FaktualNews.co

Usaha Kerupuk Asin di Jombang Ini Justru Berkembang Saat Pandemi, Bagaimana Kiatnya?

Ekonomi     Dibaca : 960 kali Penulis:
Usaha Kerupuk Asin di Jombang Ini Justru Berkembang Saat Pandemi, Bagaimana Kiatnya?
FaktualNews.co/syarief abdurrahman
Karyawan Kerupuk Asin Tayammum saat membungkus kerupuk.

JOMBANG, FaktualNews.co-Saat banyak perusahaan dan usaha rumahan memecat karyawannya akibat pandemi Covid-19, pemilik usaha kerupuk asin Tayammum Qyula di Desa Banjardowo, Jombang, Nur Wahyudin malah menerima karyawan 100 persen.

Memilih tempat usaha di pojok Desa Banjardowo, Nur Wahyudin ibarat oase di padang pasir bagi masyarakat sekitar. Ia membuka lapangan pekerjaan saat usaha lain memilih efisiensi anggaran.

Wahyudin bercerita, di awal wabah Covid-19 melanda. Perusahaannya dalam dua hari saja kedatangan 50 orang yang melamar kerja. Mereka datang karena dirumahkan perusahaan dan tak punya pemasukan uang lagi.

Sementara itu, para pelamar pekerjaan itu punya keluarga yang harus dinafkahi setiap hari. Kadang mereka memiliki anak kecil yang butuh susu dan makanan khusus.

Separuh dari karyawannya berasal dari lingkungan sekitar perusahaannya sendiri. Sisanya lagi diambil dari pelamar yang kompenten di bidangnya.

“Karyawan saat ini ada 40 orang, sebelumnya 20 orang. Karena pabrik banyak yang tutup maka dalam 2 hari yang daftar ada 50 orang. Yang saya terima hanya 20 orang,” jelasnya, Sabtu (6/6/2020).

Wahyudin memulai usahanya sejak 2013 lalu, asam kecut dan naik turun selama berbisnis sudah tak terhitung lagi. Saat itu, ia masih menjalani pendidikan di Madrasah Muallimin Muallimat Bahrul Ulum Tambakberas. Namun, pandemi Corona lah yang lebih terasa efeknya.

Pada awal wabah Covid-19 melanda, ia sempat bingung dan menghentikan usahanya beberapa waktu. Karena kasihan dengan karyawan, ia mencoba bertahan dan melanjutkan bisnis kerupuk asin ini.

Penyebab ia memilih berhenti saat awal pandemi, itu karena penutupan pariwisata di Jawa Timur. Padahal selama ini penjualan utama kerupuk Tayammum di lokasi pariwisata.

“Selama ini jualan di tempat pariwisata seperti Malang, Pasuruan, Blitar, Lamongan, Bojonegoro dan Tuban. Setelah ada kebijakan menutup tempat pariwisata, maka tidak bisa berjualan di tempat pariwisata. Otomatis terganggu,” tambahnya.

Berbagai cara dilakukan Wahyudin agar roda perusahaan terus berputar. Melihat kerupuk sudah menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat di meja makan dan saat santai, Wahyudin mencoba cara pemasaran baru. Yaitu melakukan penjualan dari pintu ke pintu.

Tak disangka, menawarkan pembeli secara langsung ke rumah ini mendapatkan respons positif. Sebelum Covid-19 datang, sehari ia hanya bisa menjual 1000 bungkus, tapi kini bisa bertambah jadi 1.500 bungkus.

Kebijakan lain yang tak kalah beraninya yaitu menurunkan harga kerupuk yang awalnya setiap bungkus Rp 4 ribu diturunkan jadi Rp 3 ribu.

“Harga di turunkan dari Rp. 4000 jadi Rp. 3000. Keuntungan berkurang. Tapi tidak mengurangi gaji. Yang penting bertahan dulu, meski dengan membanting harga,” ujar ayah anak dua ini.

Belajar dari Covid-19, Wahyudin dan karyawannya sepakat meneruskan penjualan setiap hari keluar masuk desa dan menawarkan kerupuk ke rumah-rumah. Sebagian ditinggal di rumah-rumah warga.

Ternyata ini efektif untuk terus bertahan hingga beberapa bulan selama Covid-19.

Ia optimistis, seusai Covid-19 ini usahanya akan bertambah maju. Apalagi saat tempat pariwisata sudah normal kembali. Jika di tempat wisata butuh 1000 bungkus dan penjualan sales dari rumah ke rumah butuh 1.500 bungkus, bisa diperkirakan keuntungan pun datang.

“Berkat pandemi, saya temukan konsep baru dalam penjualan dengan keliling. Ini baru khusus untuk Jombang. Belum daerah lain,” tandas Wahyudin.(Slamet, Beni, Syarif)

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono