FaktualNews.co

Wacana Festival Santet oleh Perdunu, Disbudpar Banyuwangi Gelar Krarifikasi

Peristiwa     Dibaca : 375 kali Penulis:
Wacana Festival Santet oleh Perdunu, Disbudpar Banyuwangi Gelar Krarifikasi
FaktualNews.co/konik
Pertemuan klarifikasi wacana Festival Santet, di Disbudpar Banyuwangi

BANYUWANGI, FaktualNews.co–Ribut-ribut soal berdirinya Perdunu (Persatuan Dukun Nusantara) Rabu (3/2/2021) kemarin di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, yang salah satu agendanya menggelar Festival Santet, memicu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi menggelar klarifikasi, Senin (8/2/2021).

Dalam acara tersebut turut hadir Kepala Kesbangpol Aziz Hamidi, Ketua MUI Banyuwangi KH M Yamin, pihak Perdunu, serta perwakilan sejumlah ormas.

Kadisbudpar Banyuwangi Bramuda menyampaikan tujuan berdirinya Perdunu baik, karena ingin meluruskan hal-hal negatif dan mengedukasi masyarakat. Akan tetapi istilah Festival Santet yang direncanakan memberikan respon negatif di masyarakat. Pihaknya juga sudah memberikan pemahaman bagaimana dampak festival tersebut terhadap kesan Banyuwangi ke depan.

“Nanti teman-teman Perdunu yang kemarin deklarasi akan melakukan rapat internal kembali untuk mengevaluasi masukan-masukan yang digagas oleh berbagai pihak. Bagaimana cara berorganisasi, bagaimana cara melakukan kegiatan festival, termasuk bagaimana menelaah tentang kaidah-kaidah makna dukun yang menjadi khazanah “tindak baik” yang disematkan ke dalam organisasi,” kata Bram.

Ketua Umum Perdunu, Gus Abdul Fatah Hasan menjelaskan kehadiran Perdunu untuk meluruskan stigma negatif masyarakat terhadap praktik perdukunan. Karena pihaknya prihatin, tidak sedikit aktivitas dari perdukunan berpotensi terjadinya penipuan.

“Kalau kita lihat di masyarakat banyak sekali cerita orang yang terkena tipu dari aktivitas perdukunan. Ini alasan kami mendirikan organisasi ini, harapan kami bisa memberikan edukasi kepada masyarakat, memberikan wadah kepada para praktisi dunia dukun dan perdukunan,” katanya.

Ia juga menjelaskan, istilah dukun tidak semua bermakna negatif, ada dukun bayi, ada dukun pijat, ada dukun jampi dan seterusnya. Itu semua masuk dalam dunia perdukunan.

“Kalau kita berbicara dukun, berarti pengobatan tradisional seperti hipnoterapi. Ini juga masuk pada segmentasi ini. Kemudian teman-teman yang mulai berinteraksi dengan banyak aliran yang paling banyak adalah muslim. Kita juga mengadakan aktivitas rutinan pengajian, zikir dan seterusnya. Ini mampu memberikan literasi kepada mereka,” ungkapnya.

Namun, apa yang diinginkan pemerintah daerah sudah disadari olehnya. Mereka akan segera membahas kembali, baik nama dan program-program yang sudah diusung Perdunu. “Kami apresiasi terkait dengan usulan yang disampaikan pemerintah daerah, kami akan melakukan rapat internal,” pungkasnya.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono

YUK BACA

Loading...