FaktualNews.co

Perjalanan Hidup Semaun, Tokoh PKI Asal Curahmalang Jombang

Politik     Dibaca : 364 kali Penulis:
Perjalanan Hidup Semaun, Tokoh PKI Asal Curahmalang Jombang
Faktualnews/muji lestari
Mbah Piyadi, warga Desa Curahmalang, Sumobito, Jombang, saksi hidup keberadaan Semaun.

JOMBANG, FaktualNews.co–Tepat 30 September 55 tahun silam, merupakan hari bersejarah yang kelabu bagi bangsa Indonesia.

Sebuah pemberontakan yang dilakukan PKI (Partai Komunis Indonesia) meletus. Peristiwa yang membawa korban sejumlah jenderal itu dikenal dengan sebutan G30S/PKI atau Gerakan 30 September PKI

Ada beberapa tokoh dan petinggi PKI yang dikenal dan masih menjadi perbincangan masyarakat, seperti Aidit asal Madiun dan Musso asal Kediri.

Namun siapa sangka, di Jombang, Jawa Timur, juga ada tokoh PKI level nasional yang lahir dan sempat besar di Jombang. Dia adalah Semaun, tokoh pergerakan perlawanan Hindia Belanda sekaligus pendiri PKI, pada 23 mei 1920 di Semarang.

Semaun lahir di Desa Curahmalang Kecamatan Sumobito pada 1899. Dia anak dari Prawiro Atmodjo, pegawai rendahan perusahaan kereta api Belanda.

Letak Desa Curahmalang ini tak jauh dengan perbatasan Kecamatan Trowulan Mojokerto. Desa ini dahulu dikenal sebagai pusatnya persembunyian para begal.

Seiring berjalannya waktu, kegagalan PKI melakukan kudeta tahun 1965, berakibat fatal bagi para petinggi hingga anggotanya. Baik di pusat maupun di daerah, tak terkecuali di Jombang.

Seluruh elemen organisasi sayap partai berlambang palu arit ini bernasib tragis.

Termasuk seluruh anggota keluarga dan kerabat Semaun di Desa Curahmalang habis tak tersisa menjadi korban balas dendam rakyat.

Piyadi (78), seorang saksi sejarah sekaligus tetangga Semaun masih begitu mengingat peristiwa kelam tersebut.

Walaupun terganggu pendengarannya, pria renta ini dengan gamblang masih mengingat peristiwa berdarah di Desa Curahmalang dan sekitarnya.

Para anggota, simpatisan dan keluarga PKI yang dieksekusi secara individu, langsung dimakamkan di pemakaman umum desa setempat. Sedangkan yang lain dieksekusi dan dikubur secara massal di sisi utara lapangan Sumobito.

“Iya, Semaun aslinya Curahmalang, dulu rumahnya di situ dekat Balai Desa. Sekarang tidak ada keluarganya, sudah habis. Rumahnya ditempati orang lain. Selain Semaun di sini memang banyak tokoh PKI yang diambil dan dieksekusi, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, di lapangan Sumobito itu dulu kuburan massalnya,” ujar Piyadi.

Budayawan dan peminat sejarah asal Jombang, Nasrul Illahi, mengungkapkan, Semaun saat muda pernah menjadi pegawai juru tulis jawatan kereta api Belanda.

Namun, jiwa pemberontak atas ketidakadilan pemerintah Hindia Belanda membuatnya keluar dari pekerjaannya dan bergabung dengan Sarekat Islam (SI) yang didirikan oleh HOS Tjokroaminoto di Surabaya.

Meski menjadi anggota SI termuda, kata Cak Nas, panggilan akrabnya, Semaun sangat menonjol jiwa kepemimpinannya.

Karena memiliki keberanian dalam mengadakan pemboikotan atas hak tanah partikelir yang dikuasai warga Tionghoa dan Belanda, termasuk menggalang pemboikotan kaum buruh dan pekerja di Surabaya dan Semarang.

Sehingga ia terpilih menjadi ketua SI di ibukota Jawa Tengah tersebut.

Akibat pemikirannya yang berhaluankiri, kata Nasrul Illahi, ketika SI terpecah menjadi dua kubu yakni SI merah yang berhalauan sosialis dan SI putih yang masih memegang teguh paham Islam, Semaun berada di SI merah. Sedangkan SI putih di kubu HOS Tjokroaminoto.

“SI merah kemudian berevolusi menjadi PKI dan SI putih berevolusi menjadi masyumi,” terangnya

Perjalanan hidup Semaun berubah saat ia berkenalan dengan tokoh revolusioner Belanda yang antipenjajahan, yakni Henk Sneevliet.

Sneevliet mengajaknya bergabung dalam Iindische Sociaal DemocratischeVereniging” (ISDV) dan Vereniging Van Spoor en Tramweg Personcel (VSTP ).

“ISDV adalah organisasi sosialis Hindia Belanda dan VSTP adalah organisasi buruh dan kereta api. Di mana kedua organisasi tersebut diketuai oleh henk sneevliet. Sejak saat itu Semaun muda berkenalan dan mendalami ajaran sosialisme,” tambahnya.

Dikutip dari Wikipedia, berkat bantuan Presiden Soekarno dan Iwa Kusuma Sumantri, orang kepercayaan Soekarno, pada 1956 Semaun pulang ke Indonesia.

Dia bahkan sempat dimusuhi Dipo Nusantara Aidit pimpinan PKI. Semaun yang ingin merubah PKI lebih humanis akhirnya berlabuh di Partai Murba yang didirikan oleh Tan Malaka.

Namun sejak tahun 1961, Semaun sudah tidak pernah bersentuhan lagi dengan PKI yang masih dipimpin oleh Aidit, Musso dan Alimin.

Semaun bahkan diangkat sebagai wakil ketua Badan Pengawasan kegiatan aparatur negara yang diketuai Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sebelum meninggal pada April 1971, Semaun sempat menjadi dosen Fakultas Ekonomi di Universitas Padjadjaran Bandung.

Semaun (istimewa)

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono

YUK BACA

Loading...