FaktualNews.co

Wisata Edukasi di Kampung Pengrajin Gerabah Blitar

Wisata     Dibaca : 1631 kali Penulis:
Wisata Edukasi di Kampung Pengrajin Gerabah Blitar
Faktualnews.co/Dwi Haryadi
Seorang warga hendak mengusung grabah dari tempat pembakaran.

BLITAR, FaktualNews.co – Dalam segala hal dunia industri semakin hari semakin memanjakan konsumen, termasuk pengguna peralatan dapur. Peralatan daput berbahan plastik, aluminium, stainless steel hasil industri pabrikan sedikit demi sedikit menggeser produk rumahan. Tembikar dan gerabah, menjadi barang ‘asing’ di dapur dan rumah kita.

Tak surut oleh tantangan industrialisasi peralatan dapur, sekitar 200 keluarga di Desa Plumpungrejo Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar, bertahan meneruskan tradisi menjadi pengrajin gerabah. Dan karena itu, inovasi dan kreativitas terus mereka digali untuk melanggengkan tradisi mereka.

Ucapan KFM
iklan Walikota Pasuruan
iklan RSUD Mojokerto
iklan satlantas jember
iklan-hari-kartini-jember
iklan Ucapan Jember HIPMI
iklan Ucapan Jember BPJS
iklan Ucapan Jember Demokrat
iklan Ucapan Jember

Gerabah yang semula mereka buat hanya berupa peralatan dapur dan rumah tangga biasa, seperti cobek, tungku, tempayan dan sejenisnya, sekarang bertambah. Untuk memenuhi tuntutan perubahan gaya hidup pasar, selain membuat gerabah untuk fungsi gawai di dapur dan rumah tangga, mereka juga mengasah kreativitas dengan membuat beragam gerabah untuk keperluan interior dan ornamentasi rumah serta taman.

Saat ini, pemadangan di desa pengrajin gerabah tersebut tidak hanya didominasi perabotan tanah liat berwarna coklat kemerahan. Lebih berwarna, pemandangan di sana sudah berubah dengan kehadir produk mereka berupa guci dan pot hias dengan pewarnaan yang indah.

Tak hanya itu, setelah sukses dengan inovasi dan kreasi produksi grabah para pengrajin kemudian berkonsolidasi dan meneguhkan dusun mereka sebagai Kampung Gerabah. Untuk itu kemudian mereka memunculkan brand wisata, Wisata Edukasi Gerabah (WEG).

Adalah Sumadi pengrajin yang pertama kali mengenalkan pembuatan gerabah berwarna untuk interior sampai dikenalnya WEG di kampung tersebut. Saat ini sang anak, Muhammad Burhanudin (30), yang melanjutkan kiprah Sumadi.

“Saya belajar gerabah sudah sejak SMA pada tahun 2000-an. Untuk sementara ini saya fokuskan ke perkembangan wisata edukasi untuk anak-anak sekolah mulai dari PAUD, TK, SMP, SMA. Bahkan ada yang sampai kuliah untuk membuat skripsi. Namun Kebanyakan anak TK sih, di sini wisata edukasinya juga bisa memilih mewarnai atau membuat gerabah,” kata Burhanudin, (Sabtu 11/1/2020).

Burhanudin mengaku, usaha gerabah ini awalnya dirintis oleh orang tuanya. Sejak dulu, mayoritas warga desa tempat tinggalnya bekerja sebagai pembuat gerabah karena bahan dasar gerabah di tempat ini sangat melimpah.

“Jadi edukasi grabah ini warisan leluhur. Awalnya dulu tahun 1995 ayah saya membuat gerabah, dan pada tahun 2014 saya kembangkan menjadi edukasi kampung wisata grabah,” katanya.

Burhanudin mengatakan, banyak kalangan yang berminat belajar di WEG. Tak hanya masyarakat lokal, namun juga wisatawan manca negara. Dalam sepekan, lanjut dia, hampir tiap hari Burhanudin menerima rombongan pelajar dan wisatawan yang ingin belajar membuat gerabah.

Motif gerabah di WEG, jelas dia, terispirasi dari kearifan lokal seperti candi, ikan dan bunga kenanga.

Gerabah interior dan suvenir produk kampung ini banyak dipasarkan ke Bali, Jakarta dan Kalimantan.

“Di WEG, saya bikin tiga paket. Paket pertama edukasi dan mewarnai suvenir. Paket kedua yaitu edukasi dan membuat gerabah dan paket ketiga mulai edukasi, membuat gerabah sampai finishing mewarnai,” pungkasnya.

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Muhammad Sholeh

YUK BACA

Loading...