Sosial Budaya

Lestarikan Budaya Keris, Ini yang Dilakukan Disparbud Trenggalek Bersama Paguyuban Pelestari

TRENGGALEK, FaktualNews.co – Pemkab Trenggalek bekerja sama dengan Paguyuban Pelestari Budaya Keris Trenggalek, menggelar Gebyar Pameran Pusaka dan Bursa Tosanaji Nusantara.

Pameran yang merupakan rangkaian kegiatan menyambut HUT Kemerdekaan itu digelar selama tiga hari, Senin-Rabu (19-21/8/2019).

Peserta cukup banyak, yakni 23 Kabupaten/kota se-Indonesia dan mengedukasikan sedikitnya 50 sekolah mulai tingkat SD, MI, SMP dan SMA sederajat.

Tujuan diadakan gebyar pameran pusaka, untuk menumbuhkan peminat terhadap generasi penerus, agar senantiasa menjaga kelestarian budaya keris serta benda-benda bersejarah di Trenggalek.

Selain itu, satu-satunya pameran, yang mengeluarkan sertifikat dari Kedaton Mojopahit, Trowulan Mojokerto atas kepemilikan pusaka.

Bupati Trenggalek Moch Nur Arifin mengucapkan terimakasih terhadap para pelestari benda pusaka. Sehingga kelestariannya sampai sekarang tetap terjaga.

“Kami berharap dengan diadakan gebyar pameran pusaka ini bisa memberi motivasi kepada generasi penerus agar tetap terjaga kelestariannya,” ungkapnya, Senin (19/8/2019).

Menurut Muhammad Taslim ketua Parikesit, keris sendiri mendapat penghargaan UNESCO pada 24 Nopember 2005, setelah wayang.Sehingga pelestariannya tentu harus dipertanggungjawabkan.

“Untuk itu kami berharap Pemkab Trenggalek ke depan membangun gedung pusaka. Agar pusaka atau keris yang dulunya pernah menjadi milik Kabupaten Trenggalek berangsur-angsur kembali sebagai kebanggaan daerah,” ucapnya.

Dijelaskan Taslim, keris selain bentuk dan ukurannya berbeda, juga terdiri dari berbagai jenis.

Seperti pusaka: luk 13, Tangguh : Kartosuro, Dapur : Sengkelat, Pamor : Wos Wutah, Jejeran : Kayu Tayuman, Mendak : Selut perak intan, Warongko : Ladrang, Kayu Trembalo dan Pendok : Perak Slorok permata intan.

“Asal usul pusaka sendiri, merupakan warisan orang tua hingga turun temurun. Untuk itu dalam pameran ini selain keris, ada juga tombak serta pusaka jenis lain yang ikut ditampilkan,” tuturnya.

Dikatakan Taslim, panitia penyelenggara pameran akan siap memberikan penjelasan tentang perkerisan. Serta siap memberikan sosialisasi tentang bagaimana cara merawat keris dan konsultasi gratis.

Selain itu panitia juga siap membelajari cara memegang dan menarik (nglolos) keris. Termasuk hal-hal detail dan rinci tentang racun warangan dan lainnya.

“Tujuannya agar generasi penerus tidak salah kaprah lagi antara keris Tangguh Sepuh dan Tangguh Kamardikan. Kendati demikian semua harus dilestarikan tanpa meninggalkan pendalaman pada fisolofi atau makna dari budaya keris itu sendiri,” katanya.

Pengertian keris Tangguh Kamardikan itu dimaksud, lanjut Taslim, adalah keris yang dibuat pada zaman sekarang atau setelah Indonesia merdeka.

Namun tatacara serta fisolofi pembuatan keris, tidak sama dengan pembuatan keris Jawa lama atau Tangguh Sepuh.

“Keris itulah yang dinamakan keris Kamardikan. Di sisi lainnya, sifat kegaiban dan tuahnya tidak sama dengan keris-keris Jawa yang umum,” imbuhnya.

Ditambahkan Taslim, harapan kami mudah-mudahan tahun depan pameran keris digelar lebih semarak dan lengkap. Seperti mendatangkan pembuat keris Kamardikan atau Mpu muda yang sekarang telah bermunculan.

“Sehingga budaya keris agar bisa tertanam pada generasi penerus dan tetap terjaga kelestariannya,” pungkasnya.