FaktualNews.co

Penyakit Menular Seksual Mewabah di Pengungsian Rohingya

Kesehatan     Dibaca : 587 kali Penulis:
Penyakit Menular Seksual Mewabah di Pengungsian Rohingya
Faktualnews.co/Istimewa
Suasana di kamp pengungsi Rohingnya di Cox's Bazar, Bangladesh. [dw.com/id]

SURABAYA, FaktualNews.co – Pengungsi Rohingya di Bangladesh semakin rentan tertular virus HIV dan penyakit menular seksual lainnya. Pemerintah Bangladesh melaporkan, seluruhnya 395 warga Rohingya yang hidup di Cox’s Bazar tercatat mengidap penyakit mematikan tersebut. Tahun ini saja sudah sebanyak 105 kasus yang terdaftar.

DW Indonesia melansir pada Kamis (26/12/2019), pemerhati kesehatan memperkirakan, jumlah pengidap infeksi yang sesungguhnya jauh lebih tinggi lagi. Pemerintah didesak untuk lebih teliti memetakan penyebaran virus HIV di kamp pengungsi. Saat ini total jumlah pengungsi Rohingya yang berlindung di Bangladesh sudah melebihi satu juta orang.

ucapan idul fitri bank jatim
ucapan idul fitri kasatlantas jember
ucapan idul fitri pasuruan
ucapan idul fitri PUJ
ucapan idul fitri PUPR
Ucapan Idul Fitri RSUD Jombang
Ucapan Idul Fitri Jombang
ucapan idul fitri kapolres jombang
ucapan idul fitri dprd jember
ucapan idul fitri mundjidah
ucapan idul fitri sadarestuwati
ucapan idul fitri rsud mojokerto

Beberapa bulan setelah kedatangan pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, pemerintah Bangladesh mengidentifikasi 85 kasus HIV di kota tersebut. Sejak saat itu angka penularan mengalami lonjakan pesat. Pada Agustus 2018 otoritas kota mencatat 273 kasus HIV. Angkanya semakin melambung menjadi 319 kasus pada Maret 2019.

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah The Lancet mencatat dari 319 pasien, sebanyak 277 di antaranya menerima terapi obat-obatan, sementara 19 lain tercatat sudah meninggal dunia.

 

Minimnya kesadaran dan pengetahuan

Pemerhati kesehatan di Bangladesh menilai minimnya kesadaran dan pengetahuan dasar tentang penyakit seksual menular, serta stigma sosial, menghalangi upaya penanggulangan. “Lantaran pola sosial yang konservatif, pasien biasanya bungkam terkait penyakit menular akut yang diidapnya, lantaran takut dikucilkan”, kata Mohammad Abdul Matin, seorang dokter di Cox’s Bazar kepada DW.

“Tidak sedikit pula warga Rohingya yang menanggapi gejala HIV serupa penyakit flu biasa”, imbuh Asif Hossein, petugas medis di Pusat Layanan dan Pelatihan di Dhaka.

“Agak sulit meyakinkan mereka terhadap bahaya penyakit ini,” kata dia kepada DW. “Banyak pasien mengabaikan saran dokter seperti dalam kasus hubungan seksual.”

Menurut studi The Lancet, diperlukan kesadaran warga terkait bahaya HIV dan perubahan sikap serta perilaku seksual warga Rohingya untuk menanggulangi wabah tersebut. Ilmuwan juga mengimbau agar pemerintah menyiagakan dinas kesehatan dan rumah sakit untuk mengidentifikasi dan merawat pasien HIV.

Pemerintah diminta bekerjasama dengan lembaga internasional “untuk mencegah konsekuensi negatif terhadap kesehatan dan sosial ekonomi masyarakat.”

 

Iklan Cukai Lamongan

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Muhammad Sholeh
Sumber
DW Indonesia

YUK BACA

Loading...