FaktualNews.co

‘Cancang’ Menturo, Batu Tambatan Kapal Zaman Majapahit di Kampung Cak Nun

Sosial Budaya     Dibaca : 906 kali Penulis:
‘Cancang’ Menturo, Batu Tambatan Kapal Zaman Majapahit di Kampung Cak Nun
FaktualNews.co/Istimewa
'Cancang' Menturo, batu yang diyakini sebagai peninggalan zaman Majapahit.

JOMBANG, FaktualNews.co – Sebuah batu yang menancap ke tanah di Desa Menturo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang diyakini warga setempat sebagai benda bersejarah peninggalan kerajaan Majapahit.

Batu yang berwarna hitam kehijauan dan sudah mengalami pelapukan itu terletak di pinggir jalan Desa Menturo, kampung halaman Emha Ainun Najib atau lebih dikenal dengan Cak Nun.

ucapan idul fitri bank jatim
ucapan idul fitri kasatlantas jember
ucapan idul fitri pasuruan
ucapan idul fitri PUJ
ucapan idul fitri PUPR
Ucapan Idul Fitri RSUD Jombang
Ucapan Idul Fitri Jombang
ucapan idul fitri kapolres jombang
ucapan idul fitri dprd jember
ucapan idul fitri mundjidah
ucapan idul fitri sadarestuwati
ucapan idul fitri rsud mojokerto

Lepas dari benar tidak cerita yang berkembang di masyarakat setempat, batu itu dikatakan sebagai tempat mengikat tali kapal pada zaman kerajaan Majapahit.

Tidak ada yang istimewa dari batu itu kecuali bentuknya yang menyerupai kubus dengan tinggi diperkirakan 20 centimeter lebih.

Sejarawan dan budayawan Jombang, Nasrul Illah, mengakui bahwa batu ini sudah ada sejak zaman Majapahit. “Dimana batu ini tempat mengikat tali kapal pada waktu itu,” katanya kepada KabarJombang.com, Jum’at (22/11/2019).

Pria asli Menturo ini menyebut, dulunya batu ini merupakan ‘Cancang’ kapal. Di mana ada dua batu yang berada di daerah Desa Menturo ini. Yang satu berada di sebelah Barat.

“Dulu jarak antara 2 batu sepanjang hampir 150 Meter. Daerah ini (Menturo) merupakan sungai Watudakon zaman Majapahit, namanya Wewetih. Sungai itu merupakan jalan masuk Majapahit dari Sungai Brantas. Muara di kali Brantas berada di Desa Jombok, Dusun Mbeluk,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan, area Menturo dulu merupakan sungai di zaman Majapahit, yang merupakan tempat aktifitas masyarakat pada kala itu.

“Sesampai di dua batu itu, 1 km sesudahnya,  ganti jalan darat di Tugu Badas di mana sekarang masuk Desa Sebani, Kecamatan Sumobito. Dilanjutkan jalan darat lewat Sagada, sekarang Segodorejo,” kata dia.

Informasi penting itu, kata Nasrul, diperoleh dari beberapa bait dalam buku Negarakertagama, karya Empu Prapanca.

Fakta sejarah itu, lanjut dia, kemudian ditindaklanjuti dengan penggalian oleh Arkeolog Nurhadi Rangkuti dari BP3 Jogjakarta, yang sekarang menjadi Kepala BPCB Sumatera Barat.

“Di samping itu beliau juga menggali 200 meter dari batu itu. Dilihat dari keramik yang ditemukan, di situ dulu ada bangunan bukan dari kalangan rakyat, tapi kalangan elit. Waktu saya kecil,  di situ banyak ditemukan emas dan piring keramik mahal,” imbuhnya jelas.

Nasrul meyakini, dahulu area Menturo dan sekitarnya merupakan bagian penting dari Kerajaan Majapahit.

Hal itu dibuktikan dengan temuan ‘cancang’ kapal serta dari hasil penelitian bahwa pernah terdapat sungai yang menjadi aktifitas masyarakat zaman itu.

Lebih jauh Nasrul menambahkan, menurut almarhum Gus Dur,  di Mentoro ini dulu ada Pesanggrahan Ratu Champa RR Handarawati.

Seorang putri ningrat yang masih merupakan keluarga dari Raja Champa. Dia sudah memeluk Islam dan menjadi istri selir Brawijaya V,  Raja Majapahit terakhir. Putra mereka ini akhirnya menjadi Sultan Demak, yaitu Raden Patah.

 

 

Penulis: Anggit Puji Widodo

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Muhammad Sholeh

YUK BACA

Loading...