FaktualNews.co

Terpidana Korupsi Pajak Penghasilan Fiktif Rp 1,7 M Ditangkap di Tegalsari Surabaya

Hukum     Dibaca : 273 kali Penulis:
Terpidana Korupsi Pajak Penghasilan Fiktif Rp 1,7 M Ditangkap di Tegalsari Surabaya
FaktualNews.co/risky prama
Terpidana kasus korupsi  PPh fiktif saat tiba di Kejaksaan Negeri Surabaya

SURABAYA, FaktualNews.co – Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, dipimpin Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, menangkap terpidana tindak pidana korupsi pajak penghasilan (PPh) fiktif Rp 1,7 milliar, di Tegalsari, Surabaya, Rabu (24/2/2021).

Terpidana tersebut adalah Notaris Johanes Limardi (JL). “Terpidana kita tangkap di wilayah Tegalsari, setelah tiga hari kita lakukan pengintaian,” kata Kepala Kejari Surabaya Anton Deliano dalam jumpa persnya, Rabu (24/2/2021).

Anton menjelaskan, terpidana diamankan berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA). Dalam putusan, tTerdakwa notaris Johanes Limardi, dihukum empat tahun penjara.

Selain itu hakim agung MA juga mewajibkan terdakwa membayar Rp 200 juta. Apabila tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan enam bulan.

Vonis ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Surabaya, yakni satu tahun enam bulan penjara.

Kasus ini berawal dari proses jual beli tanah dan bangunan di jalan Kedung Asem 7 Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut pada Mei 2015. Tanah seluas 3.145 M2 milik PT. Logam Jaya dibeli PT. Royal Star Paragon Regensi seharga Rp 20 Milliar.

Proses perjanjian jual beli dilaksanakan di depan tersangka Notaris Johanes. Saat itu PT Logam Jaya menitipkan uang PPh final Rp 1,79 Milliar kepada tersangka Johanes berupa cek BCA.

Ternyata cek itu diserahkan Johanes kepada Joko Sutrisno seorang freelance untuk dicairkan.

Johanes kemudian mendapatkan bukti setoran pajak (SSP) fiktif Bank Jatim dari Joko yang diterima dari tersangka Andika Waluyo. Sebagai imbalan permainan pajak ini, Johanes mendapatkan pengembalian uang setoran (cash back) Rp 719 juta yang diterima di rekening BCA milik Johanes.

Sedangkan peran tersangka Edi Suyanto, sebagai perantara untuk membikin validasi palsu. Penyidikan yang dilakukan tim Pidsus Kejari Surabaya terhenti dari keterangan Edi.

Kepada penyidik, tersangka Edi mengaku proses validasi tersebut diserahkan kepada seseorang yang disebut bernama ‘Om’.

Baca berita menarik lainnya hasil liputan
Editor
Sutono
Tags