FaktualNews.co

Heboh Penemuan Uang Kuno 36,5 Kilogram di Lahan Parkir Warung Kemarang Banyuwangi

Peristiwa     Dibaca : 379 kali Penulis:
Heboh Penemuan Uang Kuno 36,5 Kilogram di Lahan Parkir Warung Kemarang Banyuwangi
FaktualNews.co/Abdul Konik
Tumpukan uang Cina kuno yang ditemukan di lahan parkir Warung Kemarang, Dusun Wonosari, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (2/1/2021).

BANYUWANGI, FaktualNews.co – Seorang pekerja yang membuat lahan parkir di halaman Warung Kemarang, Dusun Wonosari, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi menemukan uang koin kuno seberat 36,5 kilogram, Selasa (2/1/2021).

Pemilik warung, Wowok Meriyanto, yang memerintahkan pekerja tersebut mengatakan, saat itu dia meminta pekerjanya untuk membuat lahan parkir. Saat pekerjanya mencangkul tanah sedalam 1 meter, didapati tumpukan uang Cina kuno yang diperkirakan peninggalan Dinasti Ming dan Dinasti Song.

ucapan idul fitri bank jatim
ucapan idul fitri kasatlantas jember
ucapan idul fitri pasuruan
ucapan idul fitri PUJ
ucapan idul fitri PUPR
Ucapan Idul Fitri RSUD Jombang
Ucapan Idul Fitri Jombang
ucapan idul fitri kapolres jombang
ucapan idul fitri dprd jember
ucapan idul fitri mundjidah
ucapan idul fitri sadarestuwati
ucapan idul fitri rsud mojokerto

Dinasti Ming dan Dinasti Song merupakan dinasi di Tiongkok. Diperkirakan Dinasti Song berdiri pada tahun 960 sampai tahun 1279, sebelum Tiongkok diinvasi oleh bangsa mongol.

“Saya waktu itu ada di ruang kerja. Saya kaget ketika ada teriakan ramai-ramai saat penemuan uang itu. Saya sayangkan, uang tersebut sudah berantakan diambil oleh warga, akan tetapi karena benda bersejarah maka koin-koin itu dikembalikan lagi oleh warga,” kata Wowok Meriyanto, Rabu (3/2/2021).

Atas temuan itu, lanjut Wowok, dia sempat mengkonsultasikan dengan temannya yang dinilai tahu banyak soal benda purbakala dan uang kuno.

Kata temannya, jelas Wowok, temuan uang di lokasi parkir warungnya itu merupakan temuan ter,besar dibanding dengan penemuan uang kuno yang pernah ada di Banyuwangi.

“Katanya, di tempat saya ini penemuan uang koin itu paling banyak . Totalnya ada 36,5 kilogram. Untuk itu akan saya simpan dalam peti kaca dan saya pamerkan di warung sebagai tanda bahwa di sini dulu adalah tempat bersejarah,” ungkap Wowok.

Dikonfirmasi terpisah, ahli Arkeologi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Bayu Ari Wibowo, membenarkan penemuan tersebut. Dia menyebut penemuan uang kuno seringkali ada di Banyuwangi.

“Yang ditemukan itu tergolong uang kepeng, yang di Mana yang tersebut dulunya diimpor dari kerajaan China untuk dipergunakan di kerajaan majapahit. Ciri-cirinya ada tulisan nama kaisar juga nama dinastinya dalam huruf Cina. Tetapi yang ditemukan di Warung Kemarang itu belum kami teliti lebih lanjut terkait jenisnya,” terang Bayu Ari Wibowo.

Bayu mengatakan, penemuan uang Cina kuno seperti di Warung Kemarang itu sebelumnya juga sudah banyak ditemukan di tempat lain. Dia menyebut, saat ini Museum Blambangan memiliki koleksi uang kepeng sebanyak 2.200 keping.

“Kami dari Dinas mendorong untuk setiap desa memiliki museum sendiri sebagai cerminan kearifan lokal. Maka dari itu jika ada temuan barang kuno bisa disimpan dan dibuat museum,” lanjutnya.

Bayu menilai, langkah yang diambil pemilik Warung Kemarang untuk menyimban uang Cina kuno di etalase di warungnya merupakan salah satu cara untuk mengedukasi pengunjung. Itu, jelas dia, untuk memberitahu pengunjung bahwa sejarah Blambangan itu mulai abad ke 14 sampai Abad ke 18.

Bayu Juga mengingatkan bahwa Kaisar China pernah mengutus seorang saudagar bernama cheng ho.

“Adanya kedatangan saudagar tersebut mungkin saja hal itu yang awalnya mengenalkan uang kepeng di bumi Blambangan,” imbuhnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, selain uang kepeng dengan ciri-ciri tulisan nama dan dinasti kaisaar dalam huruf Cina, dikenal juga uang kuno yang disebut dengan uang gobob.

“Uang gobob bentuknya lebih besar dengan permukaan ada relief wayang atau (karakter) Majapahit,” pungkas dia.

 

Iklan Cukai Lamongan

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Muhammad Sholeh

YUK BACA

Loading...