FaktualNews.co

Jenazah Kakek di Banyuwangi Masih Utuh Meski Sudah 30 Tahun Dikubur

Peristiwa     Dibaca : 895 kali Penulis:
Jenazah Kakek di Banyuwangi Masih Utuh Meski Sudah 30 Tahun Dikubur
FaktualNews.co/Istimewa/
Jenazah dan kain kafan kakek Soewardi masih utuh meski telah dikubur 30 tahun di pemakaman keluarga Banyuwangi, Jatim, Minggu (20/12/2020).

BANYUWANGI, FaktualNews.co – Jenazah seorang kakek di Banyuwangi masih utuh setelah dimakamkan 30 tahun lalu.

Selain jenazah kain kafan almarhum Soewardi juga masih utuh.

Ucapan KFM
iklan Walikota Pasuruan
iklan RSUD Mojokerto
iklan satlantas jember
iklan-hari-kartini-jember
iklan Ucapan Jember HIPMI
iklan Ucapan Jember BPJS
iklan Ucapan Jember Demokrat
iklan Ucapan Jember

Tak hanya utuh jenazah almarhum juga tidak mengeluarkan bau.

Fenomena ini diketahui setelah makam almarhum di pemakaman keluarga Dusun Truko Desa Karang Sari Kecamatan Sempu, Banyuwangi dibongkar.

Pembongkaran makam kakek Soewardi tersebut dikarenakan akan dipindahkan dari makam keluarga ke makam umum wilayah karena makam istri dan anaknya berada di pemakaman umum.

Salah seorang cucu Soewardi, Dedi Utomo mengungkapkan, sempat kaget dengan kejadian ini, lantaran jenazah almarhum masih utuh kain kafan pun tak ada yang sobek, hanya warna saja yang kecoklatan,

“30 tahun sudah kakek saya meninggal. Saya sempet kaget saat dibongkar karena masih utuh jenazahnya dan tidak ada bau sama sekali, hanya saja warna kain kafan katanya yang kecoklatan, tapi tidak ada yang sobek sama sekali” katanya, Minggu (20/12/2020).

Semasa hidupnya Soewardi menjadi pengurus masjid Baitul Izzah.

Sebelum jadi pengurus masjid, kakek Soewardi aktif menjadi veteran yang berjuang melawan partai komunis Indonesia (PKI), orangnya pun dikenal baik di kalangan masyarakat.

Dedi pun menceritakan kisah semasa kakeknya masih hidup didikan dari kakeknya amat tegas dalam segi agama.

“Saya dulu pernah dipukul karena lebih mementingkan main dari pada sholat dan beribadah. Kakek sangat keras kalau ada anak atau cucunya yang meninggalkan sholat” ungkapnya.

Jiwa nasionalis serta religius tersebut tumbuh karena almarhum adalah keturunan dari Bupati pertama Banyuwangi, yaitu Temenggung Wirogono I atau sering di sebut Mas Alit.

Dedi pun berharap semoga dengan kejadian ini masyarakat lebih menebalkan imanya dalam hal ibadah.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
S. Ipul

YUK BACA

Loading...