FaktualNews.co

Mengenal Tradisi Arak-Arakan Khitanan Suku Osing Banyuwangi

Nasional     Dibaca : 766 kali Penulis:
Mengenal Tradisi Arak-Arakan Khitanan Suku Osing Banyuwangi
FaktualNews.co/Abdul Konik/
Tradisi arak-arakan khitanan Suku Osing Banyuwangi, Sabtu (19/12/2020).

BANYUWANGI, FaktualNews.co – Masyarakat Banyuwangi tetap memegang teguh budaya dan tradisi adat Suku Osing, Suku asli Banyuwangi, salah satunya adalah arak-arakan khitanan.

Tradisi arak-arakan ini sudah di lakukan turun temurun oleh masyarakat Banyuwangi.

Seperti pada Sabtu (19/12/2020) Mohammad Sauki (10) yang sedang melangsungkan khitanannya di arak keliling kampung.

Bak seorang raja Mohammad Sauki diarak keliling kampung dengan menggunakan ogoh ogoh garuda wisnu kencana atau juga bisa pakai kuda yang di hias (jaran kincak) dengan dipanggul empat orang.

Dibagian depan ada barong khas Banyuwangi sebagai pembuka jalan, kemudian disusul ogoh-ogoh yang dinaiki oleh anak yang  sedang di khitan.

Kemudian dibagian belakang ogoh-ogoh ada kuda sebagai pengiring, kuda tersebut ditumpangi oleh saudara-saudara dari pemilik hajatan.

Barulah ditutup dengan musik tradisional Banyuwangi, serta terbang kolosal, diikuti para kerabat serta tetangga yang punya hajat.

Selanjutnya sesampainya di rumah disambut oleh kerabat juga dokter yang akan mengkhitankan diiringi sholawat, ketika usai di sunat, hendak menuju kursi kuade salah satu kerabat menghamburkan beras kuning yang berisikan uang koin yang diperebutkan oleh warga setempat.

Tak ketinggalan sebagai ritual akhir yaitu makan-makanan yang sudah diberi doa (kambuhan) yang berisikan daging, kuah, tekor rebus, serta buah buah2an yang di miliki, wajib di makan semua meskipun hanya sedikit, berharap acara selesai dengan selamat dan berkah.

“Arak-arakan bertujuan untuk menghilangkan mara bahaya, serta memberikan kesenangan kepada anak yang di khitankan supaya tidak ada rasa takut yang berlebihan” jelas salah satu Budayawan Banyuwangi, Adlin Mustika kepada FaktualNews.co, Sabtu (19/12/2020).

Kambuhan sendiri menurutnya, hanya bentuk kepercayaan dari peninggalan nenek moyang, atau leluhur.

Untuk hiburanya sendiri biasanya keluarga yang mempunyai hajat mengundang keseniane keseniane khas Banyuwangi seperti tatiana tradisional gandrung, kuda lumping, janger, Dan masih banyak lagi, masyarakat pun turut serta mengucapkan selamat kepada yang khitan, dan memeberikan sejumlah uang kepada yang di khitan sebagai bentuk kepedulian.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
S. Ipul