FaktualNews.co

Beras BPNT ‘Ikan Lele Super’ Sudah Tersebar di Giligenting Sumenep, Dipertanyakan

Liputan Khusus     Dibaca : 527 kali Penulis:
Beras BPNT ‘Ikan Lele Super’ Sudah Tersebar di Giligenting Sumenep, Dipertanyakan
FaktualNews.co/Supanjie/
Beras BPNT 'Ikan Lele Super' Sudah Tersebar di Giligenting Sumenep

SUMENEP, FaktualNews.co – Jika polisi berhasil menggagalkan upaya penyelundupan beras oplosan yang akan terdistribusi ke pulau Giligenting, Sumenep. Seharusnya beras seberat 10 ton itu belum sampai ke tangan penerima KPM. Anehnya beras merk ‘Ikan Lele Super’ dimaksud sudah dua bulan terdistribusi.

Pernyataan itu, disampaikan warga Desa Banbaru, Pulau Giliraja, Kecamatan Giligenting, Sumenep, Sahrul Gunawan (43). Guna mengungkapkan kegelisahan atas keabsahan beras merk tersebut. Berikut tulisan hasil investigasi yang dilakukan wartawan FaktualNews.co Sumenep, Supanjie.

Berbekal informasi tersebut, FaktualNews.co bergegas untuk melakukan investigasi ke pulau setempat. Ternyata ditemukan sejumlah fakta mencengangkan perihal Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang kini berubah menjadi program sembako itu, dengan merk ‘Ikan Lele Super’.

Pulau dengan penghuni lebih dari 10 ribu jiwa tersebut, terdapat empat desa yaitu Desa Banbaru, Jate, Banmaleng dan Desa Lombang. Berdasarkan informasi, belakangan ini warga dibuat resah dengan beredarnya kabar beras yang berdasarkan temuan tim Kepolisian Resort Sumenep merupakan beras oplosan yang belum bisa dipastikan keamanannya, karena masih dalam proses uji laboratorium.

Di Desa Banbaru, Faktualnews.co bertemu dengan salah seorang Keluarga Penerima Manfaat (KPM), Sahrul selaku suami Holistini (37) merasa waswas atas beras yang diterimanya. Karena bermerk sama dengan beras oplosan yang hendak didistribusikan ke Kecamatan Giligenting dari Gudang UD Yudatama Art yang diduga berada di bawah naungan Affan Grup, di Jalan merpati 3A Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep, Rabu (26/2/2020) lalu.

“Kami waswas untuk mengkonsumsi beras ini.  Karena kabar penggerebekan gudang beras oplosan oleh polisi telah sampai ke telinga warga pulau sini,” akunya. Minggu (8/3/2020).

Apalagi, lanjut Sahrul, sampai hari ini pihak kepolisian belum ada klarifikasi terkait hasil uji lab tentang keamanan beras merk ‘Ikan Lele Super’ itu.

“Jujur, saya masih melarang istri untuk menanak beras tersebut hingga hari ini. Kebutuhan sembako sehari hari kami cukupi dengan membeli di warung tetangga,” imbuhnya.

Hal serupa disampaikan KPM lain di Desa Jate, yang juga merasa khawatir akan keamanan beras yang telah didapatkan dari bantuan pemerintah itu.

“Kabar beras oplosan itu sudah tersebar mas, masyarakat tahu semua. Makanya kita masih waswas, kalau bisa ganti merk beras lain lah,” pinta perempuan beranak dua yang enggan disebut namanya.

Sudah Terdistribusi Tiga Kali

Untuk mengkonfirmasi keresahan keluarga penerima manfaat, faktualnews.co menanyakan langsung ke agen atau e-warung, tujuan pertama adalah e-warung ‘Iril Jaya’ di Desa Banbaru, Berdasarkan keterangan Ifrayim (38), selaku pihak pengelola menyebut, beras merk ‘Ikan Lele Super’ sudah terdistribusi selama tiga bulan.

“Sekitar 150 KPM telah menerima beras merk ‘Ikan Lele Super’ ini, mulai dari Januari-Februari, untuk yang bulan Maret mulai kemarin hingga hari ini,” sebutnya. Senin (9/3/2020).

Di Desa Banbaru sendiri, kata Ifrayim, terdapat dua e-warung yang melayani KPM, selain miliknya satu agen lain adalah e-warung ‘Nabila’, milik Hj. Nur Aida.

“E-warung saya melayani 150-an KPM, sementara e-warung Nabila sekitar 100-an, kita satu jalur ngambil beras ke suplier Koperasi Toko Sahabat Makmur Bersama, yang berlokasi di jalan Kamboja, No 11, Pajagalan Sumenep,” sebutnya.

Di Desa lain, sepengetahuan Ifrayim, seperti Desa Jate dan Banmaling, masih di jalur yang sama, yaitu mendatangkan beras dari suplier Toko Sahabat Makmur Bersama.

“E-warung ‘Makmur Jaya’ desa Banmaling itu 240-an KPM, untuk agen ‘Dua Saudara’ yang ada di desa Jate, penerimanya berjumlah 225, tiga desa ini, ngambil ke suplier yang sama,” imbuhnya.

Berbekal informasi pemilik e-warung di pulau Giliraja, faktualNews.co kemudian mendatangi alamat tersebut. Di sana tim ditemui Manager Toko Sahabat Makmur Bersama, Decky Purwanto.

