FaktualNews.co

Dampak Corona, Peternak Puyuh di Kediri Terancam Gulung Tikar

Ekonomi     Dibaca : 1292 kali Penulis:
Dampak Corona, Peternak Puyuh di Kediri Terancam Gulung Tikar
FaktualNews.co/Ubaidhillah//
Yazid Bustomi sedang memberi makan puyuh miliknya,

KEDIRI, FaktualNews.com – Dampak Covid-19 yang marak di tiap daerah tak terkecuali di Kabupaten Kediri juga dirasakan peternak telur puyuh. Akibat virus tersebut peternak terancam gulung tikar karena tidak bisa mengirimkan pasokan telur di luar daerah.

Yazid Bustomi, salah satu peternak telur puyuh di Kecamatan Ngasem mengaku, sebelumnya ia mengirim hasil panennya ke beberapa daerah seperti Jakarta, Bandung, Bekasi.

Saat ini dirinya tidak bisa mengirimkan telur hasil panennya ke beberapa daerah lantaran dibatasi oleh pemerintah untuk dengan alasan meminimalisir corona.

“Biasanya kami mengirimkan ini ke luar kota. Karena daerah tersebut saat ini tidak menerima pasokan dari luar kota akhirnya stok kami menumpuk.” Jelas Yazid di kandang puyuh miliknya. Kamis (9/4/2020).

Yazid pun sempat kebingungan hendak menjual hasilnya tersebut kemana. Akhirnya ia memilih pasar lokal, meskipun hasilnya tidak sebaik di luar kota.

“Kami peternak kebingungan menjual telur puyuh, karena di daerah lain banyak yang sudah menutup diri. Dan kami juga berusaha mencari pangsa lokal agar bisa bertahan di saat seperti ini,” ungkapnya.

Menurut Yazid karena ada penumpukan hasil panen peternak pun harus menurunkan harga pasar. Karena jika lama dibiarkan di dalam gudang akan membusuk dan akan merugi lebih besar.

“Saat ini harga telur puyuh perkilonya hanya Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu saja. Padahal sebelum wabah Covid-19 masuk di Indonesia, harganya mencapai Rp 25 ribu perkilonya.”jelas Yazid.

Sementara itu, didaerahnya sendiri Yazid mengaku kesulitan menjual telur puyuh, karena peminat telur tersebut sangat sedikit.

“Peminatnya juga turun, untuk peminat telur ini itu kan antara usia TK hingga mahasiswa. Sedangkan sekolah hingga perguruan tinggi saat ini kan libur semua. Karena pasokannya menumpuk disini akhirnya harga anjlok.”lanjut Yazid.

Akhirnya, mau tidak mau ia harus mencari jalan lain agar usaha yang ia tekuni sejak lama tersebut tidak gulung tikar. Ia memilih alternatif mengurangi pekerjaan karyawannya yang bekerja di kandang dan mengurangi gaji.

“Mengurangi upah karyawan kita, dan keluarga semua akhirnya ikut melakukan pekerjaan di kandang agar tidak lebih banyak merugi,” katanya.

Lebih lanjut, Yazid berharap kondisi di daerahnya segera pulih seperti sediakala dan wabah segera menghilang agar usahanya bisa kembali seperti semula.

“Semoga cepat berlalu, agar kita tidak merugi banyak lagi.” harapnya.

 

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Nurul Yaqin