FaktualNews.co

Deteksi Dini 8 Gejala dan Potensi Penyakit pada Miss V

Kesehatan     Dibaca : 525 kali Penulis:
Deteksi Dini 8 Gejala dan Potensi Penyakit pada Miss V
FaktualNews.co/Istimewa
Ilustrasi.

SURABAYA, FaktualNews.co – Kebersihan miss V atau vagina dapat menghindarkannya dari beragam penyakit. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah mengenali gejala-gejala yang dapat merujuk pada risiko penyakit tertentu.

Berbagai faktor dapat memengaruhi kesehatan vagina. Namun beberapa gejala lain sebenarnya adalah hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan.

Kenali gejala-gejala yang dilansir AloDokter berikut ini beserta penyebab dan potensi penyakitnya.

1. Nyeri saat berhubungan seksual

Gangguan saat berhubungan seksual, seperti nyeri pada saat dan setelah bersenggama (dispareunia), dapat diakibatkan karena beberapa hal, seperti:

• Otot dinding vagina mengalami kontraksi yang tidak terduga (vaginismus).

• Depresi, kecemasan, dan trauma dapat menurunkan hasrat untuk berhubungan seksual sehingga menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan saat melakukan senggama.

• Dalam kasus yang jarang terjadi, gangguan kesehatan lain, seperti kista pada vagina dapat menyebabkan

nyeri saat berhubungan seksual.

• Perubahan kadar hormon seperti turunnya jumlah estrogen setelah melahirkan, saat menyusui, dan setelah menopause, menyebabkan penipisan dinding vagina sehingga mendatangkan nyeri saat berhubungan seksual.

2. Gatal pada daerah kemaluan

Gatal pada vagina bisa jadi merupakan gejala dari infeksi jamur pada vagina. Kondisi ini sering terjadi pada wanita yang sedang menggunakan antibiotik dalam jangka panjang, sehingga kuman baik yang menjaga kebersihan vagina menjadi tidak berfungsi.

Selain itu, gatal pada kemaluan wanita juga bisa disebabkan oleh dermatitis yang mengenai kulit di daerah kemaluan.

Gatal di sekitar vagina juga dapat menjadi gejala infeksi kutu pada rambut kemaluan. Kutu pada rambut kemaluan dapat meninggalkan bintik-bintik hitam pada kulit atau celana dalam Anda.

Kondisi ini dapat ditangani dengan obat-obatan pembasmi kutu yang dijual bebas di pasaran. Selain itu, gatal di sekitar vagina yang diiringi meningginya suhu tubuh dapat menjadi gejala kudis.

Kondisi yang kerap memburuk di malam hari ini disebabkan oleh tungau kecil yang menelusup ke dalam kulit. Hal ini dapat ditangani dengan obat krim dari dokter.

3. Luka atau lepuhan kulit

Lepuhan kulit atau luka pada kulit kemaluan dapat menjadi gejala herpes genital yang ditularkan melalui hubungan seksual.

Sebagian besar orang yang mengalaminya tidak menyadari bahwa mereka sedang terinfeksi karena gejala kondisi ini dapat hilang dengan sendirinya. Virus penyebab herpes genital tidak dapat dilenyapkan dari tubuh, tapi dapat dikontrol dengan obat-obatan antivirus. Selain herpes genital, luka juga dapat disebabkan penyakit menular seksual lain.

4. Cairan dari vagina

Cairan dari vagina dapat dikategorikan normal jika warnanya tidak berbeda dari keputihan biasa, tidak berbau, dan tidak disertai gejala lain, seperti gatal atau nyeri. Namun infeksi jamur dapat menyebabkan cairan vagina berubah warna menjadi putih kental, diikuti rasa gatal yang sangat mengganggu pada vagina.

Kondisi ini seringkali disebabkan oleh jamur Candida albicans. Sementara vaginosis bakterialis menyebabkan cairan berbau amis dan berwarna abu-abu. Penyakit menular seksual, seperti trikomoniasis, klamidia, dan gonore juga dapat mengakibatkan ketidaknormalan pada cairan vagina Anda. Untuk menanganinya Anda perlu berobat ke dokter.

Vaginitis, yaitu infeksi yang mengakibatkan terganggunya kadar bakteri yang mendiami vagina, dan peradangan juga diawali dengan adanya cairan vagina yang berbau, munculnya rasa nyeri, dan gatal. Vaginosis bakterialis adalah jenis vaginitis yang umum ditemui. dan parasit trikomoniasis yang ditularkan melalui hubungan seksual.

5. Tonjolan kecil

Tonjolan kecil yang keras dengan permukaan kasar bisa jadi adalah kutil kelamin. Kutil kelamin bisa terasa gatal, tapi tidak mendatangkan rasa sakit. Kutil kelamin dapat tumbuh secara berkelompok atau sendiri-sendiri.

Kondisi ini dapat ditangani dengan resep krim dari dokter. Jika kutil tidak menghilang setelah pengobatan, dokter mungkin akan melakukan pembuangan kutil dengan prosedur medis khusus seperti bedah listrik.

6. Pendarahan tidak normal

Pendarahan di luar masa menstruasi atau setelah berhubungan seksual dapat menjadi gejala infeksi, seperti klamidia atau ketidaknormalan pada leher rahim. Pada kasus yang sangat jarang, hal ini dapat menjadi gejala kanker. Pendarahan juga kadang berhubungan dengan efek samping kontrasepsi hormonal, seperti KB suntik atau pil KB.

7. Benjolan pada mulut vagina

Benjolan tersebut bisa jadi adalah pembengkakan kista Bartholin yang berada pada bagian dalam bibir. Benjolan juga dapat disebabkan oleh infeksi dan mengandung nanah. Penanganan dapat dilakukan dengan mengonsumsi antibiotik atau tindakan pembedahan.

Pada kasus yang sangat jarang pada wanita pasca-menopause, terkadang perlu dilakukan biopsi (pengambilan sampel jaringan) untuk mendeteksi kemungkinan kanker vulva. Selain itu, benjolan berwarna merah dapat terbentuk ketika terjadi infeksi pada batang rambut kemaluan, atau disebut folikulitis.

8. Ruam pada vagina

Molluscum contagiosum (MC) adalah infeksi virus yang ditularkan melalui kontak antarkulit atau didapat ketika menyentuh benda yang terkontaminasi, seperti handuk. Virus ini dapat menyebabkan bintik-bintik merah yang padat, tapi tidak terasa sakit.

Selain infeksi MC, ruam juga dapat disebabkan oleh iritasi kulit akibat banyak faktor, misalnya gesekan pakaian. Ruam juga dapat disebabkan oleh reaksi alergi akibat penggunaan sabun, sampo, losion, atau parfum yang dapat memicu eksim.

Menggunakan produk-produk yang bebas pewangi dapat mencegah eksim datang kembali. Selain hal di atas, ruam juga dapat disebabkan oleh psoriasis, dan infeksi jamur.

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Muhammad Sholeh
Sumber
AloDokter
Tags

YUK BACA

Loading...