FaktualNews.co

Air Tujuh Sumber Keramat dan Jamasan Keris Pusaka Keraton Sumenep

Advertorial     Dibaca : 1237 kali Penulis:
Air Tujuh Sumber Keramat dan Jamasan Keris Pusaka Keraton Sumenep
FaktualNews.co/Supanji
Prosesi pengambilan air di Taman Sare Keraton Sumenep, yang nantinya akan dijadikan sebagai sarana jamasan keris pusaka di Desa Aeng Tongtong, pada tanggal 7 bulan Sura.

SUMENEP, FaktualNews.co – Proses pengambilan air Taman Sare di Pendopo Agung Keraton Sumenep, Madura, Jawa Timur, sore ini (Senin, 2/9/2019) menjadi pertanda dimulainya rangkaian prosesi jamasan keris pusaka Keraton Sumenep.

“Hari ini, merupakan hari pertama prosesi penjamasan, kami mengambil air di Taman Sare,” tutur Empu Sanamo, selaku keturunan ke tujuh Empu Keris di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Sumenep.

Ritual turun temurun sejak dahulu kala, terdapat tujuh sumber mata air keramat yang diambil, yang nantinya bakal digunakan untuk membasuh keris setiap tanggal 7 Sura setiap tahunnya, yang digelar secara adat di pujuk Agung Desa Aeng Tongtong.

“Ada 7 sumber yang kita ambil, hari pertama di Taman Sare ini, hari ke dua hingga ke tujuh akan digilir sumber-sumber mata air lainnya. Lokasi mata air kuna itu, di antaranya ada di Desa Lembung, Kecamatan Lenteng, ada di Langsar Saronggi, Tanah Merah, Talang, Serah dan di Aeng Tongtong sendiri, itu bergilir setiap hari 1 sumber, hingga hari ke 7 nantinya,” sambungnya.

Ketujuh lokasi mata air yang diambil untuk digunakan sebagai sarana jamasan bukan tanpa alasan, Empu Sanamo menuturkan, angka tujuh merupakan angka penciptaan, termasuk melambangkan keberadaan hari yang berjumlah tujuh.

“Angka 7 itu merupakan angka penciptaan. Dari terciptanya bumi hingga 7 lapis, langit pun sama, termasuk adanya hari dalam 1 pekan yang berjumlah 7, ini yang menjadi landasan sesepuh kami, jamasan dilaksanakan pada hari ke 7 bulan Sura,” tegasnya.

Ditambahkan Empu Sanamo, ritual jamasan keris merupakan titipan leluhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan oleh para generasi, karena prosesi jamasan merupakan titipan sejarah tutur dan tidak terbukukan.

“Ini menjadi bagian dari upaya melestarikan sejarah, titipan budaya kuna yang wajib dijaga oleh kita selalu generasi penerus. Ini sejarah tutur, karena tidak terbukukan harus terus dilestarikan biar terus ada,” tandasnya.

Pantauan media ini di lokasi pengambilan air Taman Sare keraton Sumenep, terdapat dua Empu yang melakukan ritual, diawali dari pembacaan doa, kemudian tabur bunga yang dilakukan Empu Hasyim, sesepuh Aeng Tongtong yanga akan melakukan jamasan nantinya, dilanjutkan dengan pengambilan air.

Untuk diketahui, Taman Sare yang beradi di lingkungan Pendapa Agung Keraton Sumenep, merupakan salah satu peninggalan sejarah yang ada di keraton. Keberadaanya rupanya masih menyisakan mitos dikalangan masyarakat. Salah satunya adalah tempat pemandian istri raja zaman dahulu itu diyakini sebagian kalangan jika mencuci muka dengan air di taman akan lebih awet muda.

Beredarnya mitos bahwa ketika mencuci muka dari air di Taman Sare akan awet muda memang sejak dulu. Sampai sekarang pun mitos tersebut masih beredar, sehingga setiap pengunjung yang datang dipastikan mencuci muka dengan air taman tempat pemandian istri dan para puteri raja tersebut. (*)

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Muhammad Sholeh