FaktualNews.co

Harga Cabai  di Pasar Tinggi, Tapi Petani Cabai Mojokerto Tak Bisa Menikmati

Peristiwa     Dibaca : 466 kali Penulis:
Harga Cabai  di Pasar Tinggi, Tapi Petani Cabai Mojokerto Tak Bisa Menikmati
Faktualnews/amanu
Salah seorang petani di Dusun Berjel Kedol, Desa Pocok, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto sedang mengambili sisa sisa cabai yang masih bisa digunakan.

MOJOKERTO, FaktualNews.co-Harga cabai belakangan ini cukup tinggi, hingga Rp 60 ribu per kilogram di pasar tradisional. Namun para petani cabai di Kecamatan, Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, malah tidak bisa menikmati harga tinggi tersebut.

Itu karena mereka mengalami gagal panen. Gagal panen itu sendiri diakibatkan datangnya musim kemarau yang lebih awal, yang membuat hektaran lahan cabai mengering dan tidak layak jual.

Para petani pu8n memilih membiarkan tanaman cabai miliknya mengering di pohon.

Seperti petani cabai di Dusun Berjel Kedol, Desa Pocok, Kecamatan Dawarblandong, yang selama ini menjadi pemasok cabai.

Hektaran ladang cabai nampak mengering, karena cuaca yang panas dan kekurangan air. Para petani banyak yang membiarkan cabai mengering di pohonya.

“Musim kemarau sejak bulan ke empat yang lalu. Petani cabai di sini sudah mulai kelabakan,” keluh Sugeng (63) petani cabai di Dusun Berjel Kedol, Desa Pucuk, Dawarblandong, Kamis (18/7/2019).

Dia menuturkan, musim kemarau mengakibatkan para petani di Kecamatan Dawarblandong tak diuntungkan tanaman cabai.

“Terakhir panen setengah bulan lalu. Tapi itu sisa-sisa. Alhamdulillah saya masih sempat menjual dengan harga per kilogram Rp 30 ribu,” terangnya.

Dia menyebutkan, saat ini petani cabai di Kecamatan Dawarblandong, memilih menanam tanaman lain, seperti kangkung dan lainnya. Ini lantaran tanaman cabai sudah tak lagi produktif di musim kemarau.

“Sebelum kemarau, ladang seluas 300 meter persegi mampu menghasilkan puluhan kilogram cabai. Tapi sekarang sudah tidak bisa. Makanya saya cabuti pohonnya. Ini saya biarkan sampai nanti musim hujan, baru akan kembali menanam,” sebutnya.

Sugeng mengaku rata-rata satu hektare tanaman cabai di Kecamatan Dawarblandong, jika cuaca normal, mampu menghasilkan tiga sampai empat kuintal cabai, dan menghasilkan uang kisaran uang Rp 5 juta.

“Tapi sekarang bisa lihat sendiri, tidak laku dijual. Makanya para petani sengaja membiarkan cabai mengering di pohon,” sebutnya.

Tak pelak para petani mengalami kerugian hingga jutaan rupiah, karena biaya produksi cukup mahal, sementara hasil tidak mampu menutup biaya produksi.

“Kami jelas rugi. Tapi mau gimana lagi, kita tak bisa berbuat apa-apa, sebab tanaman cabai sangat membutuhkan air untuk tetap bertahan hidup. Meski hari ini harga dipasaran tinggi, kami tidak bisa ikut menikmati,” jelasnya.

Ia menjelaskan, biasanya para petani menjual hasil panen kepada para tengkulak datang sendiri. “Pada bulan 4, per kilogram harganya Rp 5000 hingga Rp 6000. Kalau sekarang, dipakai sendiri, itu pun sisa sisa,” katanya.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono