FaktualNews.co
verifikasi dewanpers faktualnews

Menangis di Hadapan Hakim, Terdakwa Pengerusakan Surat Suara di Sidoarjo Menyesal

Hukum     Dibaca : 287 kali Jurnalis:
Menangis di Hadapan Hakim, Terdakwa Pengerusakan Surat Suara di Sidoarjo Menyesal
FaktualNews.co/Nanang/
Terdakwa tertunduk dan menangis di hadapan Majelis Hakim PN Sidoarjo

SIDOARJO, FaktualNews.co – Sikap Mulyadi, terdakwa pengerusak surat suara Pileg 2019 di TPS 9 Desa Kloposepuluh, Kecamatan Sukodono yang enggan mengakui perbuatannya akhirnya terbuka.

Di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo,  yang diketuai Sih Yuliarti, pria 56 tahun itu mengakui semua perbuatannya telah merusak surat suara Pileg DPRD Kabupaten Sidoarjo,  pada 17 April 2019 lalu.

“Iya saya mengakui,” ucap terdakwa, usai diminta majelis hakim berterus terang ketika duduk di kursi pesakitan diperiksa keterangannya, Selasa (11/6/2019) malam.

Pengakuan terdakwa membuat kaget semua pihak, sebab selama proses penyidikan, Mulyadi enggan mengakui dan sering menjawab lupa. Bahkan, ketika delapan saksi dan seorang ahli dihadirkan oleh penuntut umum memberikan kesaksian, terdakwa tetap membantah keterangan para saksi.

Mulyadi pun berterus terang bahwa dirinya memang mencoblos surat suara untuk anggota DPRD Sidoarjo, yang masih belum dilakukan penghitungan oleh petugas KPPS 9  Kloposepuluh yang tertumpuk rapi dan sudah terbuka di atas meja yang berada di depannya itu.

“Itu saya coblos (surat suara DPRD Kabupaten) saat proses penghitungan surat suara anggota DPRD Provinsi. Kejadian itu ba’da magrib pada 17 April 2019 lalu,” aku mandataris saksi PKB di TPS 9 Kloposepuluh itu sambil menangis dan melepas kacamata yang dipakainya.

Ia mengaku, pencoblosan itu menggunakan benda tajam semacam paku yang ditemukan dari bawah tempat duduknya.

“Waktu itu spontan saja. Benda tajam itu saya ambil dan saya coblos surat suara yang ada di depan saya. Itu tidak semua,” jelasnya.

Surat suara yang dicoblos secara acak itu diakui terdakwa hanya sekitar 12 surat suara, bukan seperti yang didakwakan penuntut umum sebanyak 49 surat suara.

“Itupun bukan hanya PKB saja yang saya coblos. Tapi, saya pengen PKB dapat suara banyak,” ungkapnya.

Meski demikian, majelis hakim menyingung terkait motif terdakwa melakukan pencoblosan surat suara. “Apa motif terdakwa, dan apakah ada yang memerintah,” tanya Sih Yuliarti.

Pertanyaan itu langsung dijawab dengan tegas oleh terdakwa bahwa perbuatan itu dilakukan secara spontan dan tidak ada perintah siapapun.

“Saya mengakui dan menyesali perbuatan yang saya lakukan salah. Itu tidak ada motifasi ataupun niatan, itu hanya spontan. Saya juga tidak ada yang memerintah,” jelas terdakwa yang didampingi tim penasehat hukum S Makin Rahmat itu.

Usia mendengar pengakuan dan penyesalan terdakwa, majelis hakim akhirnya memutuskan menunda sidang besuk Rabu (12/6/2019) dengan agenda tuntutan dan pembacaan pledoi.

“Sidang ditunda besuk,” ucap Sih Yuliarti, sambil mengetok palu.

Sementara usai persidangan terdakwa yang terlihat lemas dan bekas air mata masih Nampak, menyalami semua pengunjung yang menyaksikan sidang tersebut.

Sebagimana diketahui, Mulyadi didakwa telah merusak surat suara untuk Pileg DPRD Kabupaten Sidoarjo pada 17 April 2019 lalu. Pengerusakan itu dilakukan saat penghitungan surat suara DPRD Provinsi Jatim.

Perbuatan terdakwa itu tidak sadar ternyata terkam video amatir oleh saksi dari PBB. Video itu sempat viral hingga proses ke ranah hukum dan KPU harus melaksanakan PSU di TPS 9 Desa Kloposepuluh, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo pada Sabtu (27/4/2019) lalu.

Atas perbuatan itu, Mulyadi harus duduk di kursi pesakitan PN Sidoarjo. Pengurus takmir masjid itu didakwa melanggar pasal 532 Uundang-undang nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu.

Editor
Nurul Yaqin

YUK BACA

Loading...