dari biasanya,” jelasnya.

Dikatakan bahwa yang berbeda dari hasil Darbuka mereka adalah, konsumen bisa meminta desain khusus untuk Darbuka mereka. Seperti ada logo grup ataupun nama pemiliknya. Karena itu permintaan terus laris dan diperkirakan akan terus tinggi karena musik Al Banjari saat ini makin banyak digemari masyarakat Indonesia.

 

 

 

Editor
Nurul Yaqin

YUK BACA

Loading...