Beras Disuplay dari Distributor Berbeda

Dari perbincangan bersama Manager Toko Sahabat Makmur Bersama. Decky biasa disapa menuturkan, toko yang dikelolanya menyiapkan berbagai merk beras, tergantung permintaan setiap e-warung di wilayah masing masing, karena kebutuhan dan permintaannya tidak sama.

“Setiap e-warung kebutuhan berasnya berbeda, untuk yang di pulau Giliraja, Kecamatan Giligenting permintaannya adalah beras merk ‘Ikan Lele Super’. Merk apapun kita siap, tergantung permintaan lah,” terangnya, Kamis (12/3/2020).

Disinggung mengenai asal beras yang dimiliki Toko Sahabat Makmur Bersama, alumni IAIN Madura ini mengaku mendatangkan dari berbagai distributor yang ada di wilayah Jawa Timur sesuai permintaan agen.

“Karena saat ini sistemnya pasar bebas, maka tergantung permintaan, untuk merk Ikan Lele Super itu kita datangkan dari Bojonegoro. Kalau Ikan Paus kita ambil dari Lamongan. Merk Ikan Leopard itu dari Malang. Kami tidak main local, kita datangkan langsung dari gudangnya, kami tidak ada hubungan dengan gudang beras yang digerebek polisi beberapa waktu lalu itu,” tegasnya.

Polisi Terjunkan Tim Investigasi Beras ke Giligenting

Kapolres Sumenep, AKBP Deddy Supriadi melalui Kasubbag Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti mengatakan, perihal penanganan kasus OTT gudang UD Yudatama Art yang diduga berada di bawah naungan Affan Grup, di Jalan merpati 3A Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep itu, sudah dalam proses pemeriksaan saksi ahli.

“Kita saat ini sedang dalam proses pemeriksaan saksi ahli, juga kita menunggu hasil laboratorium, mudah mudahan dalam waktu dekat sudah keluar semua untuk melakukan gelar perkara,” terangnya.

Mantan Kapolsek Sumenep Kota ini menambahkan, terkait informasi sudah terdistribusinya beras merk ‘Ikan Lele Super’ di beberapa desa di Kecamatan Giligenting, AKP Widi berjanji untuk segera berkoordinasi memastikan kabar tersebut.

“Soal informasi beras merk itu sudah terdistribusi di Giligenting, nanti kita akan cek kebenarannya. Kita akan koordinasikan dengan Satreskrim dan Polsek setempat. Jangan main main dengan bantuan untuk masyarakat miskin, kasihan mereka,” paparnya.

Untuk diketahui, Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resort Sumenep, Madura, Jawa Timur, membongkar dugaan suplier ‘nakal’ beras Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau program sembako. Rabu (26/2/2020), sekitar pukul 17.00 WIB.

Kemudian, Jum’at (28/2/2020) pagi, polisi merilis hasil tangkapannya ke publik lewat konferensi pers langsung dari gudang yang diduga kuat mengoplos beras Bulog dengan beras petani tersebut.

Selanjutnya, beras oplosan itu dikemas dalam kantong berukuran 5 kg berbagai merk, yang seolah olah kualitas premium dengan sasaran distribusi pulau Giligenting.

Dalam keterangannya, Kasatreskrim Polres Sumenep, AKP Oscar Stefanus Setjo menjelaskan, polisi belum menetapkan tersangka dari kasus operasi tangkap tangan (OTT) tersebut.

“Kita masih dalam proses pemeriksaan, semua saya periksa sebagai saksi, belum ada yang jadi tersangka,” sebutnya. Sabtu (29/2/2020) lalu.

Suplier nakal tersebut, diduga melanggar undang undang perlindungan konsumen pasal 62, kemudian undang undang nomor 18 tahun 2012 tentang pangan, UU nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan.

“Kelima orang ini, baru patut diduga melanggar UU perlindungan konsumen, UU pangan dan UU perdagangan, masih sebagai saksi tidak dilakukan penahanan. Kami masih menunggu hasil penelitiannya, apakah cairan yang dicampurkan itu berbahaya atau tidak,” imbuhnya.

Disinggung mengenai alat bukti yang saat ini dikantongi Kepolisian Resort Sumenep, Oscar menyebut baru memiliki satu alat bukti. “Kami (penyidik,red) belum memiliki dua alat bukti, sementara baru satu alat bukti yaitu keterangan saksi,” kata dia.

Ditambahkan Kapolres Sumenep, AKBP Deddy Supriadi, pelaku usaha juga menyemprotkan cairan pandan pada beras supaya terkesan harum untuk meyakinkan konsumen.

“Tadi pengolahannya disemprot juga dengan cairan pandan, supaya mendekati pada kualitas beras premium. Untuk bahaya tidaknya nanti akan kita lihat hasil penelitian BPOM,” sebutnya.

Berdasarkan keterangan pelaku usaha, tindakan usaha pengoplosan beras sudah dilakoni sejak tahun 2018 lalu.

“Aktifasi beras oplosan tersebut tergantung pesanan dari agen yang ada di Kepulauan, khusus temuan yang saat ini, ada sekitar 10 ton beras yang akan dikirim ke Pulau Giligenting,” tukasnya.

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Nurul Yaqin

YUK BACA

Loading...