FaktualNews.co

Pagelaran ‘Macapat’ 75 Jam Nonstop HGN di Sumenep Sabet Rekor Dunia

Advertorial     Dibaca : 140 kali Penulis:
Pagelaran ‘Macapat’ 75 Jam Nonstop HGN di Sumenep Sabet Rekor Dunia
FaktualNews.co/Supanjie/
Penyerahan penghargaan oleh Ketua Umum Leprid, Paulus Pangka (kinan), kepada Kadisdik Sumenep, Carto, di Gedung Ki Hajar Dewantara sebagai lokasi pagelaran macapat.

SUMENEP, FaktualNews.co – Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2020 yang ke-75 digelar Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dengan pagelaran Macapat, menyabet penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) sebagai rekor baru dunia, Rabu (25 November 2020).

Rekor baru ini berdasarkan pegelaran macapat terlama dengan jumlah kelompok yang dilibatkan. Penghargaan diberikan langsung oleh Ketua Umum Leprid, Paulus Pangka, di Gedung Ki Hajar Dewantara sebagai lokasi pagelaran macapat.

Paulus Pangka mengatakan, sesuai catatan pagelaran macapat ini menjadi yang terlama di dunia dengan waktu 75 jam lebih tanpa jeda mulai tanggal 22 hingga 25 November 2020 dan melibatkan 13 kelompok. “Keputusan pagelaran macapat ini sebagai rekor baru dunia melalui berbagai penilaian dan survei,” tuturnya.

Ia juga menambahkan, timnya berada di lapangan untuk melakukan pengecekan secara berkala, baik laporan via telpon, Instagram dan lainnya.

“Yang kita tekankan adalah jangan sampai ada kaset, tapi harus dilakukan secara langsung. Hasilnya sangat baik. Macapat ini tercatat berlangsung sangat lama,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Carto menuturkan, diraihnya rekor dunia pagelaran macapat menjadi kebanggaan tersendiri.

“Ada satu keinginan kami yaitu Macapat ini bisa dilestarikan. Bisa dilestarikan berarti nanti bisa diajarkan, minimal lewat pagelaran ini minimal dari murid tahu bagaimana sih seni Macapat itu,” ujar Carto.

Menurutnya, ke depan pagelaran Macapat dapat ditunjukkan oleh generasi muda di pada setiap even seperti momen hari guru nasional ini. Sebab, kesenian yang satu ini dinilai harus selalu terjaga dan lestari di kabupaten ujung timur pulau Madura.

“Macapat ini kan dimainkan yang sepuh-sepuh. Ke depan ini ada yang saling mengisi, kalau tahun depan mengadakan seperti ini, minimal ada sela yang tua dan yang muda yang main,” ujarnya.

“Berikutnya harapan kami adalah yang tua ini sudah istirahat diganti dengan yang muda, sehingga seni berkelanjutan dan generasi satu ke generasi lain terus saling melestarikan,” tandasnya.

 

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
S. Ipul

YUK BACA

Loading...