FaktualNews.co

Latah; Penyebab dan Cara Menyembuhkannya

Gaya Hidup     Dibaca : 239 kali Penulis:
Latah; Penyebab dan Cara Menyembuhkannya
FaktualNews.co/Istimewa
Ilustrasi.

SURABAYA, FaktualNews.co – Latah, atau dalam istilah asing disebut dengan istilah jumping frenchmen of maine, adalah kelainan berupa reaksi terkejut yang cukup ekstrem.

Istilah ini pertama kali ditemukan pada akhir abad ke-19 di Maine, Amerika Serikat dan Quebec, Kanada oleh pakar saraf, Dr. George Miller Beard, lansir HelloSehat.

Ucapan KFM
iklan Walikota Pasuruan
iklan RSUD Mojokerto
iklan satlantas jember
iklan-hari-kartini-jember
iklan Ucapan Jember HIPMI
iklan Ucapan Jember BPJS
iklan Ucapan Jember Demokrat
iklan Ucapan Jember

Widya Citra Andini menulis di HelloSehat, orang yang latah akan menunjukkan reaksi yang tak terduga saat ia merasa kaget. Seseorang yang mengalaminya bisa menunjukkan reaksi berlebihan yang tidak biasa. Mulai dari mengulang kata-kata tertentu, mengeluarkan kata-kata jorok, melompat, menjerit, memukul, hingga melempar sesuatu.

Menurut Widya Citra Andini, respon ini terjadi sangat cepat, natural, dan tanpa disengaja atau direncanakan terlebih dahulu terhadap stimulus yang menyebabkannya. Penderitanya tidak mampu mengendalikan kondisinya sendiri sehingga terkadang kata-kata yang keluar tidak terduga, bahkan bisa mengandung kata-kata kotor. Kondisi ini biasanya dimulai setelah masa pubertas atau selama masa remaja.

Tipe latah

Ada beberapa tipe latah yang biasanya terjadi, yaitu:

• Pengulangan kata atau frase tertentu (ekolalia). Misalnya, “Eh copot, eh copot!”.
• Membuat atau meniru gerakan tubuh tertentu (ekopraksia).
• Mengucapkan kata atau frase yang tidak senonoh (koprolalia).
• Mengikuti arahan atau bergerak sesuai dengan perintah orang yang mengagetkan, misalnya lari atau pukul.

Penyebab terjadinya latah

Lebih jauh Widya Citra Andini menyatakan, salah satu teori menyebutkan bahwa kelainan ini terjadi sebagai respon dalam kondisi ekstrem terhadap sesuatu yang dipengaruhi faktor budaya.

Namun, sejauh ini belum ada penelitian dan penjelasan medis yang mendukung penyebab dari gangguan ini. Akan tetapi, kondisi ini sering kali dikaitkan dengan kelainan neuropsikiatrik. Hal ini dikarenakan terkejutnya orang latah dianggap berlebihan dan tidak sewajarnya.

“Faktor genetik dan lingkungan juga disebut-sebut berkontribusi dalam gangguan ini. Teori lain menyebutkan bahwa kondisi ini diakibatkan oleh gangguan neurologis somatik,” tulis Widya Citra Andini.

Dia menyebut, gangguan somatik disebabkan oleh mutasi gen yang terjadi setelah pembuahan dan tidak diwariskan dari orang tua atau diteruskan ke anak-anak. Pengaruh budaya juga disinyalir mampu memengaruhi tingkat keparahan. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan penyebab spesifik dari gangguan ini.

Apa saja faktor yang dapat memengaruhi latah?

Menurut Widya Citra Andini, pada beberapa kasus, orang yang lebih muda cenderung mengalami latah yang lebih sering dan parah. Bahkan, banyak kasus menunjukkan intensitas dan tingkat keparahan akan berkurang seiring dengan pertambahan usia. Intensitas respon juga bisa dipengaruhi oleh kondisi fisik seseorang seperti kelelahan, stres, atau dalam kondisi emosi yang tidak stabil.

Gangguan tersebut dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari penderitanya. Seringkali orang yang mengalami kondisi ini dipancing terus menerus kelatahannya karena dianggap lucu dan menghibur.

“Padahal, hal ini bisa meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan kondisi tersebut dan sama sekali tidak membantu orang yang latah,” tulis dia.

Selain itu, orang yang terus menerus latah juga akan mengalami kelelahan berat jika setiap orang yang ditemuinya memancing gangguannya tersebut.

Apakah latah bisa “disembuhkan”?

“Pada dasarnya tidak ada terapi khusus untuk orang yang latah. Cara terbaik untuk mengurangi reaksinya ialah dengan tidak mengagetkan orang yang memiliki gangguan ini. Kondisi ini akan menurun keparahannya seiring dengan pertambahan usia,” ditulis Widya Citra Andini di HelloSehat.

Namun, jika kondisi ini benar-benar menganggu, keluhan itu bisa dikonsultaskan dengan ke terapis atau dokter guna mengendalikan diri pada saat-saat tertentu.

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Muhammad Sholeh
Sumber
HelloSehat

YUK BACA

Loading...