Politik

Rombongan dari Filipina Berguru Ilmu Deradikalisasi di YLP Lamongan

LAMONGAN, FaktualNews.co-Delegasi dari Filipina bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bertukar pemikiran di markas Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) pimpinan Ali Fauzi mantan Kombatan Jamah Islamiyah (JI) di Solokuro, Lamongan, Jumat (6/9/2019).

Kedatangan mereka terkait deradikalisasi, karena Indonesia dan Filipina memiliki permasalahan yang sama, sehingga dapat mendapatkan solusi-solusi dalam menyelesaian permasalahan tersebut.

Untuk menghadapi beberapa permasalahan yang ada, negara Filipina ingin mempelajari semua yang ada yang mana ada tarik ulur yang mana harus bergabung dengan teroris.

Bendahara YLP, Ustad Sumarno di hadapan 13 orang delegasi dari Filipina menjelaskan, YLP merupakan wadah bagi para mantan teroris sebagai wujud keprihatinan kami dengan adanya kejadian – kejadian bom bunuh diri di Indonesia.

“Dari tahun 2000 semua bom teror bahannya dari Desa Tengulun, Kecamatan Solokuro,” Kata Sumarno mantan napiter penyimpanan senjata.

Maka dari itu, lanjut Sumarno, YLP didirikan guna mengajak kawan-kawan dulunya pernah berjuang di Afganistan, Filipina dan Ambon untuk memajukan Indonesia.

“Kami mengajak tidak bergabung dengan komunitas yang lama, Namun di sini memberikan kemampuan menciptakan skill supaya dapat bergabung dengan masyarakat lainya, dengan misi merawat ukhuwah merajut perdamaian,” terangnya di depan Delegasi Filipina.

Deputy Director General For Counter Terorism Philipina Usec Damian L Carlos mengatakan, kedatangan rombongannnya untuk melakukan pembelajaran tentang program radikalisasi.

“Menjadi korban perang di Moro dan kita semua harus saling mengingatkan. Perang di Filipina merupakan sebuah tantangan bagi militer Filipina yang ada kemiripan dengan Indonesia sehingga harus ada deradikalisasi,” kata Damian L Carlos.

Pensiunan marinir AL Filipina yang bertugas untuk menciptakan perdamaian di Filipina ini mengaku sudah banyak perubahan positif di Filipina selatan dengan program pemerintah berupa otonomi khusus.

“Sehingga tidak ada lagi peperangan. Kami tetap mengantisipasi adanya harapan masyarakat karena sulitnya pangan di Filipina Selatan,” Terangnya.

Dalam acara ini kedua negara juga saling bertukar cerita dalam menanggulangi terorisme. Seperti diceritakan Yusuf Anis, anggota YLP yang dulu pernah bergabung dengan para kombatan.

Itu karena banyak kejadian seperti di Filipina, Poso dan Ambon dimana bom yang digunakan dirakit di Lamongan.

“Saya kira Filipina dan Indonesia ada perbedaan. Kami bergabung dengan MILF karena kami ingin belajar. Yang membuat saya berhenti menjadi kombatan karena urusan keluarga dengan kebutuhan ekonomi yang semakin besar,” jelas Yusuf.

Acara ‘Delegation Of Joint Working Group in Combating Terorism Indonesia – Philipines’ ini dihadiri Direktur Deradikalisasi BNPT, Prof Dr Irfan Idris MA bersama 5 anggota BNPT dan 13 orang delegasi dari Filipina.