Peristiwa

Lebih Nyaman Bertani, Sebagian Warga Kaulon Blitar Enggan Lepas Lahan untuk Pabrik Gula

BLITAR, FaktualNews.co – Warga Desa Kaulon, Kecamatan Sutojayan yang menggelar aksi unjuk rasa pada Kamis (22/8/2019) di DPRD Kabupaten Blitar menegaskan kalau aksi itu murni inisiatif masyarakat. Warga benar menolak adanya pendirian Pabrik Gula Olam Sumber Manis (PG OSM).

Koordinator aksi, Sugeng saat ditemui di rumahnya Jumat (23/8/2019) menegaskan, aksi itu terlepas dari unsur politik atau ditunggangi pihak lain. Intinya warga tetap ingin mempertahankan tanah agar tidak jatuh dibeli pabrik. Ini lantaran lahan tersebut menjadi tempat bekerja warga yang mayoritas petani.

“Inginnya masyarakat, kehidupan kembali seperti dulu lagi. Tidak ada pabrik yang mengganggu pertanian warga,” ungkapnya.

Menurut dia, terkait dengan adanya intimidasi dari sejumlah oknum agar warga bersedia melepas tanah, memang benar adanya. Di satu sisi warga gigih melindungi tanahnya sebab itu lahan bekerja, sisi yang lain mereka melindungi sisi historis kalau tanah itu adalah warisan leluhur yang perlu dijaga.

“Mereka (oknum) tiap datang bilang pilih tanah atau anak cucumu. Kata seperti ini bagi warga menjadi suatu hal yang membuat kami gelisah,” ujarnya.

Senada, warga lain Edi Suroto mengatakan kalau dirinya lebih merasa merdeka dan nyaman bekerja sebagai petani menggarap tanahnya sendiri. Bila dia melepas tanah, otomatis dia tak mendapat pekerjaan.

Saat ini Edi bekerja sebagai petani Jeruk Siam di lahan 1 hektar yang masuk dalam area izin lokasi PG OSM. Menjadi petani jeruk menurutnya lebih baik, bila dibanding tawaran sebagai karyawan pabrik PG OSM sebagai kompensasi menjual tanahnya.

“Tanahnya cukup subur dan produktif tinggal siapa yang mengola. Kalau jadi karyawan kan bekerjanya ada batas usia, kalau tua gak mungkin bekerja. Apalagi kita lulusan SD SMP, mana ada pabrik yang menerima karyawan lulusan seperti kita,” jelasnya.

“Tetap lebih nyaman bertani. Ini saja bulan enam kemarin panen dapat 80 juta dibeli pedagang yang datang sendiri,” sambung Edi.

Menanggapi soal adanya imtimidasi, Kepala Desa (Kades) Kaulon, Jais, menepis kalau ada yang melakukan intimidasi kepada warga. Menurut dia berlebihan bila disebut intimidasi, yang ada hanya sosialisasi ke masyarakat.

“Ini kita ajak untuk kebaikan karena warga yang bingung pekerjaan, PT Olam ini mengganti tidak murah. Saya risih kalau dibilang intimidasi, karena saya bilangnya kalau kita punya pabrik, income tidak hanya pertanian saja. Karena tiap kemarau tidak bisa menanam apa-apa,” kata Jais.

Menurut Jais, sudah ada warga yang menjual tanahnya ke PG OSM dan terkumpul sekitar 30 hektar lebih. “Awalnya warga tidak tahu manfaatnya. Misal salah satu penentang kita, Sarip, dulu tanahnya harga perpetak 6 juta dibeli pabrik 600 juta, uangnya dibuat usaha hingga bisa beli pikap. Lalu disusul orang-orang lain,” jelas Jais.